Ashoka: Di Tahan. Ahankara Salah Tafsir, Dikira Ashoka Mencintainya, Ternyata Hanya Pengorbanan Persahabatan


Ashoka memegang lengan Ahankara. Ahankara menoleh menatap Ashoka. Ashoka menatap Ahankara juga dengan tatap memohon. Ahankara melihat ke lengannya yang dipegang Ashoka. Ashoka bicara dengan nada yang tidak akan menimbulkan salah tafsir lagi, “tidak putri Ahankara, tidak. Kau tidak mungkin melakukan itu”.

Dengan lemas Ahankara menyingkirkan tangan Ashoka dari lengannya, menatap Ashoka dengan perasaan sedih yang tertahan, “mulai sekarang, kau kehilangan hak untuk mengendalikan keputusanku Ashoka. Selama ini kau melakukan hal yang kau anggap benar, dan aku juga akan melakukan hal yang kuanggap benar”. Ashoka menunjukkan wajah sedih. Ahankara bergegas ke luar ruangan penjara. Ashoka coba menahan keputusan Ahankara yang ingin balas budi itu, “jangan Ahankara!”. Tapi keputusan Ahankara sudah bulat. Pengorbanan Ashoka yang ternyata hanya menganggapnya sebagai sahabat, tidak harus berujung maut.

Ashoka #215 16 episode

Sementara itu, Dharma juga menemui Bindusara untuk mengetuk hati Bindusara, awalnya terlihat wajar dengan sikapnya dengan kedua telapak tangan terkatup rapat di depan dada, “aku mohon padamu Yang Mulia, ma’afkan Ashoka. Dia adalah putramu, darah dagingmu. Bagaimana kau bisa keras hati terhadap anakmu ini? Jika ada yang bersalah, itu, itu adalah aku, bukan Ashooka”. Bindusara mendengar dengan mata tak melihat Dharma.

Dharma mulai menunjukkan sikap diluar kebiasaanya, menatap Bindusara dengan kosong, “ketika pertamakali Ashoka mengatakan padaku bahwa dia membenci Sushima, bahwa dia iri pada Sushima, seharusnya aku tidak diam”. Bindusara mulai menatap Dharma yang bicara dengan wajah menahan marah. Dharma tetap bicara seolah-olah ingin meyakinkan Bindusara, “saat dia mengatakan dia tidak akan membiarkan Sushima menjadi pewaris, bahkan akan memastikan bahwa dialah yang akan menjadi pewaris tahta kerajaan ini. Seharusnya aku tidak diam”. Dari sisi lain, terlihat bahwa jiwa yang sedang bicara dihadapan Bindusara itu adalah Charumitra.

Dharma yang sedang di kendalikan ilmu sihir Charumitra terus bicara, “ketika dia mengatakan, dengan memanfaatkan ketidak hadiranmu untuk menjadi Agradot, akan menimbulkan masalah bagi Sushima, mau menyalahkan Sushima, meskipun dia tidak menjadi penguasa sementara, tapi dia jauh lebih kuat dari Sushima”. Bindusara menatap sosok Dharma di depannya. Dharma yang dalam sihir Charumitra, masih bicara, “seharusnya aku berusaha untuk mencegahnya, tapi,,”, dengan tersedu.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.