Kata Dalam Semangat Agustusan, Berbenah Bersama


Geliat kemeriahan bulan Agustus sebagai bulan memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia sudah mulai terasa. Semua diharapkan peduli. Bukan hanya sekedar formalitas upacara bendera, perayaan dan kemeriahan berbagai perlombaan. Tapi, sebagai ajang pengingat sekaligus evaluasi.

Saatnya, Yang Muda Yang Peduli

Jika selama ini mereka yang ikutan ekstra kurikuler Paskibraka saja yang sepertinya terkesan paling peduli dengan perayaan kemerdekaan negeri ini dari kaum muda.

Maka, sudah seharusnya kita kaum muda lain juga memperlihatkan partisipasi aktif.

Agustusan Merah Putih, Pemersatu

Teruslah berkibar.

Pemimpin akan terus berganti, akan tetapi kelahiran bangsa ini sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat penuh, akan tetap bertahan.

Mari mulai dari hal yang paling mudah.
Saling mengingatkan dengan kata-kata semangat tentang agustusan, ikut ambil bagian dalam berbagai lomba di lingkungan tempat tinggal. Yang jago masak boleh mengkreasikan masakannya menjadi tumpeng yang indah dilihat dan enak dicicipi untk makan bersama.

Ikut menyuarakan mana yang benar dan keliru.

Jika bukan yang muda, siapa lagi yang akan melanjutkan dan menjaga kebiasaan baik rangkain agustusan yang bukan di lingkup formal itu?

Ayo semangat!

Bumi pertiwi adalah buminya anak bangsa negeri ini. Jangan biarkan dia terluka lagi dan lagi.

Generasi z bolehlah mereka bilang sebagai anak mecin.
Terlihat kurang peduli pada apa yang terjadi di dunia nyata.
Sibuk dengan gadget dan sosial media.
Terkesan tak ada melakukan kegiatan yang bermakna.

Padahal, lewat itu semua, kami melihat dunia.
Belajar membedakan,
mana yang hanya pencitraan,
mana pendekatan demi keuntungan golongan sesaat, untuk melegatimisi kekuasaan agar tetap bertahan.

Kami tidak buta dan juga tuli.
Walau kalian berteriak menyangkal semua yang pernah terucap.
Rekam jejak digital menyimpan semua, tinggal cari dan putar ulang.

Tapi lidah memang tak bertulang.

Kaum yang mengaku intelek, menepuk dada sebagai pemimpin, sepertinya tidak merasa malu pada generasi yang menonton dan sedang mencari role medel pada sosoknya.

Hari ini dia mati-matian dan rela memaki demi membela ini.
Esok hari, karena kantong sudah terisi penuh, tanpa malu mengaku teman dari yang dimaki. Tidak hanya sampai disitu, dengan entengnya memojokkan teman lama yang sudah memberi panggung sebelumnya.

Ternyata, suara lantang itu, hanya demi sejumput kekuasaan dunia.

Aih,, apa kata setia sudah tak ada maknanya lagi?

Masih mending kami yang berpindah-pindah provider, demi sinyal dan harga pulsa yang bersaing, agar narsis terpuaskan.

Tak ada yang dirugikan oleh menduanya kami itu.

Di Agustusan tahun ini, tua dan muda mari menundukkan kepala sejenak. Sama-sama bertanya, benarkah kebaikan yang selama ini telah diberikan pada pertiwi?

Tidakkah dia merasa terkoyak dengan ketidak pedulian, hanya demi kepentingan pribadi dan golongan yang selama ini telah kita semua lakukan?

Ibu pertiwi mungkin sudah capek mengeluarkan air mata,
demi melihat anak-anaknya yang sangat mudah diadu domba.

Semoga agustusan kali ini jadi sebuah renungan dan memberikan makna. Jangan benturkan pemeluk agama dengan selimut kebaikan bangsa dan negara. Saatnya  berubah dan berbenah bersama.

Iklan