Merepih Kecewa – Jadi Diri Sendiri Aja


Hei kawans, kau mungkin salah satu yang sangat akrab dengan rasa kecewa. Rasa kurang puas, tidak senang ataupun berkecil hati. Rasa yang timbul akibat ekspektasi berlebihan terhadap sesuatu.

Sebagai manusia, kecewa sepertinya akan terus dirasakan selama hati masih bisa disentuh oleh keberadaan makhluk sosial lain.

Selama masih hidup, rasa itu akan terus menyelinap diam-diam, beriringan dengan harapan dan rasa bahagia yang membuncah.

Kau mungkin bisa saja berkelit bahwa kecewa hanya dirasakan oleh mereka yang sensitif, baperan, yang berpikiran sempit dan kurang toleransi ataupun tidak bisa memahami orang lain.

Ahhh, marilah kita sama jujur pada diri sendiri, kau pasti pernah merasakan hal tersebut juga. Bahkan pada mereka yang paling dekat dan paling kau sayangi. Hanya kadarnya yang berbeda dibanding mereka yang baru sempat melintas bersamamu.

Kecewa jika tidak disingkirkan dari hati secepatnya, ia akan terus membebani hati hingga bahagia pun menjauh. Yang dekat hanyalah praduga negatif. Hidup akan terasa capek sendiri. Hubungan baik yang sudah terbina lama bisa sirna seketika.

Rugikan?

Merepih Kecewa

Rasa Kecewa jika tidak segera kau enyahkan, akan membuat hidupmu perlahan tapi pasti akan segera seperti bunga yang mengering 😥

Bagaimana cara merepih kecewa atau menebas kecewa itu agar tak bertahan lama dalam rasa dan pikiran?

Menunggu ma’af dari mereka yang telah menggores hatimu?
Buang jauh-jauh pikiran seperti itu.
Karena umumnya mereka yang telah membuat kecewa itu tidak menyadari telah melakukannya.

Kalau aku sedang dihampiri rasa kecewa, aku akan secepatnya kembali mengingat diri sendiri.

Diri yang tanpa embel-embel apapun kecuali seorang hamba yang dilahirkan ke bumi lewat perantaraan kedua orangtua, dengan nama yang diberikannya disertai sebuah do’a yang mengiringinya.

Diri kita hanya itu, disebut manusia bernama hanya ketika masih hidup dan langsung dipanggil dengan almarhum atau almarhumah, sesaat setelah jiwa meninggalkan raga.

Trus, apa yang membuatmu kecewa berlama-lama? Apalagi merasa terhina? Hingga harus sampai sibuk mencari ucapan balasan untuk mereka yang telah menghina itu.

Jauh.

Kalau kau kecewa karena merasa kurang dihargai, memangnya apa yang berkurang karenanya? Sosokmu tetap utuh. Paling hanya ada tambahan tatapan orang-orang yang ingin tahu.

Lakukan saja apa yang memang ingin kau lakukan, tapi tidak merugikan orang lain, apalagi mereka yang sudah memberikan penilaian seperti itu. Kau justru jadi mengetahui sifat asli dari orang-orang sekitarmu itu, karena mereka tak akan berpura-pura baik padamukan? Kau tinggal menjaga jarak sembari tak lupa memberi ketegasan bahwa kau juga punya batasan.

Kalau kau kecewa karena merasa dikhianati, selagi bukan hubungan dua komitmen yang sudah ada hitam putihnya, ingatkan bahwa kepercayaan itu mahal harganya. Jangan sampai rugi dua kali karena hatimu hancur oleh rasa kecewa yang terlalu lama. Masih banyak mereka yang layak dipercaya yang akan kau temui dalam hidup.

Kalau kau kecewa karena ini, karena itu.

Ahh,, itu hanya terlalu banyak pembenaran yang dijadikan alasan. Capek sendiri tau.
Hidup hanya sebentar, jangan habiskan energi dengan terlalu sibuk mempertanyakan kenapa mereka bisa berbuat seperti itu.

Kalau keadaan masih mengharuskan kau berada dilingkungan yang sama, tinggal batas hatimu yang kau perkuat dengan mengingat bahwa kau adalah dirimu. Orang lain, lingkungan, hanya bisa mempengaruhi, yang memutuskan tetap dirimu sendiri.

Mari kawans, kita merepih kecewa secepatnya dan tersenyum memulai setiap hari. ❤ .

Iklan

Gimana Menurutmu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s