Ali juga mendekat ke arah Huseyin, “Husein, Omer hampir menemukan kita, dia sedang mencari jejaknya, baru kemaren dia menunjukkan banyak hal pada kita. Jadi, sudah tidak diragukan lagi kemampuan dia sebagai polisi. Kita harus melakukan sesuatu!”. Huseyin melotot ke Ali, “ya Tuhan, dari sebab masalah itu ada padamu Ali, dia sudah mencurigai semua kasus ini, apakah aku membocorkan rahasiamu! Tidakkan, hah! Aku bilang orang ini bisa dipercaya, aku yang menjaminnya. Apa yang dia lakukan, dia itu cuma duduk, apakah, aku tidak menghalanginya hah. Bukan aku yang menghalanginya?”.

Ali tak mau disalahkan Huseyin, “memangnya apa yang kau halangi, apa!”. Tayyar yang menonton anak buahnya saling salah menyalahkan memanggil, “Ali”. Huseyin menarik krah jas Ali, “apa kau ingin hancurkan kehidupan adikku!”. Tayyar menenangkan kedua orang yang emosi itu, “hei, kalian, santai saja”. Huseyin melepaskan tarikan tangannya di krah jas Ali dengan kasar. Kalian merapikan jasnya dengan wajah kesal.

Tayyar melihat kearah Huseyin dan Ali, “kenapa kalian jadi bertengkar seperti ini. Padahal kami hanya ingin melindungimu saja Huseyin. Kalau adikmu sampai menangkapku, itu artinya akan menangkapmu juga. Satu-satunya jalan dengan mencabut wewenangnya dari kepolisian”. Ali melirik Huseyin masih dengan wajah kesal. Tayyar masih menjelaskan pada Huseyin, “Omer akan pergi dan melanjutkan hidupnya. Dan setelah itu, tidak ada pihak manapun yang dirugikan”.

Huseyin menelengkan kepalanya menatap Tayyar, “lalu apa hah”, melangkah ke hadapan Tayyar agar lebih dekat lagi, “lalu bagaimana dengan Omer. Seluruh hidupnya adalah ini Tayyar. Malam siang membawanya menuntunya membersihkan dunia ini dari orang-orang jahat sepertimu. Sekarang apa yang kau katakan hah. Kau pikir kalau dia berhenti dari pekerjaan ini dia akan hidup tenang? Aku akan menanggung dosa ini Tayyar! Aku sudah pernah mengecewakan dia sekali! Dan aku tidak akan melakukannya, untuk kedua kalinya. Kau simpan perkataanku ini di dalam kepalamu!”, kemudian membelakangi Tayyar.

Cinta Elif Kara Para Ask #29 20 epidsode

Di tempat makan, Elif sudah datang dari toilet, ia berdiri sebentar memperhatikan Omer yang duduk gelisah sambil memainkan jemarinya di meja. Elif menelan ludah, menata perasaannya, kembali duduk di kursi di depan Omer, menunduk. Omer memegang tangan Elif yang terletak di meja, “Elif, kau akan menjelaskan semuanya padaku”. Elif menatap Omer, perlahan menarik tangannya, “selamat tinggal Omer”, meraih tas, berjalan menjauh.

Omer bangkit, menarik lengan Elif, “apa maksudmu selamat tinggal”. ELif menunjukkan ketenangan yang dingin, “Omer, sudahlah”. Omer tak percaya dengan sikap Elif padanya, “apa itu kalimat terakhirmu?”. Elif tak menjawab, ia meneruskan langkahnya. Omer menahan kekecewaannya menatap Elif yang menjauh, tak percaya Elif kembali menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi ia tau Elif sedang tertekan.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :