Omer masuk ke dalam mobil lewat pintu kanan, mengangkat kakinya sebelah ke bangku kemudi dan meminta Elif, “ayo masuk”. Elif ngelesh, “kau bilang tunggukan”. Omer yang sudah kesusahan tak mau berdebat, “ayo, kau bisa naik”. Elif malas-malasan. Omer bersuara, “ayo cepat”. Elif mendudukkan pantatnya di jok, tangannya yang terborgol tanpa sengaja terangkat hingga Omer tertarik ke arahnya, nafas Omer yang mengenai wajahnya membuat wajah Elif berubah, mereka saling tatap.

Elif menghindarkan pandangannya, kemudian menjaga sikap, “baiklah, angkat kakimu”. Omer tak mau membuat Elif kesal, “baiklah, tunggu sebentar”, kemudian dengan sedikit usaha mengangkat kaki kanannya agar bisa duduk di bangku kemudi. Omer membenarkan duduknya sekalian membenarkan jaketnya, tangan Elif tertarik, “aww”. Omer minta ma’af. Elif menutup pintu.

Omer meminta tolong Elif, “aku tidak bisa mencapai kunci kontaknya, tolong putar”. Elif ogah, “kau saja yang melakukannya, aku mau memakai sabuk pengaman”. Omer tak memaksa, “sudah, pakai saja”, sambil berusaha memasukkan kunci kontak. Karena tubuh Omer yang jah lebih tinggi dari Elif, wajahnya kembali hampir mengenai wajah Elif, lagi-lagi Elif menelan ludah menahan rasa. Omer sendiri juga merasakan hal yang sama-sama, menahan perasaan agar tak mendaratkan kecupannya di pipi Elif. Ia mengucapkan bahasa Itali yang membuat ELif hanya menunduk. Omer memundurkan mobil.

Cinta Elif Kara Para Ask #29 36 epidsode

Di taman rumahnya, Metin masih bercerita pada Nilufer, “orang itu menyuruh kami tinggal di suatu daerah, lalu kami pindah ke mari. Aku besar disini, makanya ibuku juga tinggal disini. Paman datang kemari enam bulan sekali, aku masih kecil waktu itu, aku mau manja, aku suka karena dia baik pada kami, aku ingin mendekatinya, aku ingin disayanginya. Aku ingin sekali, kalau dia datang lebih sering, aku sangat mengharapkan itu”. Nilufer mendengar dengan wajah ikut merasakan kerinduan Metin kecil akan kasih sayang seorang paman. Metin menahan perasaannya.

Wajah Metin agak kaku, “tapi dia tidak pernah mengusap kepalaku”. Nilufer bertanya, “tunggu, aku jadi bingung, kau bilang ayahmu sudah meninggal, tapi kau bilang juga ayahmu masih hidup”. Metin menjelaskan dengan wajah tak nyaman, “ayahku masih hidup. Orang yang aku pikir paman, ternyata ayahku. Jangan kaget, dalam hidup ini apapun mungkin akan terjadi, aku merasakan ini sejak usia delapan tahun. Aku pura-pura tidak tau kalau dia ayahku. Aku melakukan pekerjaan jahatnya, aku menunggu pengakuan. Aku melihat kehidupan saudaraku yang mewah dari kejauhan, ya begitulah”.

Nilufer sangat sedih mendengar cerita Metin, “apa orang itu tidak mengajak kalian ke rumahnya, maksudku kau dan ibumu. Apa mereka menikah?”. Metin menjawab dengan senyum ngambang, “andai saja seperti itu”. Wajah Metin berubah dingin, “orang yang seharusnya jadi ayahku, dia meniduri ibuku”. Nilufer menutup mulutnya dengan tangan saking tak menyangkanya. Metin menambahkan, “ya, seperti di film-film”.

Nilufer memberikan pendapatnya, “orang macam apa itu, siapa nama orang itu Fatif, siapa namanya, apa boleh aku tau”. Metin menatap Nilufer, “itu tidak penting Nilufer. Satu-satunya kebaikan dan kejujuran dalam hidupku adalah kau. Kau adalah keberuntungan bagiku”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :