Cinta Elif Kara Para Ask #24 20 episode

Elif sudah di depan ruangan Asli, mengetuk pintu, membukanya, melongokkan kepala. Asli yang sedang merapikan tempat tidur menoleh ke arah pintu. Elif menyapa, “Asli”. Asli menyambut dengan pelukan hangat, “Elif”. Elif memeluk erat Asli, “kakakku sayang”. Asli melepaskan pelukannya, “aku kira kalian sudah melupakan aku disini”.

Elif kembali memeluk Asli, “itu tidak mungkin, kau lihatkan aku datang”. Asli melepaskan pelukannya, menunjukkan wajah cerianya, “aku ingin katakan sesuatu padamu ELif, katakan pada ibu dan Taner, jangan datang kemari lagi, huh”. Elif terdiam menatap Asli. Asli tak menaruh prasangka apapun.

Elif menunjukkan wajah sedih menatap Asli, “ayolah sekarang, kita bicara sebentar”. Asli membalikkan badan menuju ranjang perawatan, “baiklah Elif, baiklah, aku tau kalian semua pada marah padaku, jadinya kalian seperti inikan, benarkan”. Elif mengusap jidatnya, beratnya menyampaikan sebuah kebenaran.

Elif mendekat, duduk di sebelah Asli. Asli menunggu apa yang akan dibicarakan Elif dengan wajah semangat. Elif menata perasaannya, memegang tangan Asli yang ditaroh di tempat tidur, “kakak, ada yang ingin aku katakan padamu. Kita, kita kehilangan ibu kak, dia kecelakaan”. Wajah Asli yang bersemangat seakan terdiam, matanya bergerak mencari mata Elif, ia menggeleng, “tidak”. Elif memegang pipi kakaknya, “Asli”. Asli setengah berteriak, “tidak! Tidak!”. Tapi menurut saat Elif memeluknya, dan menangis di bahu Elif, “tidak!”. Elif menenangkan, “Asli”. Asli menangis sekencangnya sambil memanggil, “ibu! Tidak! Tidak!”. Elif terus memeluk Asli sambil menenangkannya.

Tayyar yang ternyata sempat melihat secara diam-diam Elif yang bicara tentang kematian ibunya pada Asli, kemudian bergegas turun ke ruangan operasi rahasianya bisnis ilegalnya. Ia langsung bicara melihat siapa yang sudah menunggunya, “apa yang kau lakukan Metin”, sambil melepaskan jaketnya. Metin yang melipat kedua tangannya di depan dada, menjawab dengan nada dingin, “aku melakukan tugasku paman”. Tayyar tak membantahnya, “ya, ya, aku tau. Lalu bagaimana dengan Elif”.

Cinta Elif Kara Para Ask #24 22 episode

Metin memberitau apa yang diketahuinya, “dia sudah pergi pagi-pagi, aku melihatnya di depan kantor, lalu dia menemuimu. Aku tau kalau dia bersamamu paman”. Tayyar yang sudah berdiri dekat Metin, menatap anak buanya itu dengan tajam, “tapi kau tidak tau dimana dia antara dia di rumah atau di kantor”. Metin balas menatap Tayyar.

Tayyar memegang tangan Metin yang sebelumnya ia lukai. Metin menahan rasa sakitnya. Tayyar tanpa perasaan memegang tangan Metin, “kau tidak berfikir Metin, karena cinta, itu telah membuatmu tidak mampu, berfikir jadi sangat lambat. Kau telah membuang energimu sia-sia”, baru melepaskan tangan Metin dengan sentakan. Metin menahan semua rasa sakit fisik dan jiwa itu, ia kembali berdiri dengan tegak dan wajah dingin.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :