Uttaran: Episode Akash Membuktikan Cinta, Menjadi Pelayan di Rumah Keluarga Meethi. Mukhta-Vishnu Saling Suka


Rathore mengatakan pada stafnya untuk mengirim dokumen karena ia tidak akan datang ke kantor hari ini karena ada keperluan keluarga. Dia melihat semua orang sibuk dengan perayaan. Akash berdiri disebelahnya dengan wajah sedih.

Meethi memotong kue. Semua bertepuk tangan. Meethi membagikan kue ke semua orang. Ia mulai bergerak ke arah Rathore. Semua jadi memperhatikan dengan serius karena Akash berdiri di sebelah Rathore.
Meethi berhenti di Rathore.
Akash hanya tersenyum saat Meethi berbalik dan berjalan kembali ke tempat yang lain berdiri. Ia menyeka air matanya.
Tapasya mengumumkan bahwa perayaan sebenarnya pada malam hari. Semua tersenyum.

Meethi berbicara dengan foto ibunya di dampingi Tapasya dan Damini, “bagaimana aku berharap kau ada di sini hari ini. Itu akan menjadi begitu menyenangkan, tapi aku tahu berkatmu akan selalu menyertaiku. Jangan mengkhawatirkanku karena temanmu ada untukku. Dia memperhatikan seperti yang selalu ibu lakukan. Dia bahkan tidak membiarkanku merindukan ibu bahkan untuk satu menit dan Anni tidak membiarkan senyumku menghilang. Tidak ada yang bisa menyakitiku karena keluargaku bersamaku. Ma Tapasya dan Anni adalah kekuatan terbesarku. Tidak ada yang akan terjadi padaku. Kau selalu di depanku,, di bibi. Meethi memeluk Tapasya, kemudian ke Damini.

Vishnu datang ke kamar Tapasya setelah ia menelpon. Mereka berdua duduk untuk berbicara.

Tapasya mulai bicara, “kau tahu semua yang terjadi. Aku bisa mengerti, aku menyadari bahwa Ichcha menyerahkan tangan Meethi ke tangan Akash sebagai dirimu, hanya Vishnu. Ia pikir Akash adalah Vishnu yang sama yang telah ia angkat, yang memiliki nilai-nilainya. Dia setuju pernikahan itu atas dasar itu saja.”

Vishnu memperliht kesedihan yang sama, “putri dari guruku di tipu menggunakan nama ku. Aku tidak akan bisa melupakan ini sepanjang hidupku, rasa bersalah itu akan terus ada. Aku berharap aku mencoba sedikit lagi untuk bertemu pada hari pernikahannya maka semua ini tidak akan terjadi. Anda tahu guruku telah memberiku hidup baru, identitas baru. Kemudian identitas yang sama menjadi neraka kehidupan putrinya. Bagaimanapun, kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi setiap kali anda ingin aku mengambil tanggung jawad atas Meethi, aku siap. Aku tidak mengatakan semua ini untuk kembali mendukung apapun. Seorang gadis telah ditipu. Jika aku bisa memberikan bantuan, aku akan senang.”

Tapasya kecewa dengan apa yang telah dilakukan Meethi dengan menyetujui untuk membiarkan Akash tinggal selama 23 hari di rumah ini. Dia seharusnya tidak melakukan itu, keputusannya salah. Ia ingin Akash pergi dan Meethi memulai hidupnya lagi.

Vishnu mengangguk setuju, “aku juga ingin melihat senyum di wajah putri guruku ini. Anda tidak perlu ragu jika memerlukan bantuan dengan cara apapun.”
Tapasya menunjukkan wajah senang, “akan ku beri tahu kau pada waktu yang tepat. Terima kasih.”
Vishnu keluar dari sana.

Akash hati-hati memasuki ruangan Meethi sambil memastikan orangnya tidak ada di sekitar situ. Ia melihat gelang kaki dan yakin bahwa Meethi sangat menyukainya. Ia kemudian menaroh di atas meja rias Meethi.

Akash terkejut saat mendengar ketukan di pintu. Meethi bertanya apa yang dia lakukan disitu. Akash bergerak ke arah gelang kaki di tarohnya, “aku berpikir kalau kau ingin teh atau kopi, aku datang untuk bertanya.”
Akash menunduk, juga sudah membersihkan kamar dan meja rias juga.

Meethi bertanya-tanya sambil berjalan mendekat. Ia melihat kotak, membukanya. Akash menunggu untuk melihat reaksinya.

Ia sangat senang sambil terbayang kejutan ulang tahun. Senyumnya tiba-tiba menghilang, mencengkran kuat gelang kaki itu.
Akash bertanya tentang perubahan sikap Meethi.
Meethi bertanya tentang hadiah, “aku tidak ingin apa-apa dari mu. Kau tidak perlu melakukan sandiwara di depanku dengan membawa hadiah ini. Lakukan semua yang kau inginkan tapi aku tidak akan pernah memaafkanmu.”
Meethi menangis, melempar gelang kaki ke Akash, “tidak pernah!” menatap Akash dengan perasaan hati terluka. Wajah Akash sama terlukanya.

Akash mencoba untuk berbicara dengan Meethi, “madam, kau dulu begitu suka gelang.”
Meethi menghadap Akash, “tapi sekarang aku benci, juga kau,, kenangan semuanya. Aku tidak ingin apa-apa. Sekarang pergi dari sini.”
Akash keluar dengan sedih.
Meethi menatapnya dan menangis.
KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk membaca kelanjutannya :

Iklan

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.