Omer semakin tak tahan dengan sikap Elif yang menghindar, “Elif sekarang atau Elif yang dulu-dulu”. Elif jadi menoleh ke Omer, “sudahlah, biarkan aku pergi”, sambil menatap mata Omer dengan kesedihan. Omer mencoba menahan keputusan itu, “Elif”. Elif tak memberi Omer kesempatan bicara lagi yang semakin membuatnya tak berdaya, “aku mohon”. Omer menatap mata Elif yang mengandung permintaan agar Omer jangan mengejarnya lagi dengan pertanyaan yang membuatnya semakin tertekan.

Omer melangkah mundur, “ya, baiklah kalau begitu. Aku antar kau ke rumah”. Elif menolak, “tidak, tidak usah, sudah dekat, aku jalan saja”, menarik nafas dalam, ada kegaman yang terlihat saat Omer sudah menunjukkan sikap mundur begitu. Omer tak begitu memaksa lagi, “ya, baiklah, baiklah”, menatap Elif dengan tatap yang bisa diartikan kalau itu memang membuat Elif bahagia, ia akan lakukan. Omer menuju ke mobilnya.

Cinta Elif Kara Para Ask #29 74 epidsode

Elif menatap Omer dengan menahan tangis, ini dilakukan bukan atas keinginannya, tapi ada orang lain yang meminta agar ia menjauh dari Omer. Saat Omer mau membuka pintu mobil, ia yang baru melihat ke arah Elif berdiri, jadi tekejut dengan sikap Elif yang sedang menatap ke arahnya dengan tatap mengandung kesedihan dan ketakberdayaan, tapi ELif memilih tak jujur. Elif mengalihkan pandangannya, menarik nafas, menahan tangis agar air mata tak luruh di pipinya. Omer masuk mobil dan menjalankan mobilnya dengan segudang tanya di kepala. Elif masih berdiri menatap laut, menarik nafas dalam-dalam. Omer yang menjalankan mobilnya juga menarik nafas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya yang terasa sesak.

Mert dan Nilufer sudah berjalan di taman rumah Tayyar. Tayyar yang kebetulan mau keluar menyambut, “selamat datang anak-anak, bagaimana sekolah kalain hari ini”. Nilufer mengangguk dengan wajah cemas, menoleh ke Mert yang langsung menunjukkan sikap meyakinkan, “lancar ayah, setelah belajar, kami jalan-jalan sebentar”, sambil memegang bahu Nilufer yang langsung menambahkan, “makanya kami datang agak sedikit terlambat”.

Tayyar tak menaruh curiga, “baiklah, bagus, bagus, yang penting kalian tidak bosan. Kalian harus sering mencari hah. Ayolah, makanan kalian sudah siap. Aku tidak akan makan bersama kalian, aku akan ganti baju dan segera pergi”. Mert mengucapkan salam, “sampai jumpa ayah”. Tayyar membalas, “sampai jumpa nak”. Mert dan Nilufer melanjutkan langkah. Tayyar memperhatikan keduanya sebentar.

Huseyin masih di jalan dengan kendaraannya, ponselnya berdering, ia memasang earphone, menerima telfon, “ya Ali, apa ada masalah”. Ali nyahut, “tentu saja ada, masalah yang besar”. Huseyin menjawab, “kalau begitu, aku langsung datang ke TKP”. Ali meledak, “apa yang sedang kau bicarakan Huseyin! Kau main-main denganku! Apa kau menganggap semuanya tidak pernah terjadi! Kau tidak tau kalau Omer sudah pergi menemui jaksa, Tayyar juga sudah tau tentang hal ini”.

Huseyin menjawab datar, “aku sudah tidak peduli lagi”. Ali menurunkan suaranya, “Huseyin, kita harus melakukan sesuatu”. Huseyin merespon datar, “aku sudah menutup pintu itu Ali, atau mungkin aku juga memohon pada kalian untuk segera menutup masalah itu. Lupakan saja, dan kalau kalian berusaha menyingkirkan adikku dari kepolisian, maka aku akan melindunginya. Ayo kita ke medan perang, yang kuat dia menang”, sambil mencopot earphone. Huseyin menyetir dnegan geram, “hhhhhmmm, kurang ajar”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :