Di area sebuah pabrik tua, mobil Huseyin memasuki kawasan tersebut dan berhenti tak jauh dari tempat komandan Ali sudah menunggunya. Huseyin keluar dan bertanya, “Ali, ada apa? Kenapa kau memanggilku”. Ali membuka lebar tangannya, “kenapa kau tidak memberi salam Huseyin”. Huseyin tak membalas basa basi Ali, “aku banyak urusan, kau ingin mengatakan apa”. Sebelum Ali menjawab, sebuah mobil datang mendekat ke arah mereka, keduanya menoleh, Ali menjelaskan, “bos memanggil kita. Ada yang ingin dia bicarakan”.

Tayyar turun dari mobilnya, melonggarkan dasinya dengan wajah kesal. Menatap Huseyin dan Ali.

Cinta Elif Kara Para Ask #29 07 epidsode

Metin membawa Nilufer memasuki sebuah rumah, Nilufer bertanya, “kita kemana, ini rumah siapa”. Metin membunyikan ketukan di pintu utama rumah yang di datanginya. Nilufer menatap Metin minta penjelasan. Metin memberi tau, “ini rumah ibuku”. Nilufer menarik nafas menenangkan diri, ia tak mempersiapkan diri bertemu ibu dari lelaki yang sudah membuatnya tak bisa melihat lelaki lain.

Pintu terbuka, Metin memeluk wanita yang membukakan pintu, “ibu”, menciumnya dengan penuh sayang. Wanita itu mengucapkan selamat datang pada Metin dengan suaranya yang kurang jelas, akibat lidahnya yang dulu sudah di potong Tayyar tanpa perasaan. Metin menjawab ibunya, “terima kasih, lihatlah, siapa yang datang ibu”.

Wanita yang dipanggil ibu oleh Metin tersenyum lebar ke arah Nilufer, ia memberi isyarat agar mendekat, “ayo sini masuk”. Nilufer mengangguk, agak terkejut melihat apa yang di jumpainya. Ibunya Metin tetap menunjukkan wajah sangat bahagia menatap Nilufer, menyodorkan tangannya, “o, apa kabar, selamat datang”. Nilufer menoleh ke arah Metin dengan tatap ragu. Metin menatap Nilufer. Nilufer mencium punggung tangan ibunya Metin dan juga membawa ke keningnya.

Cinta Elif Kara Para Ask #29 06 epidsode

Ibunya Metin langsung merangkul Nilufer, “cantiknya, selamat datang. Ayo, ayo, silahkan masuk, ayo”. Nilufer melangkah ke dalam rumah. Ibunya Metin mengungkapkan rasa senangnya bertemu Nilufer, “o, ternyata lebih cantik dari yang diceritakan anakku”. Nilufer hanya tersenyum. Ibunya Metin kembali meminta Nilufer untuk tak sungkan-sungkan, “ayo, silahkan duduk, ayo”.

Nilufer menuju sofa ruang tamu. Metin menggamit tangan ibunya, “ibu, coba kau lihat ke dalam, apa semuanya sudah siap. Kami mau berbincang dulu”. Ibunya Metin mengangguk ke Nilufer, menatap Metin dengan senyum, “baik nak”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :