Parmeet berbicara pada Sarika di telpon dan mengatakan Ishita akan datang ke rumah. Ishita tidak akan tenang sekarang, tidak ada yang mendukungnya, aku tidak akan meninggalkanmu.

Sarika menegaskan, “aku melakukan apa yang kau katakan, yang bukan kesalahanku.”
Parmeet mengancam dengan mengingatkan ibunya, jadi harus nurut apa yang dikatakannya, “pikirkan, jika kau bertindak cerdas, aku tidak akan meninggalkanmu.”
Parmeet memutuskan telpon, ia khawatir.

Parmeet bergumam, “Ishita akan membuat adegan besar di rumah. Pikirkan apa yang harus dilakukan sekarang.”

Raman dan Ishita masih dijalan. Raman meminta Ishita agar memberitahunya. Ishita teringat Parmeet yang melecehkannya. Ia menangis.

Di rumah, semua sedang menunggu Raman dan Ishita. Tuan Bhalla meminta penjelasan istrinya kenapa Ishita meninggalkan rumah.
Nyonya Toshi langsung bilang, “tidak. Dia membuatku marah, kadang-kadang bertindak begitu cerdas dan kadang-kadang begitu bodoh.”

Raman sampai dengan Ishita.
Nyonya Toshi langsung bersuara, “Raman, apa yang terjadi dengan Ishita.”

Ishita merespon, “aku tahu kalian memiliki banyak pertanyaan dan aku akan memberikan jawaban, tapi aku ingin semua orang disini.”
Simmi setuju, “baik”. Ia meminta Romi untuk memanggil Parmeet.
Parmeet datang dengan sikap tegang.

Raman menunggu penjelasan Ishita, “saatnya memberitahu semua, apa itu.”
Nyonya Toshi nyahut, “memberitahu kita dimana kau sepanjang malam.”
Raman meminta Ishita bicara, semua orang sedang menunggu, apa yang terjadi.
Ishita bersuara, “aku tidak bisa tinggal disini karena aku merasa terancam dengan Parmeet. Ia mencoba melecehkanku ku”

Simmi langsung bersuara, “kau mulai lagi.”
Nyonya Toshi juga menjelaskan itu salah paham.
Raman meminta semua diam, kenapa tidak ada yang memberitahunya tentang hal ini.

Ishita mengatakan bahwa ia akan memberitahu sejak awal. Ishita mulai bercerita, “Parmeet,,,”

Semua yang mendengar terkejut.
Raman tertegun. Kilas balik Parmeet dan Ishita.
Raman memotong, “cukup Ishita, jika kau berpikir ini, kenapa kau tidak memberitahuku. Dan kau memintaku untuk membantunya.”

Ishita menjelaskan, “aku membantunya sebagai menantu rumah ini. Cerita Dubainya itu semua salah. Ia juga melecehkan wanita disana.”
Simmi yang bersuara, “cukup.”

Ishita terus bicara, “aku tahu kebenaran hari ini tentang Sarika. Aku pikir aku akan memberinya kesempatan kedua karena ia adalah suami Simmi dan mempunyai seorang putri. Aku akan pulang dan berbicara dengannya di depan Simmi dan ibu mertua.”

Ishita terus memberitahu, “saat aku sampai, tidak ada seorang pun di rumah. Saat itu semua pergi untuk menonton film dan dia sengaja menungguku untuk mengerjaiku sendiri. Ia berusaha melecehkanku”

Simmi berteriak, “dia berbohong.”
Raman meminta Simmi untuk tutup mulut dan bertanya pada Ishita, “bagaimana kau dipenjara polisi hari ini.”

Ishita menjelaskan, “aku berlari keluar dari sini dengan khawatir. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Tidak ada seorang pun, jadi aku pergi ke Sarika. Tapi Sarika menolak membantuku dengan mengatakan ibunya sakit.”

Kilas balik apa yang dialami Ishita.

Ishita coba meyakinkan Sarika untuk membantunya. Ia membawa Sarika ke kantor polisi untuk melaporkan pelecehan perempuan. Sarika adalah saksi. Sarika mengubah pernyataannya di depan Inspektur. Ishita kaget.

