Omer juga masih diam disitu sambil melihat Elif yang masih terlihat kecewa. Ia tau Melike sedang menatap menyelidik. Omer bicara pada Elif, “kau tidak usah khawatir, tenang saja, nikmati acaranya”. Melike kesal melihat sikap adik iparnya itu memperlakukan seorang gadis cantik, ia bicara pada Elif, “hei, kau hanya akan diam disini, ayolah jangan begitu, sebaiknya kau lupakan masalahmu sejenak ya, ayo”. Elif mengangkat tangannya, “tidak, terima kasih, aku baik-baik saja”.

Omer yang tak menyadari Elif sudah jengkel dari saat diturunkan di jalan dari pembicaraan rahasia bersama tuan Sami, memberikan komentar yang membuat Elif semakin jengkel, “aku rasa dia tidak mengerti, dia cuma mengerti dansa, tanggo, flaminggo”, sambil melangkah ke tengah acara sambil bersiul, “sssuiiit, mana musiknya, ayo. Ayo bangun”.

Melike membujuk Elif yang masih menunjukkan wajah jutek karena dicuekin Omer, “ayo Elif, ayo kita menari, ayolah”. ELif kembali menolak, “tidak, aku benar-benar tidak mau”. Melike tak menyerah, “kalau begitu, kau ajarkan kami flaminggo, ayo, ayolah”. Elif tak bisa menolak lagi dengan sindiran Melike yang seperti itu.

Cinta Elif Kara Para Ask #24 35 episode

Omer, Arda, Pelin, Verhat, dan yang lain sudah menari khas Istanbul. Elif yang diajak Melike mendekat, mulai tersenyum. Omer menatapnya sesaat kemudian pura-pura asyik menari. Melike bicara pada Elif, “ini adalah flamenggo kami”, dengan senyum lebar. Elif juga tersenyum, berdiri melipat tangannya, memperhatikan mereka yang menari, tepatnya memperhatikan Omer.

Omer protes pada tarian Arda, “ayolah bung, sudah lama bertugas di Ankara, tanganmu masih saja kaku, ayo angkat, angkat sedikit”. Pelin ikut meledek Arda, “mau bagaimana, bisanya cuma segitu”. Arda mengernyitkan wajahnya pada kedua temannya yang sibuk menilainya, “astaga, ayolah”, sambil menggerakkan tangannya. Pelin menikmati tariannya. Elif terus memperhatikan Omer, mencari matanya, Omer bergoyang dengan mengalihkan tatapan. Melike menunjukkan wajah gemas, “hhmmm, aku suka sekali lagu ini, sangat menyentuh dan menghibur”. Mata ELif tak lepas dari Omer yang asyik menari, tapi tak mau melihat ke arahnya.

Arda yang menari disebelah Omer baru menyadari keberadaan Elif, ia melirik Pelin. Omer asyik sendiri. Pelin mengubik Elif dengan tangannya, “sini”. Elif membalas dengan lambaian tolakan. Pelin tetap memanggil Elif, “sini”. Elif menolak, Melike ikut campur, “dia memanggilmu, ayo, jangan malu-malu, ayo, menarilah, angkat tanganmu dan menarilah, ayo”. Elif ahkhirnya ikut ke tengah area dimana Omer, Arda dan Pelin menari. Omer terus menari.

Arda menyambut Elif dengan gerakannya. Elif mengambil posisi di depan Omer, yang terpana dan menghentikan gerakan tariannya sesaat. Omer terus menjetikkan jarinya dan menggerakkan tubuh dengan menatap Omer. Perlahan, Omer tak bisa mengendalikan hatinya, matanya tak bisa diajak berpaling dari Elif. Merek menari. Pelin tersenyum melihat dua sejoli yang sudah mulai mendekat lagi, ia melirik Arda yang tersenyum penuh arti pada Pelin.

Omer Elif menari dengan saling tatap, mengikuti irama musik di hati mereka. Semua yang menghadiri acara itu bergoyang. Melike ikut menari. Arda menari di depan Pelin dengan senyum bahagia. Pelin menggerakkan matanya ke arah Omer Elif. Arda mengikuti isyarat yang diberikan Pelin. Ia bisa melihat Elif Omer menari dengan perasaan, mereka berdua hanya tertuju pada mata masing-masing.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :