Solo Traveling, Bebas Mati Gaya di Penginapan Dengan Traveloka Xperience


Solo Traveling Seru Traveloka Xperience

Traveling itu memang sangat seru bersama teman seperjalanan. Akan tetapi, selalu ada kondisi yang mengharuskan kita untuk melakukan perjalanan sendirian alias solo traveling. Apesnya, kalau perjalanan sendiri itu secara mendadak, tanpa direncanakan sebelumnya. Dalam situasi seperti itu pasti bingung mau ke mana dan melakukan apa. Karena merasa ga nyaman, akhirnya memilih diam di penginapan sambil menghitung detik yang terlewatkan percuma dalam rasa bosan. Jika saat itu di ponselmu selalu ada aplikasi Traveloka Xperience, Kamu akan terbebas dari rasa mati gaya seperti itu!

Pengalaman Pertama Tak Mengenakkan di Surakarta, Tertinggal Bus. Harus Menunggu Selama 12 Jam Dengan Bengong

Aku ke Solo sendiri untuk pertama kalinya sekitar 17 tahun yang lalu. Baca lebih lanjut

Iklan

[Inspirasi] : Kecewa Karena Kenyataan Tak Sesuai Harapan?


Kawans, sudah sering mendengar jika salah satu penyebab dari kekecewaan itu adalah karena kenyataan yang diterima, tidak sesuai dengan harapan yang sudah lama diimpikan.

Saya baru saja merasakannya beberapa waktu lalu,,

Sebagai manusia, suka menghitung segala sesuatunya, saya pun mulai berhitung dengan data-data yang ada, yang sudah saya miliki, rujukannya hasil yang sudah di dapat. Saya pun mendapatkan perkiraan kasar, berapa yang akan saya terima nantinya. Range terendah dan tertingginya sudah saya ketahui. Saya sangat senang dong!

Kecewa Karena Kenyataan Tak Sesuai Harapan

Genangan air di tanah berlumpurpun masih bisa memantulkan dedaunan pohon yang melambai diatasnya, asalkan ada ‘cahaya’. Harapan boleh, tapi tetap berpijak ke bumi. Manusia hidup karena adanya harapan 🙂

Baca lebih lanjut

Kalimat Renungan: Merasa Hebat, Menyombongkan Diri Pada Mereka Yang Kurang Mampu?!


Kawans, tulisan ini hanyalah sebuah catatan bagi dizaz, sebagai kalimat untuk direnungkan. Kadang, saat emosi sedang down, kita sering lupa, mudah tersulut oleh hal-hal kecil. Mungkin itu sebabnya para tetua dulu menganjurkan anak-anaknya yang terlihat galau, untuk lebih mendekatkan diri pada keyakinan yang dianut. Bagi seorang muslim, diminta untuk berwudhu dan tunaikan sholat. Bagi mereka yang beribadah ke Vihara, kuil, gereja, diminta untuk ke tempat ibadah masing-masing, daripada menenangkan diri dengan berkeliaran di keramaian.

Kalimat Renungan, Merasa Hebat, Sombong Pada Orang Kecil

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang bapak yang mengeluh pada salah satu tetangga, *saya nguping pembicaraan mereka :mrgreen: *, si bapak ini minta pasir bekas ayakan yang sudah tidak dipergunakan lagi oleh tetangga *baru selesai berbenah teras rumahnya* untuk nimbun lantai warung tempat istrinya berdagang. Terjadilah dialog seperti berikut:

Si bapak: “siapa sih itu *nunjuk rumah tetangga lainnya, yang juga habis berbenah*, belagu amat gayanya”.

Tetangga: “o, kampungnya didaerah ,,,, tetangganya bapak R. Emang ada urusan apa sampeyan sama dia?”.

Si bapak: “suaminya minta dibeliin karung plastik untuk tempat pasir bekasnya, saya beliin. Kata dia, nanti duitnya minta ibu. Saya setuju aja, malah dia minjam serok bapak untuk masukin pasirnya. Semalam, saya ke rumahnya, minta uang karung ke istrinya. Eh, istrinya marah-marah, siapa yang suruh, dia ga mau bayar, ambil aja lagi karungnya, pasirnya dituangkan aja. Lha, yang masukin pasir suaminya, saya cuma bantu beliin karung, giliran duitnya ditagih, malah memarahi saya. Bukan nanya lakinya. Saya bilang, udah bu, saya ikhlasin aja uang karungnya, kalau mau nuangin pasirnya, biar suami ibu aja. Tak tinggal. Gayanya sombong amat. Dia malah ingin tau kenapa saya beresin pasir milik bapak, saya bilang itu karena saya minta dan dikasih”.

Tetangga: “udah, nanti saya ganti uang sampeyan. Si ibu itu memang suka seperti itu, kalo tidak dia yang buat kesepakatan. Dia juga pernah marahin toko material gara-gara pasir yang dia pesan, di turunkan orang-orang kampung. Padahal sebelumnya, kulinya udah ijin ke dia dan dia setuju, giliran diminta upah seikhlasnya, dia ga mau bayar, katanya itu tanggung jawab yang jual pasir. Si ibu sampe nelpon tempat ia beli pasir dengan suara terdengar kemana-mana, minta di potong pembeliannya dua puluh ribu, buat upah yang nuruni. Sopir pick-up yang ngantar pasir, hanya bisa bengong, karena biasanya itu tanggung jawab pembeli, dia cuma ngantar. Kuli yang nurunin pasir, ucapannya sama kayak sampeyan, udahlah bu, kami ikhlasin aja”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk membaca kelanjutannya :