Sarika balik menyalahkan Ishita untuk semuanya. Sarika malah memberikan keterangan yang baik untuk Parmeet dan melawan Ishita dengan mengatakan telah mengancamnya akan membunuh ibunya.

Ishita kemudian menyimpulkan apa yang dia alami, “sekarang aku mengerti, mungkin Parmeet telah mengancamnya untuk mengatakan ini.” Ishita pun ditangkap berdasarkan pernyataan Sarika itu.

Ishita membertitahu semua orang bahwa Parmeet melakukan semua ini. Ia takut Sarika akan mengubah pernyataannya, semua kesahan dituduhkaan padaku. Aku tidak berdaya. Jadi aku menelpon Bala karena aku mendapat kesempatan untuk menghubungi satu nomor.

Simmi bersuara, “bagaimana berani kau menuduh suamiku. Parmeet tidak bisa melakukan ini. Kau melakukan banyak kebaikan pada kami, tapi ini aku tidak akan lupa. Kau harus memikirkan anakku.”

Parmeet ikutan bersuara, “cukup Simmi”. Ia menaroh telponnya diatas meja, “jika dia beranggapan aku melakukan hal yang buruk padanya, maka dia benar.”
Nyonya Toshi bersuara, “tidak, aku tidak percaya padanya.”

Parmeet bersikap seakan tidak bersalah, “tidak apa-apa, aku menerima dosa-dosa ku. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi, aku akan menerima ini.”

Simmi membantah, “jangan lakukan hal ini. Beritahu kami bagaimana versi mu, jeelaskan.”

Parmeet pun bicara. “aku harus pergi.”
Semua orang menghentikannya.

Parmeet memulai dramanya lagi, “mengapa aku harus tinggal disini, kesalahanku sudah muncul kesini. Aku bakal minta maaf.”

Simmi minta Ishita untuk tidak melakukan hal tersebut pada mereka.
Ishita menjelaskan, “tolonglah mengerti, ini adalah kebenaran.”

Parmeet pura-pura seperti orang dipersalahkan, “aku tidak akan memberikan penjelasan apapun. Jika kau perlu bukti, lihat telponku.”
Simmi pun melihat ponsel.
Simmi menampar Ishita.
Raman bicara, “Simmi,,,”
Ishita menangis dan menatap Simmi.

Simmi berkata, “seperti ini kebenaran yang ingin kau katakan, Kau memiliki affair dengan Parmeet da kau mengirim pesan Parmeet,” sambil menunjukkan pesan.
Simmi percaya buta, “Ishita orang yang kotor.”

Raman membaca pesan, terkejut.
Ishita mengatakan aku tidak menulis semua ini.

Nyonya Toshi ikuta bicara, “pesan itu dari nomormu.”
Parmeet mulai ambil kesempatan, “aku menghapus banyak pesan. Raman dia tidak menulis ini. Dia mencoba mendekatiku. Aku menolak, tapi dia datang dengan ku. Aku datang kesini setelah bertahun-tahun di Dubai. Ia mencoba untuk datang padaku. Aku tinggal disini untuk mengatakan bahwa ini tidak benar.”

Ishita coba jelaskan, “Raman, percayalah.”
Simmi meragukan Ishita, “kau mengenakan gaun pendek saat ga ada Raman untuk merayu Parmeet.”

Ishita mengatakan, “ponselku tidak ada padaku.”
Raman bersuara, “cukup. Berikan aku telponnya.”
Parmeet bertanya, “akan kau periksa.”
Raman nyahut, “ya, mengapa kau takut jika kau tidak bersalah.” Raman kemudian memeriksa pesan.
Parmeet berpikir saat dia menggunakan ponsel itu saat ditinggalkan sedang di charge di rumah. Ia senang karena yakin Raman akan percaya padanya saat melihat pesan.

Raman bersuara, “apa ini. Bagaimana Parmeet tahu kita tidak memiliki hubungan apapun antara kita.”
Semua orang tekejut.

Raman bersuara, “kau mengatakan di depan semua orang. Sekarang semua jadi konsumsi publik. Aku tidak bisa memutuskan siapa yang benar atau salah.”
Simmi mengejek Ishita, “kau jatuh begitu rendah. Kau seperti wanita yang buruk.”
Ishita menangis sambil melihat Raman.

Nyonya Toshi ikut bersuara, “ibu Subbu mengatakan yang benar tentang Ishita. Dia ratu drama dan mempunyai karakter buruk.”

Tuan Iyer dan Nyonya, Mihika serta Ruhi pulang. Mereka berbicara tentang ulang tahun Shravan. Nyonya Iyer membahas Bala yang khawatir karena ada panggilan darurat dari temannya.

Nyonya Toshi menegur Ishita, “kau datang kesini untuk kehidupan Ruhi. Tapi aku tidak dapat merusak kehidupan anakku. Pergi dari rumah kami sekarang.”

Tuan dan Nyonya Iyer mendengar teriakan itu. Mereka datang. Mereka terkejut melihat Nyonya Toshi memperlakukan Ishita seperti itu.

Ishita meminta kedua orangtuanya untuk pergi. Nyonya Madhu bertanya pada mantunya, “Raman, apa yang terjadi, apa semua ini. Ibumu menyalahkan Ishita, mengapa.”

Raman meminta izin untuk mengambil Ruhi ke dalam dan meminta ibu mertuanya itu kembali. Ini masalah keluarganya.

Simmi bersuara, “aku akan beritahu mereka kebenaran bahwa Ishita menyalahkan Parmeet melecehkannya. Nyonya Iyer, Ishita mencoba memiliki hubungan terlarang dengan Parmeet. Dia menjelaskan pada kami semua.”

Tuan dan Nyonya Iyer terkejut.
Raman meminta ayah mertuanya untuk pergi. Nyonya Iyer tidak terima, “anakku tidak pernah bisa melakukan ini.”
Simmi pun semangat mematahkan ucapan itu, “kita punya bukti.”
Nyonya Toshi bicara, “bawa putrimu denganmu.”
Nyonya Madhu menjawab, “dia adalah istri Raman. Dia adalah emas murni. Dia benar tentang Parmeet, dia tidak berbohong.”

Nyonya Toshi meradang, “dia menantu sahku, aku tidak terima penghinaan ini.”
Nyonya Madhu tak mau kalah, “dia adalah putriku, aku tidak percaya ketidakadilan terhadapnya. Raman bicara.”
Raman diam.
Nyonya Madhu berkata, “Ishita tidak akan meninggalkan rumah ini. Aku akan membawanya bersamaku. Aku tidak akan membiarkan dia dengan orang-orang berpikiran kotor. Kalian meragukan kesuciannya, bagaimana. Aku tahu orang-orang ini tidak tahu menghormati. Ayo Ishita, kita tidak akan tinggal disini. Suamiku, aku bilang tidak mengijinkan Ishita dalam keluarga ini. Melihat mereka, mereka minum anggur, tidak makan sayuran, tapi kau tidak mendengarkanku. Sekarang lihat hasilnya.” Ia menangis.

Bala datang.
Ishita melihat Raman dan keluar.

Nyonya Toshi bicara, “biarkan dia pergi, sini Parmeet.”
Bala bicara pada Raman dan menegurnya karena melanggar kepercayaan Ishita, “kau tahu Sarika menjebak Ishita. Apa kau bertanya pada Ishita bagaimana dia menghabiskan waktu di penjara. Aku senang melihat kau disana, melihat berdiri untuknya. Aku salah, kau tidak mengatakan apa-apa dalam mendukungnya ketika keluargamu melawannya. Itu artinya kau meragukan dirinya.”

Bala terus memberi nasehat Raman, “dia adalah ibu dari putrimu. Ishita ingin membuat orang tuamu bahagia. Aku tidak bertanya apa-apa padanya karena aku percaya padanya. Aku tahu hatinya bersih. Aku berjuang dengan saudaraku dan ibu untuknya. Ibumu selalu menyalahkan dirinya. Dia mengatakan Ishita selalu membawa kehidupan Simmi dan Parmeet pada permasalahan. Kau harus belajar menghormati perempuan.” Bala pergi.

Raman marah dan melempar kaca. Ia berkata, “itu tidak berarti aku tidak punya sesuatu untuk dikatakan. Aku akan membuktikan dirinya tidak bersalah dan kemudian memberitahu semua orang.”

Halaman berikutnya Mohabbatein Sinopsis Raman Membuktikan Ishita Benar