Pelin tertunduk dengan senyum, “haah”. Elif jadi penasaran juga dengan senyum, “ada apa? Katakan”. Pelin tak bisa menghentikan wajahnya yang langsung tersenyum, “aku tidak tau. Hidupku, seperti berubah, seperti ada gempa di dalam hati dan juga akalku, aku benar-benar tidak mengerti”. Elif menerawang, “aku mengerti”. Gantian Pelin yang bertanya kondisi Elif yang terlihat kurang bersemangat, “kau sendiri, sepertinya kau kurang baik”.

Elif belum bisa curhat tentang hatinya yang sedang galau, karena demi kebaikan semua menurut analisa tuan Sami, ia harus mengatakan pada Omer bahwa dia tidak cinta lagi, “mmm, kita bicarakan nanti saja”. Pelin memaklumi sikap Elif. Omer sudah sampai di dekat Elif dan Pelin duduk, ia langsung bicara, “Pelin, kita harus mencari tau tentang akses keluar masuk Halil di rumah sakit Tayyar Dundar. Tolong kau urus masalah itu”. Pelin mengerti maunya Omer, “baiklah, kau jangan khawatir, aku dan Arda akan mengurusnya”. Omer mengucapkan terima kasih atas kerja sama temannya itu. Pelin bangkit dan pamitan pada Elif, “baiklah Elif, sampai jumpa”. Elif merespon masih dengan wajah galau, “sampai jumpa”. Pelin meninggalka mereka sambil menepuk lengan Omer tipis.

Cinta Elif Kara Para Ask #29 67 epidsode

Elif juga berdiri, Omer bicara, “oya tuan putri, ma’af sudah membuatmu menunggu, aku akan mengantarmu ke kantor. Kita bicara sambil di jalan”. Elif merespon, “karena kau urusanku jadi terbengkalai inspektur. Nanti tuan Levent akan datang ke rumahku, kami akan bekerja di rumah”. Omer menghentikan langkahnya sesaat, cemburu, menyiapkan kunci mobil, “waah, bagus, bagus, hebat sekali”, sambil memukulkan telapak tangannya ke mobil, menatap Elif dengan marah, “sepertinya Levent sudah masuk dalam kehidupanmu”. Elif menghindarkan tatapan Omer, membuka pintu mobil. Omer menahan cemburunya yang ingin meledak, ia masuk mobil dengan kesal.

Ali menunggu seseorang di jalan yang sepi, tak berapa lama, mobil orang yang ditunggu muncul. Tayyar turun sambil melonggarkan dasinya. Ali menghampiri, yang disambut tanya Tayyar, “apa kau membawa kabar baik Ali. Bagaimana dengan Huseyin”. Ali memberitau, “Huseyin masih keras kepala pak”. Tayyar merespon dengan mimik kesal, “jadi aku juga yang harus mengatasi masalah ini begitu”. Ali menjelaskan maksud pertemuan kali ini, “pak, masalahnya lain pak”.

Tayyar menebak, “Omer, bagaimana”. Ali mengangguk, “ya, dia sudah tau tentang Halil, dia tidak akan membiarkan ini terjadi, dia sedang berusaha mengungkap semuanya, pasti dia akan mengejar Halil. Bagaimana kalau dia bisa membuat orang itu buka mulut. Apa yang akan kita lakukan? Apa kira-kira saranmu pak”. Tayyar jadi tercenung dengan wajah suntuk.

Sementara itu, mobil Metin yang mengantarkan Nilufer, berhenti di pertigaan jalan masuk rumah Tayyar. Nilufer membuka sabuk pengaman dengan terburu, “sebaiknya aku pergi sebelum ada yang melihatku”. Metin memegang tangan Nilufer, “jangan pergi dulu. Aku tidak membawamu ke rumah dengan memegang tanganmu”. Nilufer menaroh sebelah tangannya di pipi Metin, “aku sudah mengatakan padamu bahwa aku akan menunggu sampai kapanpun, kau lupa itu”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :