Yuvraj menyodorkan segelas sampanye, Mukhta bilanga ia tidak minum. Yuvraj agak memaksa. Mukhta juga bersikeras, “aku tidak suka semua ini, mari kita pergi dari sini. Aku tidak ingin pesta seperti ini.” Mukhta mau beranjak meninggalkan ruangan.

Yuvraj tidak menyerah, “dimana salahnya, perama kau datang, membangun harapan ku. Kemudian berpura-pura untuk menjauh? Jangan bersandiwara” sambil terus menenggak minuman.

Mukhta merespon, “apa yang kau maksud dengan sandiwara? Aku menganggapmu sebagai temanku. Aku memang sedang kesal, dan kupikir jika aku berbagi masalahku denganmu, aku akan merasa lebih baik. Itu sebabnya aku datang menemuimu. Tapi, apa yang ku lihat disini. Kau salah paham Yuvi.”

Yuvraj mendekati Mukhta, “siapa yang salah paham, aku?”
Mukhta membalikkan badan. Yuvraj memegang tangannya. Mukhta memohon, “lepaskan tanganku, biarkan aku pergi.” Yuvraj nyahut, “kau datang kesini dengan suka rela, apa kau pikir aku akan membiarkanmu pergi?”

Sementara itu, Tej yang sedang menari dalam keadaan mabuk, berdoa untuk jiwa Daddaji agar beristirahat dalam damai dengan sebotol alkohol ditangannya. Kemudian ia menari lagi dengan para gadis-gadis bar.

Ichcha mengetuk beberapa pintu kamar hotel, tapi tidak mendapatkan jawaban.

Di dalam ruangan, Mukhta berusah untuk pergi, tapi Yuvraj tidak membiarkannya dan mengingatkan untuk tidak mencoba pergi. Mukhta terus memohon agar Yuvi membiarkannya pulang, mengapa temannya itu melakukan semua itu padanya.

Yuvraj menjelaskan, “dia tidak dianggap oleh gadis seperti Mukhta. Ia terpaksa melakukan semua ini karena masih dihantui oleh tamparan yang sebelumnya dilakukan Mukhta. Jika semuanya berakhir sampai disitu, semua tidak akan jadi masalah. Tapi, kau memanfaatkanku dan persahabatanku, nonton film sampai larut denganku, menerima semua bantuanku, dan melibatku dalam permainanya dengan Aman.”

Mukhta memohon agar Yuvraj menghentikan semua niat jahatnya pada dirinya. Yuvraj tak mendengarkan Mukhta ia terus meracau, “emang kau pikir aku anak-anak yang tak mengerti semuanya. Aku tidak mengerti apa yang kau inginkan dariku, sekarang seakan semua itu tidak ada yang salah. Mari kita bersenang-senang.”

Mukhta mau menampar Yuvraj, tapi ditahan oleh Yuvraj, “tangan ini tidak akan pernah menamparku, ia hanya akan membelaiku dengan penuh cinta.”

Menayangkan kembali Tej yang sedang menari dengan para gadis bar.

Mukhta menggigit tangan Yuvraj. Yuvraj kesakitan, “kau tidak akan melarikan diri dariku sekarang”. Kemudian mendorong Mukhta ke tempat tidur. Mukhta meminta Yuvraj agar menghentikan niat gilanya. Yuvraj tak peduli, “kakakmu tidak akan dapat menghentikanku hari ini. Hari ini kau bisa pergi setelah balas dendamku selesai.”

Mukhta bersuara, “ku pikir kau telah berubah.”
“Aku berubah hanya untuk balas dendam.”

Mukhta berteriak. Yuvraj menutup mulut Mukhta dengan tangannya.
Ichcha di luar ruangan bertanya pada seseorang apa melihat seorang gadis. Tolong beritau dia.

Mukhta berteriak minta tolong. Yuvraj mengancam, “jika kau berteriak, kau akan mendapatkan lebih banyak penyiksaan.”

Ichcha diluar ruangan terus mencari dengan wajah khawatir. Sementara Yuvraj di dalam ruangan mencoba untuk menganiaya Mukhta.

Ponsel Mukhta berdering. Ichcha yang tepat berada di diluar berhenti di depan pintu kamar suara ponsel terdengar, “itu ringtone ponsel Mukhta.” Ichcha berteriak memanggil Mukhta. Mukhta pun berteriak tolong dari dalam.

Diluar, Ichcha berteriak meminta tolong. Seorang wanita dengan keranjang untuk bersih-bersih datang dan meminta Ichcha untuk tidak melakukan tindakan konyol itu. Ichcha tidak mendengarkan, ia meminta wanita itu untuk membuka pintu dengan master key. Mukhta berteriak minta tolong lagi. Staf hotel juga mendengar teriakan Mukhta, tapi ia mengatakan pada Ichcha bahwa ia tidak bisa membantu.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk membaca kelanjutannya :