Di rumah keluarga Iyer, Mihika menangis, “Ishita kau harus menampar pria kotor itu. Aku tidak akan meninggalkan Raman, ia merasa kita lemah. Kau harus menjawabnya.”

Tuan Iyer angkat bicara, “berhenti Mihika. Ada waktunya semua orang marah, tapi tidak sekarang.”
Mihika masih tidak terima, “sudah cukup.”
Bala memintanya untuk masuk ke dalam.
Mihika tetap tak habis pikir, “bagaimana mungkin Raman menjadi tenang.”
Bala setuju, “kau benar, tapi aku tidak disini. Aku akan meminta jawaban dari mereka. Mereka telah menghina adikku.”
Bala kemudian menenangkan Ishita, “kau tidak perlu khawatir, aku bersamamu. Kita harus menunjukkan pada mereka bagaimana menghormati perempuan. Kita akan melihat Parmeet, ia menghinamu.”

Pagi harinya, Parmeet berpikir apa yang harus dilakukan sekarang.
Simmi datang menghibur, “jangan khawatir, tidak ada yang terjadi. Kita baik-baik saja. Dia datang dalam hidup kita dan membawa kita pada situasi ini. Mengapa kau harus khawatir, lupakan semuanya”

Parmet ngebathin, “baik juga Simmi percaya padaku.” Kemudian bicara, “kita harus meninggalkan rumah ini.”
Simmi tanya balik, “tetapi kemana kita akan pergi.”
Parmeet nyahut, “dimana saja. Aku tidak bisa menunjukkan wajahku pada siapapun disini.”
Simmi minta Parmeet untuk tidak berpikir begitu. Tuhan tahu dia.

Mihir datang menemui Ishita. Mihika menatap. Ia meminta mereka untuk mencicipi makanan sebagai menu pertunangannya. Mihika laangsung nyahut kalau Trisha sedang tidur. Mereka minta Mihika ikut nyicipin.

Mihika memberitahu Mihir tentang Raman dan marah, “Raman menendang istrinya keluar karena mendengarkan orang.”
Mihir terkejut, “apa.”
Gantian Mihika yang kaget, “tidak tahukah kau., Oh, kau sibuk dengan urusanmu.”
Ishita buka suara, “sudah Mihika, ini bukan kesalahan Mihir.”

Mihika masih kesal, “kesalahannya ia menonton semuanya dengan tenang.”
Mihir bertanya pada Ishita tentang apa yang terjadi. Apa semuanya benar. Ia pun menjelaskan, “percayalah, ini tidak bisa terjadi. Aku tahu dia, dia tidak bisa melakukan ini. Kau bersamaku.’
Mihika jadi ngejek Mihir.

Mihir menemui Raman dan bertanya apa yang terjadi. Raman sewot, “apa kau pikir aku tidak percaya dia atau ragu dia.”
Mihir balik nanya, “napa kau tidak menghentikannya.”
Raman memberitahu alasannya, “keluargaku khawatir. Parmeet adalah iparku. Mereka punya anak perempuan. Apa yang akan ku lakukan.”
Mihir memberi ide, “kau harus bawa Ishita kembali.”
Raman sih setuju, “itu jelas, tapi sekarang aku tak berdaya karena aku tidak punya bukti. Aku tidak bisa menunjuk Parmeet.”

Mihir gemes ngelihat Raman, “ini bukan kesalahan Ishita, ini tanggung jawab kau.’
Raman semakin sewot, “kau pergi untuk pertunangan noh.”
Mihir merespon, “pernikahanmu dalam masalah, kau peduli padaku.”
Raman tetap tegas, “jangan membantah. Pergi.”

Ishita jadi menangis memikirkan kata dan marahnya Raman.

Sementara itu, Raman melihat telpon sambil berpikir.

Raman menerima koran. Ia meminta tukang koran untuk menaroh kertas di pintu rumah tuan Iyer.
Ishita mendengar percakapan itu.
Raman dan Ishita saling menatap.

Dia bercerita tentang istrinya sangat jauh. Ishita mengatakan untuk menaroh korannya disini mulai hari ini.
Tukang koran heran, “kenapa, apa anda bertengkar dengan Tuan.”
Ishita jutek, “lakukan apa yang ku katakan.”
Ia pergi.

