Kawans, saya jadi tercenung setelah menguping pembicaraan dua orang bapak tadi. Kadang, kita suka bersikap seperti ibu yang di bahas mereka. Bapak yang membelikan karung itu pekerjaannya sopir, masih ngontrak, istrinya bisa dagang karena dikontrakin warung oleh majikannya. Pastilah duit yang ia pergunakan untuk beli karung untuk suami si ibu, tidak mudah ia dapatkan dan uang itu sangat dibutuhkan oleh keluarganya.

Tapi, kita *ibu sombong*, sudah punya rumah sendiri, bahkan lebih dari satu. Punya kendraan mengkilap, baru selesai renovasi, tidak mau membayar karung yang sudah dibelikan, yang total harganya tidak lebih dari lima puluh ribu rupiah. Kita merasa hebat? Tapi,, menyombongkan diri pada mereka yang kurang mampu!

Kawans, simak juga tulisan ini untuk inspirasi : Tak Cukup Kata Indah Untuk Berterima Kasih Pada Seorang Ibu di hari Istimewanya.

Contoh lain dari sikap sombong kita, tapi bisanya pada mereka yang secara materi ada dibawah kita. Kita sangat suka menawar dengan harga serendah-serendahnya pada pedagang kecil *walo kadang mereka ngasih harga juga suka ketinggian*.

Bahkan pada bapak-bapak atau ibu-ibu yang fisiknya sudah ringkih, tapi masih berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kita ga tersentuh dengan kondisi mereka, kita malah berfikir, “itu derita lo, apa yang lo lakuin waktu muda hingga udah tua begini lo masih harus bergulat dengan hidup”. Padahal, banyak anak TK yang pikirannya masih polos, sangat empati kalo melihat orangtua masih bekerja berat. Kita? Masa bodo.

Cilakanya, kita kalo belanja di supermarket dan sejenisnya, kita main ambil barang yang kita perlukan tanpa melihat harganya. Bahkan merasa jumawa karena tak perlu meneliti harganya dulu, secara kita merasa bisa membayar total belanjaan kita. Apa yang salah dengan kita?

Memang, tidak semua ‘orang kecil’ itu jujur, dan tidak semua ‘orang berduit’ itu pongah. Setidaknya, kita tetap berada di posisi kita sebagai manusia, saling peduli dan menganggap semua harta yang kita miliki di dunia ini hanyalah titipan.