Sementara itu, Tayyar yang masih menyetir dari pertemuan rahasia sedang menelfon, “aku benar-benar tidak suka dengan sikapnya Huseyin asal kau tau itu”. Ali yang juga masih menyetir, nyahut lewat earphone ponselnya, “ya, dia memakai perasaannya. Yang kita permasalahkan adalah adiknya”. Tayyar ingin tau pendapat Ali, “apakah kau juga sama”. Ali menjawab dingin, “apa peduliku dengan Omer”.

Tayyar menyimpulkan, “baiklah, kalau begitu tangisan Huseyin itu sama sekali tidak ada gunanya. Aku tau apa yang harus aku lakukan. Dan seharusnya, Huseyin memikirkan lebih dulu sebelum dia setuju bergabung dengan kita”. Ali ingin tau tindakan Tayyar, “bagaimana kau akan membujuk Huseyin, menurutku dia sangat keras kepala”.

Tayyar merespon dingin, “aku tidak seperti kalian yang jarang berfikir. Aku selalu memikirkan langkah selanjutnya, semua kemungkinan sudah tergambar dalam pikiranku, dan aku akan mengambil keputusan dengan sangat hati-hati. Kalau kau mau, kau bisa bicara dengan bahasa yang dia mengerti Ali. Huseyin tidak akanlah bebas seperti yang diinginkannya, apapun yang ku katakan, itulah yang harus terjadi”, kemudian mencopot earphonenya.

Di mobilnya, Huseyin menyetir sambil menangis. Tiba-tiba ia merem mobilnya dengan mendadak, memukul kemudi dengan kesal, menangis dalam diam.

Cinta Elif Kara Para Ask #29 37 epidsode

Di taman rumahnya, Metin masih meyakinkan Nilufer, “kau mengira aku harus melakukan apa pada ayahku itu dan aku tidak akan tinggal diam pada mereka berdua. Aku ada urusan di Roma, setelah aku kembali, semuanya akan berubah, ayahku itu akan masuk penjara, aku akan mengambil hak yang harusnya menjadi milikku satu persatu dari dirinya. Aku akan memberikan hidup yang baru untukmu dan juga ibu”. Nilufer menarik nafas dalam-dalam.

Metin jadi agak cemas melihat ekspresi yang ditunjukkan Nilufer, “setelah kau mendengar semua ini, kalau kau tidak bilang iya, aku akan mengerti”. Nilufer kembali menarik nafas, menenangkan dirinya.

Di mobil, Omer mengangkat tangannya yang saling terborgol dengan tangan Elif, mengguncangkannya untuk mengingatkan Elif yang diam, “sepertinya kau orang yang tidak mudah berubah pikiran, tapi ternyata di Itali seperti itu. Tidak bisa memegang apa yang kalian katakan, kau datang dan memberiku pelajaran seperti ini. Kau membahas soal cinta tanpa syarat, entah aku yang tidak mengerti atau mungkin saja pengertian cinta tanpa syarat yang sudah kau maksud itu adalah sesuatu yang berbeda. Apa kau tau, Elif, kalau ada hal yang peling menyakitkan untukku, kapan saja aku bicara terus terang, aku memberikan kesempatan padamu, kau selalu saja berbohong, seperti saat ini. Penghalang cinta kita yang terbesar adalah kebohongan, kebohonganmu, rahasiamu”.

Elif hanya diam mendengar semua ucapan Omer yang mengandung kekecewaannya, ia memandang keluar jendela dengan mata berkaca. Pikiran Elif terbayang pada kejadian semalam saat tuan Sami menemuinya di depan pintu rumahnya.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :