Cinta Elif Kara Para Ask #29 79 epidsode

Bahar menyapa temannya itu, “hhah, Elif, kapan kau datang”, smabil duduk di sofa dekat Elif melamun. Elif nyahut, “baru saja”. Bel rumah berbunyi, tak lama Levent muncul di ruangan itu, “hai”. Bahar berdiri dengan terkejut. Elif juga berdiri, “hah”, menyambut Levent, “selamat datang”. Levent mengucapkan terima kasih, mereka cipika cipiki. Bahar juga mengucapkan selamat datang pada Levent dengan tatap cemburu. Levent mengangguk datar, “terima kasih”.

Asli ikut bersuara, “kau Levent kan”. Levent merespon, “benar nona Asli”. Asli menghampiri Levent yang langsung melirik Elif. Asli berkomentar, “jangan takut, aku sudah baikan, aku tidak akan buat masalah, selamat datang”, sambil menyodorkan tangan ke Levent. Levent tersenyum menyambut tangan Asli, “terima kasih”. Elif menjelaskan kemunculan Levent di rumah mereka, “tuan Levent sedang mengerjakan koleksi pria, dia sudah membantuku”. Asli menyambut antusias, “ooh, bagus, kalau begitu aku bisa ikut kalian. Tentu saja kalau kalian mengijinkan”. Bahar berdiri sambil berusaha menenangkan rasa cemburunya melihat keakraban Levent dengan Elif.

Levent merespon permintaan Asli, “aa, tidak, tentu saja tidak apa-apa, silahkan”. Elif mengajak, “kalau begitu ayo kita pergi ke ruang kerja. Huliya, tolong kau buatkan kami kopi yaa”. Huliya mengangguk, “ya, nona”. Elif menoleh ke Bahar, tanpa menyadari kalau temannya sangat iri melihatnya, “Bahar, kau santai saja dulu”. Bahar menunjukkan senyum, Levent meliriknya, kemudian mengikuti langkah Elif. Asli juga ikut. Bahar menahan perasaan jengkel, cemburu, sekaligus kecewa terhadap Levent yang mengabaikan dan meninggalkannya.

Kisah drama Turki Cinta Elif episode selanjutnya, Huseyin dan Tayyar kembali mengadakan pertemuan. Tayyar memungut kantong berisi berlian yang dilemparkan Huseyin, memasukkan ke saku jas Huseyin, “ini adalah gajimu Huseyin, lihatlah, aku membayar tunai kepadamu. Kau harus bekerja untukku Huseyin, selama yang aku mau. Kau masih hidup sampai sekarang, pensiunmu hanya ada di kuburan, gaji yang sangat besarkan, hah. Sekarang pergilah, lakukan apa yang Ali katakan kepadamu, singkirkan adikmu sekarang juga!”. Huseyin hanya bisa melotot, tak berdaya, tak bisa keluar dari pusaran mafia yang sudah ‘membeli’nya.