Ashoka: Di Tahan. Ahankara Salah Tafsir, Dikira Ashoka Mencintainya, Ternyata Hanya Pengorbanan Persahabatan


Ashoka #215 08 episode

Malam semakin larut, Dharma menemui Ashoka di penjara dan mencari tau apa yang terjadi, “aku tau ini tidak benar, bahkan Dewa sekalipun yang mengatakan ini padaku bahwa kau sudah berusaha menghabisi kakakmu, aku tidak akan percaya”. Ashoka hanya berdiri sambil memegang jeruji besi penjara dengan membelakangi ibunya. Dharma mendekat, menarik lengan Ashoka agar melihat ke arahnya, “aku bisa mengerti kau menjadi Agradot dan ikut campur dalam pertengkaran ketidak adilan di kerajaan, aku bisa mengerti apa alasannya. Tapi saat kau sanggup menghabisi orang, rasanya tidak mungkin kau lakukan. Katakan apa yang telah terjadi”.

Ashoka tak berani menatap mata ibunya, ia kembali membalikkan badan menghadap teralis, “yang benar adalah apa yang ku katakan padamu, aku melihat kak Sushima menyiksa putri Ahankara dan adiknya, aku jadi kesal! Karena emosi aku menyerangnya”. Dharma tak percaya apa yang dikatakan Ashoka, ia meraih tangan Ashoka, menaroh di atas kepalanya.

Mata Ashoka jadi terbelalak dengan apa yang dilakukan ibunya, mana berani dia berbohong dengan kepala di atas kepala ibuny. Dharma menantang Ashoka untuk mengulang pengakuannya, “sekarang katakan dengan yang sebenarnya”. Mata Ashoka panik, ia menarik tangannya dari atas kepala ibunya, kemudian berkata dengan nada putus asa dan kesal, “walau ku katakan berkali-kali, kebenaran ini tidak akan berubah”, kemudian menjauh dari ibunya berdiri sambil menenangkan nafasnya. Dharma memperhatikan punggung Ashoka.

Ashoka setelah agak tenang, bicara, “aku tau telah menyakiti ibu dan ayah. Kalian telah kecewa dan kalian pasti sedih. Ibu sudah bilang padaku, kalau senjata di tangan, maka kesadaran berhenti bekerja. Itulah yang terjadi padaku, untuk sesaat itu aku sama sekali tidak ingat pada batasanku, aku lupa kalau yang di depanku itu bukan musuh, tapi kakakku sendiri”, dengan memegang dada sambil menangis, kemudian membalikkan badan, menatap Dharma, mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada, “ma’afkan aku bu”. Ashoka terkejut, ternyata ibunya sudah tak berada lagi di tempatnya tadi berdiri menatapnya. Begitu cepat, bahkan pintu penjara itu sudah tertutup. Ashoka lemas, “ma’afkan aku bu. Aku mohon ma’afkanlah aku”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.