Cinta Elif Kara Para Ask #24 03 episode

Di tempat makan pinggir laut, Omer dan tuan Sami memilih meja yang ada diatas perahu, mereka duduk berhadapan. Tuan Sami mengorek informasi dari Omer, “gadismu itu tidak mengatakan tidak, bagus sekali”, sambil menyuap makanannya. Omer meraih gelas teh, “ia tidak punya pilihan untuk menolak”. Tuan Sami ingin tau lebih banyak, “begitu menurutmu, mmmm”.

Omer yang gelisah, mengernyitkan wajahnya setelah merasakan tehnya, “buahhh”. Ia memanggil pelayan, “ma’af pelayan”. Pelayan datang menghampiri, “ya, ada apa”. Omer menggeser gelas tehnya, “teh ini rasanya sudah dingin, tolong berikan teh yang masih panas”. Pelayan menaroh teh diatas nampannya, “akan saya ganti”. Omer meminta, “bawakan yang baru matang, yang lezat”. Pelayan membawa teh yang tidak diinginkan Omer.

Tuan Sami yang melihat tingkah Omer yang agak berlebihan menanggapi masalah teh, berkomentar, “aku mengerti kau gugup, kau akan menghancurkan komplotan besar, pembunuh tunanganmu akan terbongkar nantinya. Tapi sepertinya, ada yang belum kau katakan padaku”. Omer menatap bosnya dengan tatap meyakinkan, “kita bisa apa lagi pak, tugas kita menyelamatkan dunia ini dari orang-orang jahat”, sambil melempar camilan ke luar perahu. Tuan Sami mengangguk, “hmm, begitulah. Tapi sepertinya, masih ada yang belum kau katakan. Aku mau tanya dan jawab, apakah kau punya hubungan khusus dengan nona Elif itu?”.

Deg! Omer terpana menatap tuan Sami, ia tak bisa berkata-kata. Tuan Sami tersenyum, “kalau aku tidak tanya kau tidak akan mengatakannya kan. Nah, bagus sekali”. Omer melihat ke arah laut, memegang mulut dengan jari tangan, memilih kata yang tepat, “aku sedang pikirkan penting atau tidaknya pak”, dengan wajah menunduk. Tuan Sami memperlihatkan wajah menahan marah, “jangan buat aku marah, kau tau urusan ini sangat penting, jangan basa basi”. Tuan Sami memelankan suaranya, “kau tau kalau kalian akan terlibat dalam operasi ini kan”.

Omer memperlihatkan wajah serius, “aku mengerti pentingnya pak. Diantara kami tidak terjadi apa-apa seperti yang kau pikirkan”. Tuan Sami menyodorkan sebuah kenyataan, “hah, bagaimana kalian pedihnya perpisahan. Apa yang mereka tau tentang kalian”. Omer menarik nafas, kembali melempar makanan ke arah laut, wajahnya suntuk, “semuanya”. Tuan Sami ikut membuang nafas. Pelayan datang membawa minuman baru, “ini minumnya kakak, ini seperti yang kau inginkan, kalau kau masih tidak suka,,”. Omer langsung mengambil satu gelas yang masih di nampan, “biar ku ambil saja, terima kasih’. Pelayan pun mengangguk dan meninggalkan meja.

Tuan Sami menatap Omer. Omer memberitau gurunya itu, “mereka tau segalanya, mereka tau aku polisi, dan hubunganku dengan Elif”. Tuan Sami menatap tajam Omer, “kau membuat kita dalam bahaya nak, kau paling tau itu. Kau tidak akan bisa melindungi dirimu dan juga gadis itu. Kalau hatimu yang mengendalikanmu, aku pastikan kau akan menghadapi masalah. Omer, aku peringatkan kau untuk terakhir kalinya, jangan ada hubungan antara kau dan Elif. Kalau kau tidak mendengarkan aku aku akan meninggalkanmu dan juga gadis itu, dan kau yang bertanggung jawab atas dirimu”. Omer jadi berfikir menatap tuan Sami, ia berada dalam pilihan sulit. Cinta atau kebebasan Elif dari para pengancamnya.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :