Cinta Elif Kara Para Ask #29 10 epidsode

Di tempat makan di daerah pinggir pantai, Elif baru muncul. Omer berdiri menyambutnya, “selamat pagi”. Elif membalas dengan ucapan, “selamat pagi”. Omer memberi isyarat untuk duduk. Elif menggantungkan tasnya di sandaran kursi. Omer duduk diikuti Elif. Elif hanya menundukkan wajahnya. Omer menatap Elif dan memberikan penilaian, “o, kau cantik sekali”. Elif mengangkat wajahnya, menatap Omer dengan wajah kaku.

Omer tersenyum, agak gelisah, “o, kau sudah lapar”. Elif menjawab datar, “tidak, tidak usah”. Omer tetap menunjukkan sikap dominannya, “tidak usah berdebat, kau harus tau kalau disini menu sarapannya adalah bintang lima dan kau akan lihat menu sarapan disini tidak sama seperti Itali, tanpa gula, tanpa garam, tanpa tomat. Disini adalah sarapan yang sangat sehat, perut kita sedang berhari raya”, kemudian menoleh ke arah dalam, “o, ma’af pelayan, apa spesial makanan disini, kami mau pesan sekarang”.

Elif tetap menundukkan wajahnya. Omer yang sedang bersemangat menggodanya, “apa kabarmu”. Elif menatap Omer tenang, Omer agak cemas dengan sikap tenang Elif dan semangatnya sendiri. Elif berkata tanpa emosi, “kenapa kau memanggilku kesini Omer”.

Omer membulatkan mulutnya, “o”, mulai dengan sikap usilnya, “jadi tuan putri lebih suka untuk bicara terus terang saja”. Elif mengalihkan pandangannya, ia menahan perasaannya agar tak goyah oleh sikap Omer yang seperti itu, yang selalu bisa membuat matanya mengerjap bahagia, tapi kali ini ia menunjukkan wajah serius.

Cinta Elif Kara Para Ask #29 12 epidsode

Omer tak menunjukkan wajah becanda lagi, “baik kalau begitu, aku jelaskan semuanya”. Elif melirik Omer tajam. Omer terlihat agak sedikit nervous, tak seperti biasanya yang selalu penuh percaya diri, ia berkata dengan hati-hati, “Elif, waktu itu kau sedang menunggu jawaban dari ku kan”. Elif menatap Omer dengan mengangguk tipis. Omer meneruskan ucapannya, “kau bertanya apakah aku sudah mema’afkanmu”. Elif mencari di kedalaman mata Omer.

Omer mengambil gelas berisi air putih, meminumnya, menetralkan rasa gugup yang mendadak menjalari dirinya, ia menunduk, kemudian menatap Elif dengan wajah senyumnya, “aku sudah mema’afkanmu sayang”. Elif menatap Omer, tapi dengan wajah dibuat tidak antusias. Omer meneruskan ucapannya, “orang bilang mema’afkan memerlukan hati yang besar, mereka benar sekali. Kau tau sesuatu, aku belajar cinta tanpa syarat darimu, kau yang mengajarkan semua ini Elif”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :