Ishita menegaskan pada ibunya bahwa dia akan terus. Ibunya mengingatkan tas kecil dan akan membawanya. Ia minta Ishita menutup mobil dan menyusul.

Ishita melihat ibu mertunya mengangkat barang berat dan berkata, “ia bisa patah tulang.”
Ibunya Ishita berusaha menahan anaknya untuk membantu, tapi Ishita tetap jalan untuk membantu Nyonya Toshi.

Nyonya Toshi merespon kasar.
Ibunya Ishita mengingatkan, “aku bilang apa. Mereka tidak punya sopan santun. Mereka buruk sehingga mereka merasa semua orang buruk.”
Nyonya Toshi nyahut, “ini semua drama Ishita.”

Nyonya Madhu mebalas, “kau berbicara begitu buruk. Putriku tidak melakukan drama, keluarga kami memiliki sopan santun. Pertama melihat keluargamu, aku tidak akan mengirim putriku kesana.”

Nyonya Toshi tak mau kalah, “putrimu mencoba menghancurkan hidup anakku”
Mereka bertengkar. Nyonya Toshi bilang Ishita pembohong. Nyonya Madhu membela bahwa putrinya bukan pembohong.

Semua orang jadi menonton mereka.
Ishita menghentikan ibunya dan membawanya.
Nyonya Toshi teriak, “aku akan membuat kau meninggalkan tempat ini.”

Ishita komplain pada ibunya, “aku tidak suka semua ini. ibu bertengkar dengan Nyonya Toshi, aku tidak akan membairkan bu.”

Simmi melihat mereka bertengkar.
Pammi meminta Nyonya Toshi untuk tenang.
Parmeet senang, “ibu mertua mendukungku. Ishita tidak bisa melakukan apa-apa.”

Shagun membawa kasus Ruhi ke hakim. Dia tanya, “apa yang kau lakukan disini. Kau tidak bisa menemui hakim seperti ini.”
Shagun bilang ini situasi mendesak, tolong dengarkan. Ia pun mengatakan, “hakin telah membuat keputusan yang salah. Anda memberikan hak asuh saya pada Raman dan Ishita karena merasa mereka lebih baik untuk Ruhi. Sekarang pernikahan mereka rusak dan semua orang tahu tentang kebenaran Ishita. Mereka melakukan sandiwara ini untuk mengambil Ruhi dariku. Anda harus melihat ini dengan mata anda dan berikan anak saya kembali pada saya.”
Hakim pun menjanjikan, “baik, saya akan pergi kesana dan melihat. Baru saya bisa putuskan.”

Sarika berbicara pada Parmeet, mengataka ia tidak akan bertemu siapapun.
Parmeet kembali mengingatkan, “jika kau mencoba untuk bertindak cerdas, maka aku tidak akan meninggalkanmu dan ibumu.”

Raman mendengar semua percakapan itu. Ia bergumam, “Ishita benar. Dia merayap seperti itu, aku melakukan kesalahan dengan Ishita. Setelah aku mendapatkan bukti, aku akan menendangnya keluar dari rumah ini. Aku harus melakukan sesuatu untuk membongkar kebenaran Parmeet. Aku harus pintar. Aku tidak akan meninggalkan Parmeet.”

Mihir memanggil Raman.
Raman bertanya, “ada apa.”
Mihir menjelaskan bahwa hakim datang ke rumah untuk memeriksa apa yang dikatakan Shagun. Raman bilang akan menemuinya.

Raman terkejut melihat hakim sengan Shagun. Raman berbasa basi kedatangannya.
Hakim menjelaskan bahwa ia datang untuk menemui istri Raman, dimana dia. Saya hanya ingin tahu dimana dia, jangan katakan dia di klinik. Saya pergi ke klinik dan dia tidak ada. Apa benar anda dan Ishita berpisah dan melakukan semua ini untuk mengambil hak asuh Ruhi.”

Raman membantah, “semua rumor.”
Ishita datang, “kalian disini. Saya minta ma’af saya tidak melihat.”
Raman dan Ishita bersikap normal.
Shagun terkejut.

Ishita kembali minta maaf, “kami lupa bahwa kami harus bertemu anda hari ini. Kami pikir kami akan meninjau setelah enam bulan. Kami akan datang jika anda menelpon kami.”

Shagun tak terima, “Ishita bohong, ia tetap di rumah ibunya itu. Raman merencanakan semua ini melihat anda datang.”
Raman nyahut, “mengapa kau menyusahkannya.”

Hakim meminta penjelasan Raman tentang apa yang terjadi.
Shagun mengusulkan untuk minta keterangan pada tetangga.
Hakim mangatakan bahwa ia harus mencari tahu.
Ishita menegaskan, “anda meragukankannya.”
Hakim juga tegas, “saya akan memutuskan.”

Mihir bertindak dengan memberitahu keluarga bahwa hakim datang kesini. Nyonya Toshi meminta tuan Bhalla untuk melakukan sesuatu untuk mengatasi bertemu dengan Nyonya Madhu. Karena semua tetangga melihat mereka berkelahi.

Raman menanyakan kenapa hakim ingin bertemu dengan tetangganya, “anda tahu bagaimana Ashok dan Shagun bermain sandiwara untk mengambil putri kami. Dia mengatakan nama kami akan dipertaruhkan jika anda melakukan ini”

Tuan Bhalla mengatakan hal yang sama.
Ishita mengingatkan bahwa ini mempengaruhi Ruhi juga.

Shagun mendorong hakim, “mereka telah berlatih untuk saling bela ini, mereka takut.”

Hakim mangatakan bahwa itu hal biasa, ia hanya akan mengajukan beberapa pertanyaan. Saya katakan sebelumnya Ruhi akan tinggal jika anda memberikan perawatan yang tepat padanya. Kami akan meninjau dan memutuskan dengan sipa Ruhi tinggal. Jika buruk, maka Ruhi akan kembali pada Shagun.
Beberapa wanita dipanggil.

Hakim menemui perempuan tersebut dan bertanya apa mereka melihat pertarungan antara Raman dan ishita. Para wanita itu mendukung Raman dan Ishita, mereka sering bertengkar karena mereka masyarakat lintas.

Pammi mengatakan itu cinta diantara mereka. Raman belajar Tamil dan memuji Ishita dengan bahasa Tamil diatas panggung. Semua orang tersenyum.
Shagun terkejut.
Pammi menambahkan bahwa keduanya pasangan romantis dan menceritakan tentang pelukan Raman dan Ishita ditengah hujan.
Raman pergi keluar untuk menyatukan Ishita dan Ruhi. Ishita sangat mencintai Ruhi.

Shagun menjauhkan diri dengan menahan tangis.
Mereka memuji Ishita. Raman memegangnya dan saling memandang.

Hakim menjelaskan bahwa ia menjalankan pekerjaan rutin kami, saya meminta maaf kaarena sudah mengganggu. Saya senang mengetahui gadis itu bahagia.

Para wanita pergi.
Nyonya Toshi senang dan berterima kasih pada Pammi.
Ruhi pulang dan tampak bahagia. Ruhi memeluk Ishita. Ishita mengatakan untuk menyapa Mumma. Ruhi pun menyapa Shagun Mumma.
Hakim bertanya pada Ruhi, “kenapa kau takut.”
Ruhi nyahut, “kau tidak akan memberikanku pada Shagun Mumma. Kau baik untuk memilihkan ibu yang baik untukku. Ayah dan ibu mencintaiku.”

Raman kemudian meminta Romi untuk membawa Ruhi ke dalam.

Hakin menegur Shagun, “hal yang aneh saya lihat disini adalah putri anda takut melihat anda. Jika anda membuang-buang waktu saya lagi, saya akan mengirim anda ke penjara.”

Shagun menunjukkan wajah memelas, “aku minta maaf, aku tidak salah.”
Hakim memotong ucapan Shagun, “cukup. Aku tahu situasi sekarang,” kemudian beranjak bersama Shagun.

Ishita mengucapkan terima kasih pada Mihir yang memberi informasi tepat waktu.
Mihir merendah, “berterima kasih pada Tuhan, itu yang membuat semuanya berhasil.”

Raman bertanya pada Mihir bagaimana dia bisa tahu semua ini.
Mihir menjelaskan bahwa ia pergi ke pengadilan dan kembali untuk menjelaskan semuanya.
Tuan Bhalla memberkati Mihir.
Raman mengucapkan terima kasih.
Mihir mengatakan bahwa ia harus berangkat ke kantor karena banyak pekerjaan.

Ishita dan Rahman saling lihat satu sam lain dengan latar musik Yeh Hai Mohabbatein.
Ishita keluar.

Simmi melihat Raman mengincar dirinya, “mengapa kau tidak menghentikannya.”
Raman beralasan, “aku melakukan semua ini di depan hakim untuk menyelamatkan Ruhi,” kemudian meminta Parmeet menjelaskan untuk Simmi untuk menolong mereka.
Parmeet bilang mereka akan pergi dari rumah.
Nyonya Toshi minta Raman untuk menghentikan Parmeet dan Simmi.
Raman cuek, “mereka punya hak untuk mengambil keputusan. Jika ia ingin pergi, biarkan dia pergi. Karena dirinya terluka, bahkan aku pun akan melakukan hal yang sama.”

Simmi protes, “meninggalkannya berarti bukan beban Raman.”
Raman nyahut, “pikirkan kau inginkan, baik aku akan coba untuk menghentikan Parmeet.”

Parmeet menerima semuanya, kebencian atas Ishita dan Shagun dari semuanya. Parmeet pergi ke toilet. Raman ke kamarnya dan melihat telponnya. Raman keluar.
Raman kembali ke kamarnya dan mengambil ponsel dari laci. Dia kembali ke kamar Parmeet dan menukar ponsel.

Parmeet yang keluar dari toilet melihat Raman di pintu. Raman bicara, “Parmeet,, *memberi isyarat masuk* aku datang untuk bicara denganmu karena aku tidak mengatakan apa-apa sejak malam itu. Aku merasa malu dan tidak tahu bagaimana menghadapimu. Begitu banyak hal yang terjadi yang saya tidak bisa melakukan apa-apa sejak mengetahui kebenaran. Kau menantu rumah ini dan suami Simmi. Aku berjanji tidak melakukan kesalahan pada hidup adikku.”

Parmeet merespon, “baiklah.”
Raman menunjukkan perhatian, “kapan kau berangkat.”
Parmeet memberitahu, “taksi datang jam 5 sore.”
Raman menunjukkan sikap kakak bertanggung jawab, “sopirku akan mengantarmu.”

Parmeet menolak, “aku tidak ingin merepotkanmu.”
Raman tak mempermasalahkan, “baiklah, tapi temui aku sebelum berangkat. Aku ingin kau memberikan kesempatan padaku untuk melihatmu. Jika kau pergi tanpa bertemu aku, aku merasa kau menghukum kami untuk kesalahan Ishita ini.”

Parmeet mengatakan baik, ia akan menunggu.
Raman juga memberikan gambaran mungkin dia agak malam, “kau tidak melihat bagaimana aku memperlakukan orang. Aku harap kau tidak menyesal.”
Raman keluar dan meminta Parmeet untuk menunggunya.
Parmeet hanya bilang ya.

Parmeet bergumam, “Raman memikirkan apa atau sedang merencanakan apa. Dia begitu perhatian. Mana yang benar dan mana yang tidak, aku tidak mengerti. Sarika tidak mengatakan apapun. Aku akan memastikan dan mencari tahu.”
Parmeet melihat teleponnya mati, “bagaimana batere begitu cepat habis. Baik, aku akan mengisi dan menelponnya.”

Sementara Raman juga berkata, “aku merubah telepon. Sekarang aku akan cek apa telpon ini memiliki nomor Sarika atau tidak.” Dia menulis pesan untuk menemuinya segera.
Sarika yang menerima pesan jadi berpikir dan cemas, “mengapa Parmeet ingin bertemu sekarang.”

Halaman berikutnya Mohabbatein Sinopsis Raman Membuktikan Ishita Benar