Pulang Ke Rumah Keabadian-Ucapan Selamat Jalan Untuk Eyang Putri


Pulang, sebuah kata yang jika di ucapkan seorang anak perantauan, dipastikan ucapan itu menyimpan sebuah kerinduan. Tapi jika kata berpulang diucapkan oleh seorang anak manusia yang ditinggalkan, selalu berisi air mata kesedihan. Akan tetapi, kesedihan itu selalu di iringi sebait kata penyemangat oleh anak manusia lainnya, “semoga tabah, di beri ketegaran dan yang ‘pulang’ di luruskan jalannya, diterangi menuju rumah keabadian”.

Walau setiap manusia sudah menyadari dari awal, bahwa setiap kehidupan pasti akan diakhiri kematian, pertemuan berujung perpisahan, di balik senyuman selalu ada air mata yang menunggu giliran untuk di tumpahkan.

Tetap saja, bila waktu perpisahan itu datang, yang di tinggalkan akan merasa sedih, tak siap, bahkan kadang diisi sebuah sesal karena tak memanfaatkan waktu kebersamaan yang singkat di dunia dengan sebuah hubungan yang harmonis.

Itulah kenapa saat ada kerabat yang pulang ke rumah ke abadian, selalu di iringi isak tangis. Kesediahan itu tentu saja menangisi perpisahan, apalagi jika perpisahan itu terjadi secara tiba-tiba. Padahal, mereka yang pulang, sejatinya sudah membawa bekal yang cukup, tapi yang namanya manusia selalu lupa, sudah tau dunia hanya sementara tetap saja merasa seakan hidup selamanya. Merasa masih punya banyak waktu, padahal kematian adalah hak penuh dari si pemilik jiwa.

Pulang Ke rumah Keabadian

Eyang Putri, Jum’at, 13 November 2015, Mama mendapat sms kondisi kesehatanmu menurun, anak-anakmu yang tinggal di dekatmu meminta Papa, putramu, untuk menjengukmu. Jarak yang lumayan, membuat kita tidak bisa bertemu setiap saat. Setelah Jum’at papa bertolak menuju kampung masa kecilnya. Sabtu dinihari, Mama dapat kabar dari Papa, kau di bawa ke rumah sakit. Minggu Subuh, 15 November 2015, Mama kembali menerima kabar kalau sudah kembali ke rumah ke abadianmu,,, Selamat jalan, kau sudah kembali ke pemilikmu.

Eyang, kau pulang dalam nikmat usia yang cukup banyak, 20 tahun lebih lama dari usia Nabi saat berpulang ke rumah-NYA. Kau juga meninggalkan nikmat lain dunia, berupa putra putri yang masih hidup sebanyak 6 orang, karena dua putramu telah lebih dulu menemui teman hidupmu di rumah-Nya.

Apakah ke enam orang anak tersebut, yang sudah memberimu beberapa cucu, termasuk aku, bisa menjadi ‘penerang’ rumahmu dengan mengirimkan doa yang bisa diijabah-Nya? Entahlah, karena doa yang tak kan pernah terputus adalah doa anak yang sholeh. Atau ke enam orang itu, justru akan menjadi penyebab buramnya jalan menuju rumah-Nya, padahal sudah kau persiapkan dengan sangat baik selama hidup di dunia? Entahlah.

Eyang, kau adalah seorang ibu yang sangat tangguh dalam membesarkan anak-anakmu. Kau jadi penaung mereka dalam semua hal. Bahkan untuk beberapa anakmu, yang semuanya sudah berkeluarga, kau masih bisa dibilang sandaran mereka. Kau mempercayai mereka dengan sepenuh kasihmu sebagai ibu, sebagai mertua, sebagai nenek. Tapi, tak semuanya sesuai harapanmu, sangat sering dari anak-anak dan mantumu mengkhianati kepercayaanmu itu.

Tapi kau, dengan keluasan kasih sayang yang kau miliki, kau tetap bisa mema’afkan dan memaklumi mereka. Mereka, entah karena lupa, seringnya juga melakukan kesalahan yang sama lagi. Kau tetap bisa menerima mereka. Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah, sepertinya kau buktikan dalam perjalanan hidupmu.

Eyang, kau sangat di kenal karena ke murahan hatimu pada keluarga besar yang kau miliki. Tapi kebanyakan dari mereka terkesan memanfaatkanmu, kau tetap tulus pada mereka.

Eyang Putri, dengan telah berpulangnya dirimu, semoga semua harapanmu semasa hidup bisa dilaksanakan anak-anak dan cucumu. Bagi mereka yang kau beri kepercayaan lebih, tapi membalasnya dengan berkhianat, semoga mereka menyadari kekeliruan tersebut.

Bagi mereka yang merasa jauh darimu selama hidup, semoga bisa berlapang dada menyadari keterbatasan mu yang juga hanya manusia biasa. Tak bisa di pungkiri, seorang ibu yang memiliki beberapa anak, akan selalu mempunyai seorang anak yang paling di kasihinya. Itu adalah manusiawi. Semoga semua anak dan cucumu selalu bisa hidup rukun seperti harapanmu. Dan kau, bisa melihat dari ‘Sana’ dengan tersenyum. Semoga.

Cucumu ini memberikan kata ucapan selamat jalan padamu Eyang Putri, semoga rumah keabadianmu adalah rumah terbaik, rumah yang selalu diterangi tiga amalan yang selalu mengalir, yang kau tinggalkan di dunia ini.

Kadang semasa hidup kita hanya bisa saling melihat ke kurangan. Padahal kematian itu selalu ada dalam setiap kedipan mata, waktu yang dikira masih panjang untuk bisa saling memperbaiki kesalahan, ternyata hanya singkat. Masihkah kita berkawan dengan Ego masing-masing?

Hiduplah sebaik-baiknya di waktu saat ini, karena apa yang terjadi setelah ini, itu masih rahasia. Jangan meninggalkan rumah dengan membawa kemarahan. Jangan pernah tidur dalam kekesalan. Karena, kita tidak tau apakah kita masih bisa membuka mata untuk mengucap sebuah kata ma’af.

Iklan

Gimana Menurutmu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s