Nyonya Elvan melihat ke ujung-ujung anak tangga yang menuju rumahnya dari tempat parkiran di pinggir jalan, kosong, yang ditunggunya belum terlihat, ia melanjutkan menyapu lagi. Hanya berapa saat ia kembali menyapu, saat mendongak lagi, ia melihat Omer menaiki tangga setapak menuju rumah dengan bergegas, ia menyapa Omer, “oh, anakku dari mana saja kau”. Omer heran dengan ekspresi gelisah ibunya, “ibu, ada keperluan apa memanggilku”.

Cinta Elif Kara Para Ask #24 08 episode

Nyonya Elvan memberitau, “tidak ada apa-apa, Can dan Verhat ada disini, mereka menunggumu”. Omer menunjukkan wajah bingungnya, “ada apa?”. Nyonya Elvan mengingatkan, “hari ini Can di sunat, jangan bilang kau lupa”. Omer menarik nafas, wajahnya lega bercampur ekspresi baru ingat, “oh iya”. Nyonya Elvan mengingatkan Omer lagi, “dari kemaren dia sudah mengabarkan, ibu sudah menghubungimu tapi tidak kau jawab”. Omer menunjukkan wajah bersalah tidak langsung merespon panggilan ibunya, “ibu, aku ada pekerjaan yang sangat penting, aku tidak akan melupakannya”.

Melike yang baru muncul lagi dari arah belakang Omer, langsung ikut nyablak sok tau dalam pembicaraan ibu anak itu, “kami tau urusan penting itu. Baguslah Omer, gadis itu baru kehilangan ibunya, jangan biarkan dia sendiri. Elif tidak seperti kita, dia gadis yang perasa, perlu perhatian”. Omer merespon kakak iparnya yang sok tau itu dengan membuka kedua tangan dan mengangkat bahu sambil melangkah menuju pintu rumah.

Melike merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya, ia juga mau masuk rumah membawa nampan berisi bahan makanan yang akan diolahnya. Nyonya Elvan menegur menantunya itu, “kalau kau mau bicara, lebih baik dipikirkan dulu”. Melike menjawab santai, “yaa, baiklah”.

Cinta Elif Kara Para Ask #24 10 episode

Di ruang kerjanya, Tayyar Dundar memberi makan ikan-ikan peliharaannya sambil bicara, “aku kira aku tidak akan bisa menghubungimu, karena kau bilang kau akan pergi ke suatu tempat”. Elif yang duduk di sofa depan meja kerja Tayyar menjelaskan kondisi terbarunya, “keadaannya berubah paman, aku harus menundanya”. Tayyar kembali ke kursi di belakang mejanya, “ya, baguslah, bagus. Kalau kau menundanya, mungkin sekarang kau bisa menceritakan masalahmu kepada paman Tayyarmu ini”, sambil merapikan jas.

Elif menatap Tayyar dengan tatap berfikir, Tayyar menunggu dengan sikap seakan seorang paman yang baik, padahal sedang mengorek informasi dari Elif yang dimanfaatkannya melalui Metin dijadikan kurir. Elif yang sudah terbiasa dalam tekanan beruntun, kembali dengan ekspresi tenang dengan cepat, “kalau sudah waktunya, aku akan mengatakannya”. Tayyar menunjukkan sikap bisa memaklumi, “baiklah, terserah padamu, aku tidak memaksa”.

Elif mengubah posisi duduknya dengan menegakkan punggung dari sandaran kursi, “kapan dokternya Asli keluar, aku ingin bertemu dengannya”. Tayyar menatap menyelidik, “sebentar lagi mereka akan memberikan kabar”. Elif mengerti. Karyawan wanita Tayyar mengetuk pintu, Tayyar mempersilahkan, “masuk”. Karyawan itu membawakan minuman untuk Tayyar. Tayyar menjelaskan kondisinya, “hari ini membuatku pusing, aku bahkan tidak sempat minum kopi”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :