Ashoka: Di Tahan. Ahankara Salah Tafsir, Dikira Ashoka Mencintainya, Ternyata Hanya Pengorbanan Persahabatan


Bindusara tak merespon ucapan Dharma, ia malah menatap Ashoka dengan wajah semakin bengis. Radhagupt cemas melihat hal itu, Ahankara hanya bisa menatap apa yang terjadi di depannya dengan mata berkaca-kaca. Ashoka juga hanya menundukkan pandangan matanya.

Dharma mau maju ingin memegang dan memeluk Ashoka, tangan Bindusara menghalanginya dengan keras hingga Dharma sampai terbanting ke lantai dan mengaduh. Melihat ibunya dapat perlakuan kasar dari ayahnya, Ashoka spontan berteriak, “Ibu!” sambil mengacungkan pisau berlumuran darah yang masih dipegangnya, ke leher ayahnya sendiri, Yang Mulia Bindusara.

Bindusara sampai melotot tak menyangka dengan gerak cepat Ashoka merespon kesakitan ibunya. Ashoka menatap Bindusara dengan tatap tak takut apapun, apalagi menyangkut kehormatan ibunya.

Calata memperhatikan tindakan Ashoka yang menodongkan senjata ke penguasa Magadh Bindusara dengan terkejut, Helena agak meringis, tapi keduanya seperti menunggu kelanjutan sikap Ashoka, hingga hal itu akan semakin menghancurkan hubungan Bindusara dan Ashoka yang dianggap sebagai penghalang utama dalam tujuan mereka mencapai tahta. Sementara Radhagupt hanya bisa terbelalak, begitu juga dengan Ahankara yang berdiri di belakang Ashoka.

Ashoka #215 03 episode

Ashoka masih belum menurunkan pisau dari leher Bindusara. Dharma yang masih dalam posisi terjerembab di lantai, heran dengan kediaman orang-orang, ia menoleh ke arah Ashoka. Betapa terkejutnya Dharma dengan sikap Ashoka, ia berteriak, “tidak! Putraku!”. Mendengar suara ibunya, pisau ditangan Ashoka terlepas ke lantai.

Calata tak bisa menyembunyikan wajah senangnya dengan sikap yang sudah melewati batas yang dilakukan Ashoka pada seorang penguasa Magadh. Radhagupt masih sangat terkejut dengan kejadian beruntun yang dilihatnya. Helena melirik ke arah Dharma yang bangkit dan berdiri di samping Ashoka, menatap Bindusara. Bindusara menatap istri dan anak yang dulu begitu disayanginya itu dengan tatap penuh kekecewaan. Tapi, tak mencari tau dengan mandiri apa yang membuat kedua orang yang begitu mencintainya itu bisa berubah dimatanya.

Dharma menatap Ashoka yang sedang tertunduk sedih, dengan nafas memburu bicara, “minta ma’af pada ayahmu, cepat Ashoka, minta ma’af padanya”. Ashoka memperhatikan sikap Dharma yang sedang mencoba memperbaiki hubungan ayah anak. Radhagupt menunggu, apa respon yang akan diberikan Bindusara, begitu juga dengan ibu suri Helena.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.