Ashoka: Calon Penguasa Sempurna, Tapi Belum Siap. Kalah Dalam Lomba, Karena Juri Tidak Sanggup Menerima Perubahan Dari Pemikiran Ashoka.


Yang Mulia Bindusara mulai berbicara, “mengambil sebuah keputusan adalah hal yang sangat sulit. Karena siapapun yang duduk di tahta sebagai penguasa, dia bukan hanya punya kedudukan tetapi juga banyak tanggung jawab yang layak bagi seorang raja. Apapun hasilnya nanti, satu hal yang sudah pasti, aku sangat bangga pada penampilan kalian. Aku berterima kasih pada Acharya Chanakya yang bersedia hadir dalam perlombaan ini dan memberikan warna lain dari perlombaan ini”.

Bindusara menoleh ke arah Calata berdiri, “Maha Amartya, aku mengucapkan terima kasih, karena kau memberikan usul untuk lomba ini”. Yang Mulia Bindusara ke mudian duduk di kursi kebesarannya, juri yang lain ikut duduk.

Pemuka agama yang jadi pembawa acara berkata, “kini aku akan mengundang semua juri untuk memberikan pilihan mereka. Wadah emas ini adalah milik pangeran Sushima dan wadah perak adalah milik pangeran Ashoka. Kini kalian maju satu persatu dan masukkan koin sesuai pilihanmu. Yang mendapatkan koin lebih banyak, dia adalah pemenangnya”.

Juri yang paling senior dan sangat kagum dengan pemikiran Ashoka, maju ke tengah, mengambil sebuah koin emas, menunjukkan ke semua yang hadir, “ini untuk orang”, menoleh ke arah duduk Bindusara, “yang pemikirannya sangat berbeda”. Bindusara mengangguk. Juri melihat ke arah Ashoka, “aku akan memberikan pilihanku pada pangeran Ashoka”. Pendukung Ashoka tersenyum, “hidup pangeran Ashoka! Hidup!, Hisup pangeran Ashoka! Hidup! Hidup pangeran Ashoka! Hidup!”. Chankya hanya menunjukkan wajah biasa. Sushima dan Calata tak bisa menyembunyikan rasa kurang senang mereka.

Juri kedua bangkit, memberikan pendapatnya, “menilai satu diantara kedua pangeran adalah hal yang sulit bagiku, karena bagiku kedua pangeran ini sama. Tapi pilihan hanya diberikan pada satu orang saja, artinya, aku memberikan pilihan pada orang yang saat ini sudah siap untuk melaksanakan tanggung jawab sebagai penguasa sementara”. Semua yang hadir terlihat tegang, juri memasukkan pilihannya ke wadah emas, yang artinya dia memilih Sushima. Sushima tersenyum, pendukungnya berteriak, “Hidup pangeran Sushima! Hidup!, Hidup pangeran Sushima! Hidup, Hidup pangeran Sushima! Hidup!”. Ashoka tersenyum. Sushima dan Calata tersenyum. Chanakya tetap dengan wajah datarnya.

Ashoka #184 08 episode

Juri selanjutnya memberikan suaranya, ada yang ke Sushima, ada yang ke Ashoka. Sushima tersenyum pada juri yng memberi dukungan padanya. Ashoka memperhatikan ekspresi ayahnya yang tersenyum. Calata juga tersenyum bangga. Chanakya menatap dengan wajah redup, ia memang tak berharap untuk penguasa sementara ini Ashoka menang. Juri terus memberikan suaranya. Tinggal satu koin lagi. Posisi Sushima saat ini bisa tersenyum lega.

Juri terakhir yang akan memberikan suaranya bangkit. Juri yang sebelumnya pikirannya terhadap Ashoka dipengaruhi oleh ucapan Calata. Ia melangkah ke tengah, suasana tegang. Pemimpin acara berbicara, “jika kau memberikan pilihan pada pangeran Ashoka, maka keduanya akan mempunyai nilai sama. Kemudian, aku harus memilih orang yang akan memutuskan hal ini”. Calata menunjukkan wajah tegang, ia masih belum tau ucapannya pada sang juri berpengaruh atau tidak. Sushima juga terlihat tegang.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan