Cinta Elif Kara Para Ask #29 15 epidsode

Elif mengerjapkan matanya, pikirannya sudah kembali ke waktu sarapan, ia menatap Omer, bicara dengan suara datar, “aku tidak mencintaimu lagi. Sudah selesai, untukku ini sudah selesai”. Omer melongo, menatap Elif dengan mata mengerjap tak percaya. Elif menolehkan wajahnya ke arah lain, menelan ludah, menahan semua rasa yang berkecamuk di dada.

Omer tertawa, di kira Elif mengujinya, “kau sedang bercanda kan?”. Elif tetap memalingkan wajahnya dengan menahan rasa amarah pada keadaan, senyum di wajah Omer hilang, “Elif, aku tidak tertawa, katakan kalau kau bercanda”. Elif menunjukkan wajah serius, “aku tidak bercanda”, menatap Omer sesaat, tapi kemudian menunduk. Omer minta ketegasan Elif, “maksudmu?”. Untuk sesaat, Elif hampir menangis, “maksudku”, menguatkan diri, “seperti yang tadi aku katakan”. Omer menatap ELif menyelidik. Elif tak kuat, ia bangkit, “ma’af”. Elif melangkah ke dalam dengan memegang keningnya, Omer mengikuti Elif dengan pandangannya.

Di pintu, Elif berpapasan dengan pelayan, “dimana toiletnya”. Si pelayan wanita tersenyum, “ada dibawah, tapi omeletnya sudah siap, nanti keburu dingin, jangan lama-lama ya”. Elif melanjutkan langkahnya. Si pelayan menaroh hidangan pesanan Omer sambil memberikan komentar dengan wajah tersenyum, “pacarmu cantik sekali, semoga Tuhan membahagiakan kalian”. Omer hanya menjawab singkat dengan wajah kecut, “Aamiin”. Pelayan meninggalkan Omer tanpa curiga. Omer duduk tercenung, kembali meminum minumannya dengan mata mengerjap.

Elif masuk ke toilet, mengunci pintu, berdiri di belakang pintu dengan menarik nafas lemas. Tubuhnya terasa lunglai, air mata kesedihan mengalir di pipinya. Elif menatap ke kaca, menguatkan diri dengan mengusap air matanya.

Cinta Elif Kara Para Ask #29 17 epidsode

Di area pabrik, tempat pertemuan rahasia, Huseyin mengungkapkan kekesalannya, “kalian ini benar-benar tidak mengerti apa yang aku katakan, dia itu adalah adikku. Tidak bisa! Aku tidak akan mengijinkan itu terjadi”. Tayyar merespon dengan dingin, “aku tidak minta ijin darimu Huseyin. Aku hanya menatakan apa yang harus kalian lakukan, aku tidak mengajak tawar menawar”.

Huseyin menatap Tayyar dengan marah, “dengar! Akulah yang menguasai orang itu, aku bisa menghentikannya kapan saja, aku ingin semuanya sesuai rencana!”. Ali ikut berpendapat, “astaga! Sepertinya mudah sekali yaa. Kalau aku tidak kenal Omer, aku akan percaya padamu, kau tau tidak Huseyin, adikmu tidak akan pernah berhenti sampai dia menyelesaikan kasus ini, kau tidak bisa menghalanginya! Apa yang dia lakukan!”. Huseyin menahan geram, “bicara yang benar”. Ali menaikkan nada suaranya, “memangnya kenapa”. Huseyin mendekat dengan marah, “kau!”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :