Liburan di Hotel Puncak? Nikmati Dingin & Beningnya Air Curug Cibulao


Curug Cibulao

Si Mamah serasa ‘model’ di curug Cibulao

Liburan ke daerah pegunungan yang berhawa sejuk seperti daerah puncak, merupakan hal yang biasa bagi warga Jakarta dan sekitarnya.

Bahkan, keluargaku yang masih tinggal di Kabupaten Bogor pun, jika ingin membuat kepala kembali fresh, liburan tipis-tipisnya juga memilih menginap barang semalam di hotel di daerah puncak.

Tapi, bukan hanya sekedar pindah tidur, melainkan melengkapinya dengan petualangan wisata curug yang belum dikunjungi, yang ada di sekitar Puncak.

Pilihan petualangan kali ini jatuh pada curug Cibulao. Aku penasaran oleh curug yang dibilang airnya terlihat biru, jernih, dan dingin. Aku dan mama ingin memastikan kebenaran cerita tersebut. Kami juga ingin tahu, apakah badan ini kuat untuk menikmatinya. Tidak akan menggigil kedinginan.

Hal Yang Perlu Dilakukan Sebelum Wisata Curug

Curug itu umumnya terletak di daerah pegunungan dan hutan lebat. Biasanya, sebelum main ke curug, mamaku melakukan hal berikut.

  • Mencaritahu lokasi curug yang dituju.
    Apakah bisa dicapai dengan panduan Google Map, atau cukup banyak bertanya ke penduduk sepanjang perjalanan.
  • Memastikan kondisi medan menuju curug.
    Nyari inforseberapa jauh curug bisa diakses dengan kendaraan bermotor dan berjalan kaki. Tujuannya, untuk mengukur kemampuan fisik.
  • Melakukan persiapan.
    Persiapan fisik juga, jangan sampai kaget ketika dipakai jalan untuk menanjak atau menurun. Juga mempersiapkan bawaan yang diperlukan, sandal/sepatu anti slip, obat-obatan buat jaga-jaga (obat luka, minyak tawon/kayu putih), baju ganti, camilan, minuman. Serta atribut yang mau dipakai buat pepotoan. Dan, penutup ponsel kedap air *si mama selalu lupa yang ini :mrgreen: *.

 

Foto Narsis di Curug Cibulao

Persiapan Sudah Matang, Tapi Ada Aja Yang Terlewatkan

Karena jarak tempuh ke curug dari rumah memakan waktu sekitar 2 jam-an, dan check-in hotel juga sekitar jam 3 sore. Kami yakin bakal punya waktu lebih bermain di curug dan menjelajah daerah sekitarnya.

Kami pun merencanakan untuk jalan pagi. Setidaknya pukul 6.00 WIB sudah keluar rumah, agar sampai curugΒ  saat curug mulai buka, pukul 8.00 WIB.

Apa daya, rencana tinggal rencana, lupa tetaplah sifat manusia 😳

Berangkatnya telat 30 menit dari rencanan, pukul 6.30 WIB.

Udah jalan lumayan jauh, si papah baru ingat kalau kartu tol ketinggalan, tadi di taroh di atas meja. Si mamah ngusulin lewat jalan biasa aja. Papa ga mau, pasti bakal kelamaan di jalannya.

Lihat kiri kanan jalan, belum ada minimarket yang buka. Lanjut jalan, ada beberapa mini market yang sudah buka, tapi stok kartunya kosong. Phiuf.

Masak mau balik lagi?
Untung si mama ingat, kalau kita bakal melewati banyak perumahan-perumahan besar. Di sana pasti ada mini market yang jual.

Mungkin karena efek liburan, orang banyak bepergian, hanya ada satu mini market yang masih punya stok, itupun tidak seperti yang ingin dibeli. Tak apalah.

Lanjut masuk tol Jagorawi. Lancar. Agak tersendat mau masuk Ciawi.

Pemandangan hijau sepanjang jalan ke curug Cibulao

Serasa ‘Offroad’ Menuju Lokasi Curug Cibulao

Curug Cibulao berada di puncak bukit Paseban Megamendung Puncak, Kabupaten Bogor.

Jalan menuju lokasi curug Cibulao ini sangat bisa ditelusuri dengan mengikuti petunjuk google map.

Kemarin itu, ketika mendekati Megamendung, penunjuk arah di ponsel juga memberitahukan arah alternatif persimpangan, belokan ke arah kiri yang ada plang tulisan menuju Unilever Learning Centre. Tapi, rute ini agak lebih jauh dikit.

Kami lebih memilih jalur utama yang ditunjukkan mbah google, belokan ke kiri nya setelah pertigaan alternatif yang ditunjukkan. Dan akan sampai di tujuan sekitar 45 menit kemudian.

Gerbang Selamat Datang Curug Cibulao

Kami berbelok. Jalannya sempit, menanjak terus, bahkan ada beberapa tanjakan super tajam, juga belokannya *ya iyalah, kan menuju puncak bukit πŸ˜› *. Bikin hati lumayan kebat kebit.

Jika ada kendaraan roda empat berpapasan, salah satu harus menepi di tempat yang pas. Sayangnya, tempat untuk menepi itu tidak selalu ada di sepanjang jalan ini. Beruntung sekali kemarin itu bukan weekend, jadi jalan lumayan sepi.

Jalannya beraspal, tapi ada beberapa titik yang aspalnya mulai tergelupas.

Kendaraan kami sempat berhenti mendadak pas di tanjakan yang jalannya agak rusak.

Si papah kaget dengan tanjakan yang terjanyata tajam, telat mengoper gigi kendaraan dari dua ke satu. Si mamah respek melompat turun, dan mengganjal roda belakang dengan batu yang ada di situ. Sepertinya, tanjakan itu lumayan sering membuat pengendara agak kaget. Batu untuk ganjal sudah tersedia :mrgreen: .

Sebenarnya, si papah hanya terhenti sebentar, setelah memindahkan ke gigi satu, kendaraan pun jalan. Tentu saja si mamah yang turun tertinggal di belakang 😳 .

Kami berhenti di tempat yang memungkin, itu setelah tiga tanjakan. Berhenti di depan pintu pagar salah satu villa yang ada di situ, menunggu si mamah yang muncul dengan nafas ngos-ngosan πŸ˜† . *kasian-kasian-kasian*.

Curug Cibulao dari Ketinggian

Aku bersuara, “ngapaian mama turun? Papa kan hanya telat ngoper ke gigi rendah doang”.

“Kirain tadi kendaraannya bakal mundur, kan serem. Ntar kena pengendara motor yang di belakang kita :mrgreen: “.

“Ih, si mama, ga percaya sama kemampuan suami sendiri”.

Mama sepertinya agak keder melihat jalan kecil menanjak yang masih harus dilalui. Diperkirakan waktu tempuhnya sekitar 25 menit lagi.

Mama ngusulkan untuk balik arah aja. Ngeri kalau jalan di depan semakin parah.

Aku bersuara, “jalannya kan beraspal, Mam. Gak apa-apa atuh”.

Papa juga meyakinkan, memastikan dengan bertanya ke warung yang ada di depan kami berhenti.

Perjalanan lanjut.

Ketemu percabangan jalan, penunjuk arah di ponsel menyuruh kami mengambil jalur kiri yang menurun. Kebetulan, pada persimpangan itu ada juga plang yang memberitahukan bahwa itu arah ke curug Panjang. Curug Cibulao harus milih yang arah kanan, yang jalannya menanjak.

Berada pada pilihan sulit seperti itu, papa memilih menepi. Mama turun dan bertanya pada pemilik warung yang ada di situ.

Ibu warung tampak sangat ramah memberitahu si mama. Benar. Curug Cibulao harus naik lagi, di atas ada tempat parkirnya juga.

Ketika kami memilih jalur yang ditunjukkan itu, penunjuk arah di ponsel juga menyesuaikan 😳 .

Pemandangan area curug Cibulao

Eits, kami bertemu dengan percabangan lagi.
Arah yang harus di pilih kali ini adalah tanjakan lumayan tajam dan berbelok, aspalnya agak mengelupas.

Sedangkan, di belakang kami ada kendaraan yang keluaran baru, yang memang sangat cocok untuk medan seperti itu. Kalau kata aku sih, itu kendaraan cucunya kendaraan yang kami gunakan. Yang namanya cucu, tentu masih muda, larinya gesit dan lincah πŸ™‚ .

Daripada menahan laju perjalanan orang. Si papah juga memilih menepi di jalan yang kondisinyaΒ  curam itu. Mempersilahkan mobil di belakang kami untuk lewat.

Apes!
Ketika si papa mau lanjut jalan, ban kendaraan yang sebelah kiri, yang berada di tanah berumput, malah seperti ditahan oleh tanah yang tertutup rumput itu. Ban sampai berbau dan berasap. Kendaraan terperangkap ‘rumput jebakan’ :mrgreen: .

Kali ini aku dan mama turun.
Mama menaruh batu- batu kecil di depan ban, aku membantu mendorong kendaraan.
Hasilnya. Nihil.

Ibu-ibu yang ada di warung pertigaan situ sampai keluar dan bersuara, “jangan terlalu ke pinggir kalau berhentinya, tanahnya lembut. Suka ada yang kejebak seperti itu”.

Kami tersenyum mengangguk.

Si papah turun, dan memeriksa kondisi ban yang terjebak tanah berumput itu, serta posisi berdiri kendaraan.

Si papah meminta kami menjauh, dia bilang, kondisi seperti itu mudah dilewati, tapi kendaraan mundur dulu.

Papa memundurkan kendaraan ke arah kanan yang beraspal. Lancar aja ban kendaraan berpindah.

Anak istri yang mbantuin dari tadi, rupanya ga punya ilmu mengantisipasi kendaraan terjebak tanah berumput 😳 .

Jalan terus menanjak.

Pemandangan hijau.
Bagian kiri jalan adalah lembah, ada yang tertutup pohon. Ada yang memperlihat bebatuan aliran sungai. Ada bagian yang memperlihatkan atap-atap perkemahan, ada yang atap villa. Tentu juga ada jurang dalam, tanpa dibatasi oleh semak pinggir jalan.

Si mama yang duduk di bangku tengah, berkali-kali ngingatin papa agar berhati-hati.

Menurut aku, perjalanan menuju curug Cibulao ini serasa offroad tipis-tipis. Lumayan memacu adrenalin yang ditemani oleh sejuknya udara pegunungan.

Akhirnya, tanda penunjuk arah di ponsel memperlihatkan kami sudah sampai di area lokasi curug. Kontur jalan tetap menanjak, tapi bahu jalan agak lebar, walau masih tanah.

Gerbang Pertama Curug Cibulao

Tak berapa jauh di arah depan, ada dua orang anak laki-laki yang seperti mau mengarahkan parkiran. Hanya saja, posisi kendaran kami masih berada di area pintu salah satu villa yang ada di situ. Mereka pun berdiri dalam posisi menunggu.

Mama turun, menghampiri dua anak yang berdiri dekat sebuah pondok itu, berbicara. Mama kemudian menoleh ke arah kami, dan mengangguk. Si mama mulai memoto.

Undakan Anak Tangga dan Jalan Berbatu Menuju Curug Cibulao

Mama kembali ke kendaraan, memberitahukan bahwa dekat pondok di depan itu adalah gerbang menuju curug Cibulao. Sedangkan jalan ke atas masih ada beberapa villa, juga ada area untuk memutar balik. Setelah itu jalan buntu.

Lokasi curug masih 200-an meter lagi turun ke bawah, melalui tangga berbatu. Di sebelah kiri lahan villa, sedang sebelah kanan jalan adalah area perkebunan tanaman palawija.

Papa yang melihat kondisi perjalanan yang terus menanjak, memilih ga ikutan turun ke curug.

Jalan Mendaki dari Curug Cibulao

Aku dan mama pun mengendong tas berisi perbekalan.
Kami jalan santai menuju curug.

Bertanya tentang tiket masuk curug pada dua anak yang tadi mengarahkan parkiran, ternyata loketnya ada di area bawah.

Kami jalan menuruni anak tangga dan jalan berbatu yang kadang berbelok dan turun. Menoleh ke belakang, “wow, anak tangga dan jalan yang sudah dilewati itu, terlihat lumayan tinggi tanjakannya 😳 .

Di depan, ada tanda yang menyatakan masih 150 meter lagi.
Semangat.
Akhirnya, bertemu gerbang kayu yang dihiasi tanaman suplir.

Kami berhenti sebentar untuk mengambil foto.

Setelah melewati gerbang kedua itu, terlihat di area bawah ada pondok-pondok, areanya lumayan luas dan tertata.

Di lokasi ini, anak tangga menurun tajam. Arah kanan agak landai, tapi sedikit memutar.

Kami memilih tangga turun yang kiri, curam, dan berbelok tajam.

Walaupun begitu, undakan anak tangga berbatu yang disusun itu, sangat aman untuk dilalui, bahkan dalam kondisi hujan sekalipun. Hanya saja, area ini mungkin akan diselimuti kabut tebal, kan lokasinya berada di puncak perbukitan.

Tiket Masuk & Fasilitas Curug Cibulao

Setelah melewati tangga turun yang lumayan tajam itu, kami disambut area datar agak lumayan luas yang tadi tampak dari atas.

Kami melihat penunjuk arah yang terbuat dari kayu, yang juga dipasang pada pokok kayu yang sudah kering.

Loket Karcis Curug Cibulao

Ada juga pengumuman tentang tata tertib mengunjungi curug.

Sisi kanan, tempat jalan turun agak melingkar yang terlihat di atas tadi, ternyata area jungle track dan area camping.

Bagian dekat tangga kami turun tadi, ada pondok orang berjualan. Saat itu ada dua orang bapak yang sedang asyik mengobrol.

Di depan warung inilah loket karcis. Jalur ke pintu loket diberi pagar. Tujuannya, untuk antisipasi, jalan pemisah antara pengunjung yang baru datang dan mau ke curug, dengan pengunjung yang sudah selesai dari curug. Biar ga menumpuk dan bertabrakan.

Di sebelah warung bagian kiri, ada toilet dan kamar ganti. Penggunanya dikenai biaya Rp. 2,000.

Kemarin itu, sedang ada pengerjaan bangunan toilet serta kamar ganti tambahan, juga mushola.

Tangga Berbatu Curug Cibulao

Menurut informasi yang didapat mama dari pak Itun, yang sedang bekerja bersama rekannya.

Area curug memang milik Perhutani. Tapi, fasilitas yang ada di area curug ini, awalnya dibangun secara mandiri oleh beliau. Hampir 12 tahun lalu, saat anak bungsunya baru lahir dan sekarang sudah kelas 5 SD.

Baru 3 tahun terakhir ini dibantu pembenahannya oleh Perhutani. Pengelolaan kemudian diserahkan pada beliau dan masyarakat setempat.

Di samping area ini, agak ke bawah dikit, juga dipagari pagar bambu, ada area untuk foto-foto selfie. Juga ada view deck yang instagramable. Untuk bisa memanfaatkan fasilitas narsis ini, masing-masing dikenai biaya tambahan sebesar Rp. 5,000.

Kami kemudian menuju loket pembelian tiket. Tertulis Rp. 12,000 per orang. Mamang penjual bertanya, apakah kami akan berenang. Kami mengangguk dan melirik rompi pelampung yang tergeletak di sisi kiri.

Untuk bisa menggunakan rompi pelampung, masing-masing dikenai biaya Rp. 10,000.

Kami melangkah mengikuti arah panah menuju curug yang berada di sisi kanan.

Alamak!
Ternyata, di belakang loket karcis itu, kami disambut oleh anak tangga turun yang lumayan tajam.

Lah, melongok ke bawah, di kejauhan, di sela-sela dedaunan pepohonan, tampak area curug dan bebatuan sungai.

Pengunjung Curug Cibulao Puncak

Pijakan langkah petualangan pun diperkuat *kebayang ntar nanjak arah baliknya gimana* 😳 .

Oiya, undakan tangga menuju curug, hingga bibir sungai, juga sudah berbatu dan sangat aman dilalui.

Curug Cibulao, Curug berair bening kebiruan yang segar dan dingin

Pelan tapi pasti, akhirnya kami sampai di bawah, di undakan anak tangga terakhir.

Dari sini, kita harus melewati bebatuan sungai yang lumayan besar-besar agar bisa mendekat area cekungan, lubuk, atau leuwi (bagian terdalam dari sungai) dekat area curug (air terjun).

Curug Cibulao Paseban Megamendung

Bagi mereka yang terbiasa dengan sungai dan curug seperti mama, akan sangat mudah melangkah di sungai berbatu seperti itu, berpindah dari satu batu ke batu berikutnya.

Aku mengikuti dengan pelan.

Jangan kuatir, bagi yang kurang terbiasa, agar tak terjatuh, tersedia tali tambang yang diikat kuat, melintang sungai, bisa digunakan sebagai pegangan.

Ketika kaki menyentuh air sungai yang bening, terasa dingin dan segar.

Semakin dekat ke area lubuk, yang seperti dipagari oleh bebatuan besar, hawa dingin semakin terasa menerpa kulit. Apalagi jika saat kaki juga berada dalam air. Phiuffh,, dingiin.

Kami menaroh tas bawaan di salah satu batu.

Saat kami sampai, sudah ada beberapa pengunjung yang menuju arah balik. Ada yang lagi bermenung menatap kebeningan air curug. Ada yang berjemur menghangatkan badan yang basah di bawah langit dengan cahaya matahari tipis. Beberapa anak perempuan ada yang sedang berfoto-foto.

Mama pun mulai mengambil beberapa foto.
Aku main air, dan sesekali dimintain tolong untuk motoin si mama.

Aku mulai masang rompi pelampung. Berniat mau berenang duluan.

Begitu masuk ke bagian lubuk, dan air sampai pinggang. Brrrr,,, aku berasa masuk ke dalam air es.

Air curug Cibulao yang bening, hingga bebatuan di dasarnya terlihaat jelas, ternyata dingin banget! πŸ˜† .

Beningnya Air Curug Cibulao

Beberapa pengunjung laki-laki mulai berenang dan mendekat ke bagian curug,Β  terlihat menggemeretakkan gigi menahan dingin. Bahkan ada juga yang menahan gigil tubuh sembari meniupkan udara lewat mulut.

Kegiatan pengunjung di curug, ada yang terjun dari ketinggian tebing curug. Kemudian keluar dari air, memilih duduk di atas bebatuan. Ga ada yang kuat berlama-lama berenang πŸ™‚ .

Oiya, dibagian lubuk curug yang terlihat, bagian paling dalam yang kebiruan itu, mungkin ada sekitar 5 meteran.

Bagi yang kurang bisa berenang di air berarus, tapi ingin mendekat ke tebing curug, bisa menggunakan tali tambang yang dibentangkan sebagai pegangan.

Mama sudah memasang rompi pelampungnya, menyusul ke dalam air.

Seperti biasa, si mama kalau sudah melihat pengunjung lain, ada yang bisa naik tebing bebatuan, dan kemudian melompat, ia pun akan menjajalnya.

Mama mengajakku berenang mendekati jeram curug. Aku menolak, berbisik kalau aku merasa air curug Cibulao ini sangat dingin.

Tumben, si mama yang biasanya ga kuat dingin, malah bilang dinginnya masih bisa buat berenang.

Mama kemudian berenang ke arah jeram curug. Naik ke tebing curug. Sesampai di atas, ia terlihat melongok ke arah dalam lubuk curug yang di atas. Menengadah. Kemudian juga mencoba ke dalaman leuwi/lubuk yang di atas itu.

Si mama turun kembali, ke cekungan (lubuk/leuwi) awal, tidak dengan melompat. Berenang ke tempatku berendam.

Curug Cibulao Paseban Puncak

Mama memberitahu, ada curug yang airnya terjun tinggi, di bagian lubuk yang atas itu. Pemandangannya cakep. Itulah curug Cibulao yang sebenarnya. Bukan yang terlihat ini.

Cerukannya didindingi oleh batu yang tinggi.
Tinggi curug yang di atas itu barangkali ada 10 x curug yang tampak. Kedalaman lubuknya juga lebih dalam, mungkin ada 8 meter lebih.

Lubuk/leuwinya seperti beratap rimbunanan daun pohon. Ada juga bagian yang memperlihatkan birunya langit. Cahaya matahari yang masuk pada sela-sela rimbun dedaunan pohon semakin mempercantik suguhan pemandangan curug.

Saat bercerita itu, si mama baru ingat kalau kami lupa membawa pelindung hp yang kedap air. Si mama nyesel ga bisa mengabadikan pemandangan yang dilihatnya itu.

Malah, ia sempat kepikiran untuk membungkus hp dengan kantong kresek yang dipersiapkan untuk menaroh baju basah 😳 . Tentu saja aku ingatkan kalau air tetap bisa masuk. Si mama menunjukkan ekspresi sedikit kecewa.

Tebing curug yang sudah didaki si mama, agak berwarna keorenan. Apa mungkin batu gamping merah? Ntahlah.

Aku kembali menolak ketika mama ngajak berenang mendekati jeram curug. Dingin.

Mama pun kembali berenang sendiri, dan minta diambilin fotonya saat narsis manjat-manjat tebing curug itu 😳 .

Setelah selesai mengambil foto-foto mama, aku memilih duduk di bebatuan, mengeringkan badan.
Mama turun dari tebing dan menyusul keluar dari air.

Ketika ku tanya, kenapa mama ga nyoba terjun.
Si mama beralasan, “kalau mama ikutan terjun, kalian yang muda-muda ini apa ga merasa kalah sama mamak-mamak”.

“Lha, biasa aja. Mama kan anak kampung yang terbiasa dengan sungai dan air terjun 😳 “.

Mama senyum masam.

Kami pun membuka bekal makanan. Berharap, nanti berenang ga akan begitu dingin lagi.

Selesai makan. Mama mengambil beberapa foto dan video.

Setelah itu, kami berniat mau berenang lagi.
Laah, airnya justru terasa semakin dingin. Untuk kali ini mama pun sepakat.

Setelah berendam beberapa saat, kami naik lagi ke bebatuan. Aku memeriksa kaki yang terasa kaku, ternyata dekat jempol kaki sampai membiru. Bagian betis belakang agak kemerahan.

Mama melihat kondisi kulit ku, bilangnya itu efek aku kurang olah raga. Bisa jadi, solanya baru kali ini aku merasa air curug begitu dingin πŸ˜₯ .

Mama menyimpulkkan, sepertinya berenang di air curug Cibulao harus tetap berada dalam air, atau air di badan jangan sampai terlalu kering, jangan sampai terlalu lama kena hembusan angin.

Setelah merasa cukup main airnya, kami memutuskan balik.
Berkemas.
Mempersiapkan langkah dengan baju basah menaiki undakan anak-anak tangga.

Jalannya tetap seru. Sesekali menghirup segarnya udara pegunungan dalam-dalam.

Tanpa terasa, kami sudah sampai di bagian belakang loket penjualan karcis tadi. Kami mengikuti arah tanda panah yang bertuliskan kata “keluar”.

Ternyata, si papa sudah menunggu kami di situ.

Aku mengembalikan dua rompi pelampung yang sebelumnya disewa.

Mama menuju tempat bilas dan ruang ganti.

Aku memesan semangkok bakso yang direkomendasikan papa. Semangkok dihargai Rp. 15,000. Lumayan buat menghangatkan perut.

Aku memilih ganti bajunya ntar aja di kendaraan πŸ˜› .

Setelah mama selesai, kami beranjak, melanjutkan menaiki undakan anak tangga. Beberapakali berdiri berhenti untuk mengatur nafas. Akhirnya sampai juga di tempat parkir.

Area Parkir Curug Cibulao

Parkiran yang awalnya sepi, sekarang sudah penuh oleh kendaraan roda dua di sisi kiri dan kanan jalan. Serta beberapa roda empat di kanan jalan yang berbatasan dengan sisi bukit.

Oiya, parkiran roda empat dikenai tarif Rp. 20,000. Sedangkan untuk roda dua, katanya sih Rp. 5,000.

Lokasi untuk memutar kendaraan roda empat juga lumayan tinggi tanjakannya.

Arah mutar balik, jalan menurun pun dimulai.
Ketika turun ini, juga lumayan membuat perut si mama sedikit kembang kempis 😳 .

Tapi, kapan-kapan si mama malah berniat mengunjungi curug ini lagi, tapi dengan motor. Agar bisa sekalian melihat curug Panjang.

Sayang banget sih, kali ini kami hanya sempat mengunjungi satu curug. Padahal, curug Cibulao ini adalah hulu (aliran paling atas) dari curug Panjang, curug Naga, curug Barong dan curug Orog.

Menurut cerita pak Itun, sebenarnya di atas curug Cibulao ini ada lagi beberapa undakan curug. Tapi itu lokasinya banr-benar di puncak gunung Paseban. Aksesnya susah.

Curug Cibulao memang berair bening dan dingin. Bulao berarti biru. Sebab, secara kasat mata, air curug dibagian lubuk/leuwi terlihat bewarna kebiruan.

Mudah Nyari Hotel/Villa/Resort Bagus, Tapi Murah di daerah Puncak

Namanya juga liburan tipis-tipis, atau rehat sejenak dari aktivitas sehari-hari, tentunya sangat mempertimbangkan tempat menginap. Jangan sampai membobol kantong.

Untuk itu, si mama sudah nyari jauh hari sebelum berlibur, melalui aplikasi Pegipegi. Penginapan dengan konsep rumahan, cottage, tinggal pilih.

Yang penting murah, tidak menguras kantong, tapinya tidak murahan. Hotel berbintang, tapi bayaran sesuai kantong. *banyak mau*.

Mana bisa?
Bisa. Incar hotel, penginapan, resort, atau villa di puncak yang lagi diskon 😳 . Tentunya tetap mempertimbangkan fasilitas yang disediakan, serta dekat tidaknya dengan lokasi wisata yang ingin dieksplorasi.

So, nginap dimana kita kalau ke puncak? #pegipegiyuk 😳 ❀ .

Curug Cibulao Paseban Megamendung Pucak

Kesimpulan

Air curug Cibulao memang benar-benar bening dan dingin. Pemandangan alam yang cantik dan dasar curug yang jelas terlihat, bukan hanya bisa untuk foto-foto kece, tapi juga sangat memungkin untuk foto under water yang cantik. Tinggal nyiapin kamerannya aja.

Kalau main ke curug yang alami buatan alam itu, tolong jaga kebersihannya. Sampahnya jangan ditinggal. Bahkan, sisa puntung rokok, korek api, harusnya dibawa kembali. *Pesan si mama yang ngelihat banyaknya puntung rokok yang berserakan dekat bebatuan yang dijadikan tempat duduk 😦 *.

Iklan

20 respons untuk β€˜Liburan di Hotel Puncak? Nikmati Dingin & Beningnya Air Curug Cibulao’

  1. bloggergunung berkata:

    Kapan kapan main ke tempat saya di Pagelaran Cianjur Selatan. Disini banyak curug tapi jalannya gak harus lama dan ekstream. Kendaraan roda 4 atau 2 masuk sekitar 200 meter dari jalan aspal saja lokasi curug nya. Bisa disearch curug Citambur. Atau mau yg lebih tinggi bisa lihat curug ngebul, curug tujuh, curug ciastana dll semuanya di Cianjur Selatan

    Salam
    Okti Li

    Suka

    • dizaz berkata:

      Iya nih, belum kesampaian main ke curug yang di daerah Cianjur. Padahal, Cianjur bisa ditempuh dengan kisaran 2 jam-an perjalanan juga.
      Siiiaaap. Kapan2 main ke curug sana juga.

      Suka

  2. Naqiyyah Syam berkata:

    Seru banget perjalannya ya Mbk, ikutan mau liburan kalau lihat artikel begini. Apalagi musim liburan panjang begini, enaknya emang jalan-jalan deh.

    Suka

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.