Simmi memberitahu ayahnya bahwa ia tidak bisa tinggal disini karena Parmeet tidak ada yang menghormati dia disini. Aku tidak bisa menjelaskan padanya. Ishita menyalahkannya begitu buruk. Aku telah memutuskan untuk meninggalkan semua.”

Nyonya Toshi yang nyahut, “Ishita sudah pergi sekarang, dia yang meninggalkan rumah ini. Kau harus tinggal disini karena ini rumahmu.”
Simmi beralasan tidak bisa, Raman tidak merespon Parmeet, dia hanya diam. Aku tidak ingin sesuatu terjadi lagi, tidak akan baik bagi Parmeet sekarang. Raman akan membawa Ishita kembali, maka yang terbaik bagi kami meninggalkan rumah ini.”

Ruhi bangun dan mencari Ishita.
Nyonya Toshi menghampiri dan memeluknya.
Ruhi menanyakan dimana Ishita. Simmi jadi terganggu.
Ruhi jadi bertanya kemana Simmi pergi.

Simmi kesal, “kami meninggalkan rumah ini karena ibu Ishita mu.”
Raman bersuara, “Simmi, jangan marah padanya.”
Simmi membela diri bahwa dia mengatakan yang sebenarnya tentang Ishita.
Ruhi mempertanyakan Simmi yang marah padanya.
Raman menjelaskan, “seperti kau dan Shravan bertengkar.”

Raman meminta ibunya untuk menyudahi.
Ia membawa Ruhi ke Ishita.
Simmi langsung nyolot, “apa ku bilang, dia pasti memihak Ishita. Apa kalian berpikir aku harus tetap tinggal disini.”

Ishita menemui Ruhi dan tetap bicara manis.
Tuan Iyer bersuara, “Raman, mengapa kau berdiri diluar. Ayo masuk.”
Raman menolak, “tidak, aku terlambat untuk ke kantor.”
Ruhi meminta ayahnya masuk.

Ruhi pun melapor pada Ishita tentang Simmi yang berkemas dan akan membaw bayinya serta memarahinya.
Ishita meminta ibunya untuk membuatkan kopi untuk Raman.

Ruhi bertanya kenapa Ishita ke rumahnya, apa untuk makan.
Trisha muncul dan menyapa semuanya.
Ishita menjelaskan bahwa ia merindukan ibunya makanya ia datang.

Raman mendengar percakapan itu dan tersenyum.
Ishita menjelaskan pada Ruhi bahwa ia akan tinggal untuk beberapa hari.
Ruhi langsung bilang kalau ia ingin bersama Ishita.

Trisha yang merespon, “bagus, kau disini untuk persiapan pertunanganku.”

Nyonya Madhu menaroh kopi untuk Raman dengan wajah jutek.
Raman mengucapkan terima kasih untuk kopinya, yang sangat enak. Raman keluar.
ruhi pun pamit akan bermain dengan Muttu dan ikut keluar.

Nyonya Madhu bersuara, “Raman meninggalkan teleponmu disini.”
Ishita menjawab, “ponsel ini tidak ada bersamaku sepanjang hari kemarin. Bagaimana ia mendapatkan pesan dari sini. Ponsel ini menghancurkan hidupku. Kita akan membeli ponsel baru.”

Raman mendengar semuanya. Ia memikirkan kata-kata Ishita itu.

Raman kembali ke rumahnya dan memberitahu bahwa Ruhi dengan Ishita.
Nyonya Toshi kesal, “mengapa kau tinggalkan dia disana. Dia menciptakan begitu banyak kotoran di rumah ini. Kau bertanya apa yang terjadi. Adikmu meninggalkan rumah ini.”

Raman bersuara, “cukup. Aku minta tenang. Itu tidak berarti kau bicara sesukanya. Jangan katakan apapun pada Ruhi tentang Ishita.”

Raman membatalkan semua pertemuan.
Tuan Bhalla setuju tindakan Raman untuk segera mengakhiri masalah ini.
Simmi nyahut, “ya, jadi kami meninggalkan rumah.”

Raman bersiap-siap dan meminta Ishita kemejanya. Dia merindukannya. Ia batal bersiap.

Nyonya Toshi meminta untuk penjelasan. Ruhi pun memintanya. Raman pergi dengan marah.

Ishita melihat Raman, “kau akan ke kantor seperti ini.”

Raman gondok, “apa yang terjadi pada semua orang, semua bertanya hal yang sama.”

Ishita berkomentar, “tidak, ada masalah dengan celana.”
Raman berkata, “apa” sambil menatapnya. Dia tidak mengenakan celana. Ishita menahan tawa.
Raman balik lagi ke rumah, “ini terjadi kadang-kadang.” Ia ke kamar dan tersenyum.

Bala berbicara pada Vandu tentang keluarga Bhalla. Vandu kecewa, “aku tidak mengharapkan ini dari Raman. Ishita melakukan begitu banyak untuk Ruhi dan Raman. Melihat orang itu dia hanya diam ketika Ishita ditendang keluar.”

Bala juga mengatakan pendapatnya, “aku sedang merasa buruk baginya. Kita tidak akan merasa buruk karena aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi dengannya. Raman akan menghargai saat dia mengurus Ruhi saja.”

Vandu senang karena Bala begitu banyak peduli pada keluarganya.
Ibu Bala yang mendenagr percakapan itu jadi senang. Dia teringat tentang Ruhi dan kata-kata Raman.
Ia pun datang untuk menemui Shagun dan memberitahu semua yang terjadi di rumah Bhalla. Raman adalah orang jahat, semua orang harus meninggalkan dia.

Shagun mengucapkan terima kasih, “kau benar, aku harus memberinya pelajaran.”

Parmeet menelpon seseorang dan dipanggilkan taksi.
Simmi mendengar dia khawatir tentangnya dan putri mereka.
Sementara Parmeet berpikir dia harus segera pergi karena Ishita tidak akan diam lama.
Simmi minta kepastian apakah perlu untuk pergi hari ini.
Parmeet menegaskan, “ya, kita harus pergi.”
Simmi setuju, “ayo kita pergi naik bus.”
Parmeet nyahut apa Simmi pikir ia tidak mampu. Dia marah.

Simmi heran, “mengapa kau marah padaku.”
Parmeet bilang, “kau tinggal disini.”
Simmi menangis, “aku sangat mencintaimu. Aku sangat merindukanmu saat kau di Dubai. Jika kau meninggalkanku disini, aku akan mati.”
Parmeet berpikir bahwa Simmi dan Nyoya Toshi harus mendukungnya.

Raman datang untuk menemui Sarika di klinik Ishita. Ia mendapatkannya sedang cuti. Dia mendapatkan alamatnya. Ia melihat Sarika tidak di rumah. Ia memastikan pada penjaga apa Sarika tinggal di 303. Pria itu memastikan bahwa tidak ada di rumah, titip pesan aja, aku akan menyampaikannya.
Raman bilang bahwa semua baik, ia akan datang lagi nanti. Sarika datang dan penjaga memberi tahunya. Raman memperhatika dan berpikir bahwa ia melihat Sarika dengan Parmeet.

Penjaga melapor pada Sarika bahwa orang kaya datang mencarinya. Sarika berpesan, “katakan aku tidak di rumah dan jangan biarkan dia masuk ke dalam.”
Penjaga pun kembali melapor pada Raman bahwa Sarika tidak ingin bertemu dengannya.

Raman mengatakan bahwa ia ada beberapa pekerjaan sebenarnya. Penjaga itu berhenti dan mempertegas bahwa Sarika tidak ingin betemu dengannya.

Raman tidak masalah dan jadi berpikir mengapa Sarika takut padanya. Ia jadi berpikir tentang alasan yang dibuat Parmeet hari itu. Raman bergumam, “Parmeet berbohong bahwa ia tidak kenal Sarika. Itu berarti Ishita benar. Aku harus memberitahu ini pada semua orang di rumah.

Halaman berikutnya Mohabbatein Sinopsis Raman Membuktikan Ishita Benar