Ichcha berteriak marah pada karyawan hotel tersebut, “jika anda tidak membantuku, aku akan melaporkan pada tuan Rathore”. Karyawan wanita langsung setuju, “ok, aku akan buka pintu.”

Pintu terbuka, mereka melihat Yuvraj sedang berusaha memperkosa Mukhta yang berteriak meminta tolong. Ichcha berteriak melihat hal itu, “Yuvraj!!”

Yuvraj terkejut dan berbalik. Mukhta juga terkejut melihat kemunculan Ichcha.

Yuvraj memegang Mukhta, “anda, ibunya Meethi. Ku minta anda untuk meninggalkan kami.” Ichcha balik meminta Yuvraj untuk melepaskan Mukhta. Yuvraj tak merespon, ia malah mendorong Ichcha ke lantai. Mukhta kembali menggigit tangan Yuvraj dan berlari memeluk Ichcha. Ichcha menyembunyikan Mukhta dibelakangnya.

Yuvraj marah, “kau tidak bisa melarikan diri dariku. Wanita ini tidak akan dapat membantumu hari ini.”

Ichcha melihat pisau di keranjang buah. Ia mengambilnya dan menyerang Yuvraj dengan itu. Mengenai wajahnya dan Yuvraj sangat marah. Ia mendekati Ichcha dengan marah. Ichcha kembali mengayunkan pisau ditangannya dan Yuvraj terjatuh.

Darah menetes dari pisau yang dipegang Ichcha. Ternyata melukai tangan Yuvraj. Yuvraj sangat marah.

Ichcha ingin membantu Yuvraj menghentikan darah dari luka ditangan Yuvraj. Tapi Yuvraj tak sudi dan meminta Ichcha untuk meninggalkannya, ia tak butuh bantuan.

Karyawan hotel dan Polisi muncul di kamar hotel. Polisi diminta untuk menangkap mereka berdua. Mukhta yang masih shock jadi terkejut dan ketakutan. Ichcha menangis melihat Yuvraj diborgol polisi. Petugas meminta Ichcha untuk tenang dan meminta Ichcha untuk ikut juga ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Ichcha masih menangis. Yuvraj menatapnya dengan marah sebelum dibawa polisi.

Ichcha melihat ke tangan Yuvraj yang terluka dan terbawa emosi. Ichcha terbayang saat Yuvraj masih bayi, dan menyusuinya di rumah Tapasya-Rathore saat Yuvraj bayi menangis.

Keluarga besar Bundela sedang mengelilingi meja makan saat Tej muncul sambil bernyanyi dalam keadaan mabuk berat. Dia bertanya dia harus duduk dimanan. Dia memilih duduk di kursi yang biasa di duduki Daddaji, sambil ngoceh, “maaf, aku duduk di kursimu ayah,” sambil menaikkan kaki ke meja.

Tej minta maaf pada Gunwanti atas sikapnya, karena ia minum banyak, semuanya itu karena kesedihan atas kepergian Daddaji. Veer bangkit, Gunwanti menahannya. Tej nyelutuk melihat sikap Veer, “kenapa kau terlihat begitu marah?” sambil melepaskan sepatu sambil kakinya masih terus nangkring diatas meja.

Umed memperingatkan adiknya itu bahwa ini adalah rumah, bukan hotel. Harus ada rasa hormat. Tej, seakan tersentuh dengan mengucapkan kata maaf, dan mengatakan bahwa ia ingat sopan santun dirumah, tapi lihat piringnya masih kosong karena adik iparnya tak memberinya makan.

Gunwanti mengisi piring Tej beberapa makanan. Tej nyelutuk kalo dia tidak akan makan rumput yang diberikan Gunwanti, karena itu tidak akan memberinya kekuatan. tej bersiul meminta makanan khusus yang dihidangkan untuknya. Chanda pun mengisi piring Tej dengan ayam. Amla dan yang lain terkejut dengan tindakan yang ditunjukkan Chanda.

Kasha menegur Chanda kalo itu bukan kebiasaan di rumah itu. Chanda malah menghina Kasha dengan ucapan bahwa ia tidak perlu bicara padanya seperi itu karena ia bukan hamba rumah itu. Kasha harus belajar menjaga batasannya. Gunwanti ikut mengingatkan, bahwa Chanda lah yang tidak paham, bahwa makanan yang dihidangan Chanda itu tidak diperbolehkan saat ini.

Chanda menunjukkan sikap cuek pada peringatan Gunwanti. Ia kemudian bicara pada Tej yang mau makan agar mengatakan pada semua orang bahwa Tej adalah pemilik setengah dari rumah ini. Apapun yang diinginkan Tej, akan dimasak di rumah ini. Tej merespon bahwa Chanda harus juga memberikan satu paha ayam pada cucunya, Yuvraj. Setelah dia, orang lain dirumah ini yang harus dapat suguhan itu adalah Yuvi. Chanda tersenyum manis. Veer meninggalkan meja makan, disusul Gunwanti.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk membaca kelanjutannya :