[Ocehan Tak Lucu] Gaya Pacaran Anak Sekarang


Kawans masih ingat dengan ceritaku tentang si bongsor, keponakan cowokku yang obrolannya tentang [Ocehan Tak Lucuc] Anak Sudah Remaja? yang membuat kita yang udah agak ‘umur’ ini jadi senyum kecut.

Nah, beberapa waktu lalu, si ponakan yang asyik main game, di tegur sama mamaknya, “kau istirahat dulu nak, kasihan matamu itu”. Si ponakan mengangkat kepalanya dari laptop, kemudian memonyongkan bibirnya ke arah mamaknya, “mmmuachh”, sambil senyum-senyum.

Si mamak agak heran, biasanya kalo diingatin agar istirahat dari main game, si bongsor pasti banyak alasan, “entar Mam, tanggung nih, dikit lagi”, sampai setengah jam kemudian, dia belum juga memberikan tanda-tanda mau menyudahi permainan gamenya. Si mamak akan mengingatkan lagi dengan nada suara sudah naik beberapa oktav alias teriak. Kalo mamaknya udah begitu, ponakan akan ngingatin balik mamaknya, “Mama, kalo marah-marah, bukan hanya cepat tua, tapi ntar kayak singa lho”. *hadeeh*. Si mamak hanya bisa mendelik pada anaknya yang belum akil baliq kalo sudah begitu.

Gaya Pacaran Anak Sekarang

Tapi, kali ini, si bongsor malah mengajukan pertanyaan dengan wajah masih senyum-senyum, “Mama papa udah pernah ciuman yaa” *maksud dia, ciuman bibir*. Aku perhatiin, mamak si bongsor narik nafas sebentar sebelum ngejawab pertanyaan itu, “udah dong, kan mama papa udah menikah, ciuman itu kan boleh bagi mereka yang sudah menikah. Makanya kamu lahir. Emangnya kenapa menanyakan itu?”.

Si bongsor menunjukkan wajah serius, kemudian menyampaikan pendapat yang sepertinya dia dapat dari hasil analisa memperhatikan lingkungan sekitar, “yaa, mama,, kalo anak sekarang, gayanya beda. Mereka bilang I love you, kemudian langsung, muach, muach, muach” *maksudnya saling kiss*, dengan memperagakan bibirnya sampai monyong-monyong.

Mamak si bongsor aku lihat terus menunjukkan wajah serius, kemudian memberikan respon, “emangnya kalo menurut kamu, gaya pergaulan seperti itu gimana?”. Ternyata, si bongsor langsung menunjukkan wajah bergidik, “idiiih,, itu kan bukan muhrim”.

Sepertinya si mamak ingin memasukkan pesan positif ke anaknya, “kalo masih sekolah, ngapain pacar-pacaran. Berteman dulu aja yang banyak. Nanti, kalo udah punya penghasilan, mandiri, kalo mau menikah sama yang cocok, langsung dilaksanakan. Sebelum itu terjadi, aurat anak laki-laki dan anak perempuan itu kan harus selalu di jaga kan. Seandainya umurnya pendek, meninggal, trus dalam kubur ditanya, bagaimana penggunaan anggota tubuh yang sudah dipinjamkan selama di dunia. Cara ngjawabannya gimana tuh kalo udah cium sana, cium sini. Kan dalam kubur udah ga bisa bohong”.

Si bongsor yang mendengar ‘wejangan’ mamaknya, mengangkat bahu, “ga tau tuh, tapi gaya pacaran anak sekarang emang seperti itu, Mam”. Mamak si bongsor kembali mengingatkan, “makanya, matamu, telingamu, diberikan tontonan yang sesuai haknya. Janganlah lihat yang tak pantas di lihat dan di dengar”. Si bongosor hanya angkat-angkat bahu sambil mengambil camilan. Ia pun asyik dengan hobi ngemilnya.

Sementara aku jadi berfikir mendengar pembicaraan tersebut, ternyata, anak sekarang, lebih terbuka dalam menyampaikan apa yang mereka pikirkan. Kalo orang tua atau guru yang tidak siap mendengar pertanyaan atau pernyataan seperti itu, bisa saja si anak akan dianggap tidak sopan, karena telah membahas atau memikirkan hal yang belum pantas. Hasilnya, anak akan menjadi ‘pesakitan’, padahal ia hanya bertanya atau ingin tau, belum melakukan hal-hal tersebut. Jadi orangtua di jaman sekarang, harus pinter, haru bisa jadi teman bicara yang nyaman bagi anak remajanya.

Iklan

[Ocehan Tak Lucu] Anak Sudah Remaja?


Seorang keponakan cowok yang masih duduk di bangku kelas 6 SD, sempat membuat saya senyum-senyum sendiri melihat tingkahnya. Badannya termasuk bongsor untuk anak kelas 6, 152 cm dan berat 60 kg *agak ndut malah*. Belum akil baliq, tapi, secara penampakan, kalau dalam kondisi diam, sosoknya sudah seperti anak SMP kelas 3 atau kadang dibilang sudah kelas 1 SMA. Akan tetapi, kalau sudah bersuara, tingkah anak-anaknya akan terlihat jelas. Orang yang tak tau usianya, akan bingung melihat tingkahnya yang masih sangat ke kanak-kanakkan *ya iyalah, masih anak-anak ❓ *. Terkadang ia sok merasa sudah remaja lho.

Salah satu tingkah transisi dari kanak-kanaknya akan terlihat jika jalan bareng mamaknya. Awalnya, dengan senang hati ia akan sedang di gandeng mamaknya, bahkan tangan si mamak akan diayun-ayunkan dengan semangat. Tapi, jika ketemu orang, spontan tangan mamaknya di lepas sambil berbisik, “tanganku jangan di pegang dong, Mam. Udah remaja kan?”, sambil jalan dengan gaya sok coool.

Remaja, Kuncup Mau Mekar

Melihat hal itu, si mamak kadang suka menggoda, “Justin Bieber juga udah remaja, dikenal oleh seluruh remaja dunia. Ia bangga tuh jalan sambil menggandeng tangan mamaknya, mana di sorot kamera lho”. Dengan cueknya si ponakan merespon, “kalo artis kan perlu pencitraan Mam. Aku kan anak mama, bukan Justin Bieber”. Si mamak hanya bisa geleng-geleng kepala sambil kehilangan kata-kata.

Dilain waktu, si ponakan mau main ke luar rumah *taman yang ada di komplek perumahannya*, berpamitan, “Mam! Aku main keluar yaa”, sambil masukin handphone yang biasa dipakai untuk main game ke kantong celananya. Si mamak langsung berkomentar, “main diluar, apa perlunya kau membawa hp segala?”. Si ponakan merespon komplain mamaknya dengan gaya santai, “tenang mam, aku kan sudah remaja, biar terlihat gaya”, sambil naik-naikkan kedua alisnya. Si mamak hanya bisa garuk-garuk kepala yang tak gatal, soale, kalo di nasehati lagi, pasti ada aja alasan si anak.

Pulang dari bermain, setelah mandi, si anak diminta makan sama mamaknya. Si ponakan langsung menunjukkan wajah memelas, “makannya di suapin yaa Mam. Anak ganteng Mama ini kan masih anak-anak”. Mamaknya langsung ngomel, “tadi waktu pamit main, kau ngaku udah remaja. Anak remaja kan malu kalo makan masih disuapin?”.

Dengan nyantainya si ponakan ngelesh, “aahhh, Mama. Itu aja dianggap serius, mama kan lebih tau anaknya, masa mama lupa, kata Pak Guru, anak cowok itu disebut remaja, kalo udah akil baliq, kalo udah mimpi masah. Aku kaan belom, masih anak-anakkan?”, sambil nyengir. Si mamak kembali narik nafas dalam, geleng-geleng kepala dan nyuapin anak cowoknya yang saat ini ngaku masih anak-anak 😛 .

Kawans, baca juga [Ocehan Tak Lucu] Kebelet Ingin Jadi Pemimpin yaa.

Kelakuan anak-anak sok remaja si bongsor ternyata tidak sampai disitu. Kalo mau tidur, dengan gaya sok remajanya, ia pamitan sama mamaknya, “malam mama, aku mau tidur nih”, sambil cium pipi kiri kanan mamaknya. Kemudian ia nyodorin jidatnya untuk di kecup si mamak. Mamak akan ngingatin anaknya, “sebelum tidur, jangan lupa baca do’a yaa”.

Si ponakan jalan ke kamarnya, ga nyampai 5 menit, ia udah teriak, “Mam! Sini dulu deh”. Si mamak yang udah hapal kebiasaan anaknya yang satu itu kalo mau tidur, gantian ngelesh, “anak remaja, udah harus bisa tidur sendiri!”. Ternyata, si ponakan, kalo ada mamaknya di rumah, saat ia mau tidur, ia belum bisa tidur kalo punggungnya belum di garuk-garuk oleh tangan mamaknya. Tapi kalo mamaknya ga ada, yaa, langsung tidur ajaa. Kebiasaan seorang anak yang agak sulit dimengerti oleh orang dewasa yang sibuk.

Duh, ponakanku, tingkahmu itu masih lucu sebagai anak-anak, nikmati aja, ga usah ngaku-ngaku udah anak remaja kalo lagi ngelesh sama mamakmu 😉 . Remaja itu ibarat kuncup yang mau mekar, jangan sampai layu sebelum berkembang yaa, nikmatilah proses pertumbuhanmu ❤ .

[Ocehan Tak Lucu] : Cewek Merajuk Manja Kepada Cowok


[Ocehan Tak Lucu] : Cewek Merajuk Manja Kepada Cowok, merupakan hasil pengamatan dari lirikan mata dan telinga saya *udah kayak detektif aja* saat menunggu di sebuah ruangan kantor pelayanan jasa pemerintah, bagian pengurusan dokumen.

Saya datang ke kantor tersebut di detik-detik terakhir mau jam istirahat makan siang. Berhubung belum punya pengalaman dalam mengurus surat-surat tersebut secara mandiri, saya memutuskan menunggu di dalam ruang tunggu yang disediakan. Disana juga banyak pengurus dokumen lain melakukan hal yang sama dengan saya, menunggu.

Saat mau mencari tempat duduk untuk menunggu ini, saya memilih yang paling strategis menurut saya. Bisa melihat keluar dan seluruh ruangan dengan pandangan bebas.

Saya pilihlah bangku yang dekat dengan pintu masuk. Disana sudah duduk seorang cowok yang sedanga asyik memainkan beberapa hp di tangannya *lebih dari satu 😛 *. Baca lebih lanjut