Ashoka: Sebagai Agradot Membalaskan Penganiayaan & Mengaku Sebagai Penyerang Sushima Untuk Selamatkan Ahankara


Ashoka hanya berdiri mengernyit mendengar semua tuduhan Calata yang memang memihak Sushima. Ahankara menatap Bindusara dengan cemas, apa yang ia takutkan akan terjadi, tidak akan ada yang mau mendengar alasan untuk mencari sebuah kebenaran.

Ibu suri Helena ikut bersuara, “Yang Mulia, kita harus mendengarkan penjelasan Ashoka”. Bindusara menyarungkan pedangnya. Ibu suri Helena menatap ke arah Ashoka, “Ashoka, apa yang kau katakan tadi. Apa yang telah dilakukan Sushima?!”. Ashoka mau menjelaskan, “tapi,,,”. Yang Mulia Bindusara mengangkat tangan kanannya, “aku tidak ingin mendengar hal lain”. Helena terdiam sambil melirik Calata. Radhagupt hanya bisa menatap keadaan yang terjadi di depannya.

Bindusara menatap Ashoka, “siapa yang melukai Sushima”. Mata Ashoka menunduk gelisah. Ahanakara menahan nafas, wajahnya pucat dengan mata bergerak gelisah. Calata memperhatikan dengan teliti. Radhagupt menunggu dengan cemas. Ahankara berdiri dengan wajah mengerucut takut, Bindusara melihat hal itu, ia menatap tajam Ahankara. Ashoka menoleh ke kiri, melirik ke belakang. Bindusara terus menatap Ahankara yang menunjukkan wajah ketakutan.

Ashoka #214 19 episode

Di ruang tabib, Charumitra yang berdiri di samping dipan, disisi kiri Sushima yang terbaring belum sadarkan diri terus mengajak putra kesayangannya itu bicara, “buka matamu, Sushima, kau tidak akan apa-apa. Tidak akan terjadi apa-apa padamu, buka matamu”. Tabib terus memberikan pengobatan terhadap luka Sushima, yang lain membuat ramuan obat.

Charumitra bertanya dengan cemas pada tabib, “kenapa dia diam saja”. Tabib yang terus bekerja memberikan keterangan, “sudah banyak kehabisan darah permaisuri. Karena lukanya, darahnya sulit di hentikan”. Charumitra memberi perintah sambil menatap wajah Sushima, “kalau begitu, cari jalan keluarnya. Kalau terjadi sesuatu, tidak akan ada yang selamat”. Kemudian menatap putra yang diharapkannya jadi penguasa Magadh, “Sushima, kenapa kau tidak menuruti kata-kataku, buka matamu dan katakan semuanya baik-baik saja”. Sushima masih belum siuman.

Tabib utama melihat ke arah tabib yang membantunya memegang besi yang dipanaskan diatas dupa perapian, ia mengambil besi tersebut, memanaskannya lagi. Charumitra memperhatikan apa yang dilakukan tabib.

Tabib membawa besi panas ke samping Sushima terbaring, Charumitra langsung protes, “apa yang kau lakukan?!”. Tabib menjelaskan, “untuk menghentikan darahnya, aku harus membakar lukanya dengan ini, supaya lukanya mengecil dan darahnya mulai berhenti perlahan”. Charumitra melotot, “tapi dia akan kesakitan. Kenapa kau ingin menyiksanya?! Dia sudah mengalami luka parah?”. Tabib meyakinkan permaisuri yang biasanya tak pernah peduli pada kesakitan orang lain itu, “inilah satu-satunya cara untuk mengobati lukanya. Kalau darahnya mengalir terus, kita tidak akan bisa menyelamatkan dia”. Charumitra menahan tangis sambil menatap wajah Sushima yang masih terbaring tak sadarkan diri. Charumitra akhirnya mengangguk. Tabib pun melnajutkan tindakan pengobatan pada luka Sushima.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Satu respons untuk “Ashoka: Sebagai Agradot Membalaskan Penganiayaan & Mengaku Sebagai Penyerang Sushima Untuk Selamatkan Ahankara

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.