Omer melihat ke pintu rumah yang kacanya ada yang pecah, mengetuknya. Istrinya Halil membukakan pintu, lihat kiri kanan dengan wajah heran, “cepat sekali datangnya tuan”. Omer langsung pada tujuannya, “kakak, aku mohon apa yang kau katakan adalah berita penting”. Istrinya Halil baru melihat ketangan Omer dan Elif yang saling terborgol, ia menelan ludah. Omer meyakinkan, “langsung bicara saja, dia bukan orang asing”.

Istrinya Halil tidak mau ikut campur urasan Omer dengan gadisnya, ia menympaikan informasi, “aku mau katakan sesuatu padamu, tapi apa yang aku katakan ini, tidak akan membahayakan Halil kan. Aku ingin kebaikan untuknya”. Omer kembali meyakinkan, “kakak tidak usah merasa khawatir, kami disini akan mencoba untuk menolongnya. Di dunia ini, kejujuran akan membawa ketenangan”, sambil melirik Elif, kemudian melihat istrinya Halil, “kakak tidak usah khawatir”.

Istrinya Halil menarik nafas dalam, menenangkan diri, “waktu itu, kau menunjukkan foto seorang pengusahakan”. Omer memastikan, “yang kau maksud Tayyar Dundar?”. Istrinya Halil membenarkan, “ya, aku sempat melihatnya di televisi. Di berita, dia juga punya yayasan, dia juga punya rumah sakit. Aku baru ingat, Halil pernah bekerja disana, kalau tidak salah, nama rumah sakitnya CoSianter”. Elif menelan ludah mendengar apa yang disampaikan istrinya Halil. Wajah Omer malah menunjukkan senyum semangat, ia menatap Elif yang langsung melengos. Omer menahan senyum.

Cinta Elif Kara Para Ask #29 50 epidsode

Di ruang tengah rumah ibunya, Metin dan Nilufer sudah duduk berdampingan. Di kelilingi beberapa tamu dan saksi. Penghulu memulai proses pernikahan ijab kabul Nilufer Metin, ia menanya Nilufer, “nak, apa yang kau ingin kan sebagai mahar”. Nilufer menatap Metin, “aku tidak mau apa-apa dari Fatih”. Metin menjelaskan pada Nilufer, “maksudnya kalau kita bercerai, agar kau tidak menjadi korban yang dirugikan. Ayo katakan, maharnya rumah atau uang”.

Nilufer agak sedikit bingung, “apa itu sebagai jaminan?”. Metin agak ragu juga, “aku rasa, tidak juga”. Nilufer berfikir, “apa ya, apa ya”. Salah satu ibu yang hadir menyaksikan ijab kabul pernikahan mereka bersuara mencoba membantu Nilufer yang bingung, “nak, kau sangat cantik, minta saja emas seberat tubuhmu”. Nilufer merespon, “bibi, berat badanku tidak seberapa”. Ibunya Metin tersenyum melihat Nilufer yang tak begitu mempedulikan materi.

Nilufer sudah menemukan apa yang dia mau, “aku tau apa yang aku minta, aku ingin batu cincin dari calon suamiku, hanya itu saja yang aku inginkan”. Metin melirik sekilas ke Nilufer, penghulu justru minta kepastian Nilufer tentang mahar yang dimintanya, “apa kau yakin nak”. Nilufer menunjukkan wajah serius, “aku yakin, hatinya ada padaku. Aku sudah dapat yang aku mau, yang lain tidak penting”, sambil menatap Metin. Metin tersenyum membalas tatapan Nilufer. Ibunya Metin semakin tersenyum.

Penghulu memulai prosesi ijab kabul. “nona Nilufer, dengan perintah Allah, sunnah Rasullullah, mas’ab imam kita imam Hanafi, dengan mahar yang disebutkan dan dengan disaksikan oleh para saksi, apa kau menerima Fatih bin Fulen sebagai suamimu?”. Nilufer mengangguk, “ya”. Penghulu menegaskan lagi, “kau menerimanya”. Nilufer kembali mengiyakan. Penghulu mengulang, “kau menerimanya”. Nilufer kembali mengiyakan.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :