Pelin kemudian mengambil secarik kertas yang ditempelkan ke map, yang ada di dekat tangkai mawar, membacanya, “aku ingin semuanya kita mulai dari awal, semua tentangku, jangan ada hal yang menyebalkan lagi. Ayo kita perbaiki hubungan ini, ikut aku ke bioskop malam ini. Aku sudah membeli tiket. Kalau kau datang, aku akan traktir popcorn, kalau tidak aku akan bersedih Pelin”. Pelin melirik Arda. Arda menunjukkan wajah harap.

Ponsel Pelin berdering, ia mengangkatnya, “ya, Omer”. Arda ikut mendengar. Pelin heran, “kunci borgol?”. Pelin menyelipkan ponsel dibahu dan kupingnya, sambil merapikan file, “baiklah, aku kesana. Aku sudah bangun dari meja”. Arda bertanya, “ada apa Pelin, kenapa dia minta kunci borgol, memangnya dia tidak punya”. Pelin tak menjawab, ia terus melangkah keluar ruangan. Arda bergumam pada dirinya sendiri karena dicuekin Pelin, “ya ampun Arda, kau sudah jatuh cinta pada wanita paling keras kepala di negara ini, keterlaluan”.

Tiba-tiba Pelin muncul kembali di pintu ruangan, “kenapa? Kau mengatakan sesuatu? Sepertinya aku mendengar kau bicara”. Arda gelagapan mencari alasan, “a, begini, a, tadi pak Ali memberiku sebuah laporan dan aku sedang mengurusnya”. Pelin coba percaya, “baiklah”, kemudian melanjutkan langkahnya. Arda meniup nafas lega, wajahnya berfikir.

Cinta Elif Kara Para Ask #29 59 epidsode

Sementara itu, Omer sudah menghentikan mobilny di depan sebuah perkantoran. Ia turun mobil dan membantu Elif turun yang mengomel, “kau sadar kalau kau ini konyol kan Omer”. Omer menutup pintu mobil, “aku serius, Tayyar harus ke kantor polisi untuk bisa memberikan keterangan”. Elif mengingatkan kekasih yang masih dicintainya itu, “kau tau, berapa orang yang bekerja di perusahaan paman Tayyar kan, ribuan! Dan rumah sakitnya tidak hanya di Istanbul, ada diseluruh Turki”.

Omer merespon Elif, “dengar dulu, untung kau tidak jadi polisi, tidak bisa berfikir kritis dan kau sangat lugu”. Elif membalas ucapan Omer, “hah, kau sangat pintar dan aku tidak bisa berfikir kritis. Omer, kau lihat apa yang kau lakukan? Memalukan!”. Omer cuek, “oya, kalau gitu di Eropa dan Amerika, mereka melakukan ini, mereka tidak apa-apa. Kenapa kita harus malu? Ayolah”. Elif tetap protes, “menjelaskan hal yang tidak masuk akal selama hidupku”. Sebuah mobil berhenti tak jauh dari mereka berdua. Elif Omer melihat siapa yang turun. Jaksa yang akan ditemui Omer.

Mata jaksa langsung tertuju ke tangan Omer Elif yang saling terborgol, “ada inspektur Omer, ada yang bisa kubantu?”. Omer agak kurang enak dengan kondisinya, “aa, aku cuma mau melapor kalau ada perkembangan lagi pak”. Mata Omer melihat mobil Pelin sudah datang, “hah, temanku juga datang”. Si jaksa melihat ke arah Pelin yang sedang mengunci mobilnya sambil jalan ke arah mereka, kemudian melihat Omer. Omer meminta waktunya, “pak jaksa, aku ingin bicara hal penting dengan mu”. Jaksa menyanggupi, “baiklah, aku ada diruangan”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :