Mobil Kerem sampai di belakang taksi yang akan membawa Bennu. Memarkir mobilnya, turun, “Bennu”, melangkah ke hadapan mantan istrinya, “aku sudah berjanji, aku mohon Bennu ijinkan aku mengantarmu”. Bennu yang masih berdiri di sebelah Melek menarik nafas, matany bergerak gelisah. Melek hanya beridiri diam dengan wajah sedih memperhatikan dua orang yang sangat disayanginya, yang sekarang sedang menjalani hari dengan perasaan bersalah satu sama lain dan juga pada sahabat mereka Shehrazat Onur.

Selanjutnya, Bennu sudah duduk di sebelah Kerem, di dalam mobil yang akan mengantarnya ke bandara. Kerem membuka percakapan, “begitu sampai nanti, kabari aku ya”. Bennu menjawab dengan nada pesimis, “Kerem jangan harapkan itu dariku. Aku akan meninggalkanmu setelah semua ini”. Kerem terus menyetir, “kau bisa lupakan aku”. Bennu menjawab pasti, “ya, kalau itu memungkinkan. Jangan minta nomer telfonku dari Melek dan jangan menelfonku”. Kerem menarik nafas berat menatap Bennu yang duduk di sebelahnya.

Bennu setengah memohon pada Kerem, “jangan persulit semuanya. Aku akan turun di depan saja langsung”. Kerem merespon sambil terus menyetir, “untuk itu biar aku yang tentukan. Aku mohon”. Bennu tak memaksa, “baiklah”. Mobil yang disetir Kerem memasuki bandara.

Di depan meja kerjanya, Onur menatap undangan pernikahan Shehrazat yang kemaren ia terima dari mantan istri Engin. Ia kemudian menyobeknya kecil-kecil, membuangnya ke tong sampah, juga bersama sampul undangannya. Onur bangkit, memasukkan pulpen ke saku kemeja, merapikan jasnya, kemudian keluar ruangan. Sekretarisnya yang sedang bekerja serius jadi bangkit. Onur bicara singkat, “aku akan segera kembali”. Sekretaris menjawab sopan, “baiklah tuan”. Onur melangkah meninggalkan kantornya.

Shehrazat episode akhir 10

Bennu sudah duduk di pesawat. Ia melamun dengan tatap hampa. Ia menoleh terkejut saat mendengar suara yang begitu dikenalnya, “boleh aku duduk?”. Wajah dan tatap hampanya perlahan mencair, ia tak tau harus merespon apa, Kerem duduk kursi pesawat di sebelahnya, menatapnya dengan tatap memohon jika ia mencintai Bennu, “bagaimana mungkin aku membiarkan kau melupakanku Bennu. Aku tidak bisa hidup tanpa mu. Tanpamu, aku, tidak akan jadi diriku”.

Mata Bennu yang berkaca dan tak sanggup menatap Kerem, tersenyum haru. Keinginannya agar Kerem menunjukkan cinta yang tulus padanya tercapai, wajahnya sudah lama hanya menunjukkan tatap duka perlahan tersenyum menatap Kerem. Wajah Kerem yang sebelumnya juga seperti hidup tanpa jiwa perlahan juga berhias senyum. Bennu menatap mantan suami yang masih bisa menjadi suaminya itu dengan haru. Pesawat yang mereka tumpangi mulai mengudara, membawa harapan dan kehidupan baru bagi cinta mereka berdua.

Shehrazat episode akhir 13

Di ruang pesta pernikahan, tamu sudah duduk mengelilingi meja masing-masing. Shehrazat yang dalam pakaian penganti putih memasuki ruangan dengan memegang lengan kiri Engin. Tamu bertepuk tangan menyambut kehadiran calon pengantin tersebut. Sepasang saksi yang ada dipanggung tempat akan dilaksanakan prosesi pernikahan ikut berdiri. Shehrazat yang tak tampak senyum di wajahnya, dibantu menaiki panggung oleh Engin dengan penuh perhatian.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk membaca kelanjutannya :