Uttaran: Episode Akash Membuktikan Cinta, Menjadi Pelayan di Rumah Keluarga Meethi. Mukhta-Vishnu Saling Suka


Rathore masih belum diam, “sayangnya ini tidak berhubungan dengan keluarga nyonya Tapasya Thakur. Ini adalah tentang anak saya juga. Meethi dan Mukhta itu tak ada bedanya bagiku. Ichcha ji adalah adik, temanmu, tapi dia berarti juga bagiku. Dia telah menyentuh hidupku juga. Meethi adalah putrinya. Aku juga ingin membuat permintaan kecil padamu, bagiku keduanya putriku, tapi aku merasa bahwa sebagian besar waktumu hany melihat hal-hal yang bertindak sebagai ibu Meethi saja. Mungkin aku ada, tapi Mukhta adalah putrimu.”

Sementara itu, Meethi menangis di kamarnya, terbayang dimatanya ucapan Rathore dan luka di tangan Akash. Dia juga ingat caranya bereaksi terhadap hadiah yang diberikan, “lakukan apa yang ingin kau lakukan, aku tidak menginginkan hadiahmu, dengar dengan jelas aku tidak akan pernah memaafkanmu, tidak pernah!”

Meethi menyeka air matanya, “tidak Meethi, kau tidak bisa jatuh lemah begini. Kau harus ingat setiap sakit mu. Apa yang telah dia dan keluarganya lakukan pada mu. Kau harus ingat mereka semua. Aku juga punya luka di tanganku, telah berjalan dengan kaki telanjang di atas kaca. Aku tidak mungkin jatuh lemah. Aku harus kuat.”

Mukhta datang untuk meminta maaf atas apa yang dia lakukan, “aku tahu aku telah menyakitimu dengan tindakan ku, tapi aku tidak berpikir aku melakukan sesuatu yang salah. Aku melakukan hal yang benar.”
Meethi mempertanyakan permintaan maaf dengan apa yang diucapkan Mukhta, “kau pikir kau melakukan hal yang benar, tidak ada perlunya minta maaf.”

Mukhta mengerti Meethi marah padanya.
Meethi merengut, “satu-satunya perbedaan adalah bahwa aku tidak akan mengharapkan apa-apa dari kakakku mulai sekarang dan seterusnya karena aku telah mengetahuinya dia berpihak kemana.”
Mukhta coba menjelaskan.

Meethi tak memberi kesempatan, “kita berdua teman, saudara, di tempat sendiri, aku tidak ingin ada yang terlibat dalam apapun yang terjadi antara aku dan Akash. Mengapa kau tidak mengerti, aku hanya ingin dia pergi dari sini tidak ada yang lain. Aku tahu betul ini adalah pertarungan ku sendiri, aku harus berjuang sendirian. Kau mungkin lupa, tapi aku tidak bisa melupakan rasa sakit masalah yang telah ku lalui. Kau tidak pernah mengerti. Kau mungkin berjiwa besar tapi aku tidak punya. Dia mungkin Dewa yang ok untukmu, tapi biarkan aku sendiri. Aku lemah, aku tidak bisa melakukannya, coba untuk memahami ini. Aku tidak ingin membahas apa-apa tentang dia. Kau lakukan apa yang kau suka, aku melakukan apa yang ku anggap benar. Maaf, aku tidak berharap ini darimu, bahwa kau mendukung dia, bukan sebagai kakakku.”
Meethi kemudian pergi.

Mukhta coba menghentikan Meethi, tapi sia-sia.
Dia bergumam, “hatiku mengatakan kau masih mencintainya. Hari ini ia memenangkan hati mu,, tidak lama lagi,, Aku akan datang dan meminta mu jika kau masih marah padaku.”

Akash sedang mondar-mandir di kamarnya, Meethi, luka ini tidak ada bandingannya dengan sambutan keluargaku yang telah diberikan padamu, rasa sakit yang ku berikan, ini bukan apa-apa. Bukannya beberapa orang dari keluargamu berpihak padaku.

Rathore datang untuk berbicara, ia melihat-lihat kamar.
Akash berterima kasih karena sudah mempercayai dirinya, “cara anda membela ku hari ini, aku merasa ada seseorang yang mempercayaiku. Aku telah memenangkan anda,,”

Rathore menghentikan Akash, “tidak secepat itu,, tidak begitu mudah. Ini tidak terjadi begitu cepat denganku. Kau datang kesini untuk memenangkan cinta Meethi. Hari kau menang dan memenangkan cinta keluarganya, hari itu kita akan berbicara topik ini. Aku belum lupa bahwa *ngepalin tangannya* kau telah menculik Mukhta. Masih ada beberapa peluang. Aku belum memaafkanmu. Jika seseorang mencoba untuk menyakiti aku atau keluargaku maka aku tidak memaafkan. Akau datang kesini bukan untuk memaafkan, tapi memberi saran mu. Kau menganggapnya sebagai saran atau peringatan. Kau tidak akan mengulangi apa yang telah kau lakukan di masa lalu,, sengaja atau karena kesalahan itu tidak akan berulang,” sambil menaroh tangannya di bahu Akash, “ini satu-satunya cara untuk mu menang.”
Rathore pergi.
Akash mengucapkan terima kasih.

Vishnu sedang bekerja dengan laptopnya saat Mukhta masuk. Mukhta melihat Vishnu melamun dan tersenyum sendiri. Mukhta menaroh segelas air di atas meja untuk membuyarkan lamunan Vishnu.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk membaca kelanjutannya :

Iklan

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.