Omer juga menunjukkan wajah gelisah ditanya seperti itu oleh Arda, ia tak tau perasaannya, “entahlah”. Elif serius mendengar dari balik pintu, ini hal yang sangat ingin ia ketahui, bagaimana perasaan Omer sesungguhnya padanya. Omer mengangkat bahu pada Arda, “aku, senang sekali begitu melihatnya. Sekalipun dia tidak disampingku, aku selalu memikirkannya. Benar-benar perasaan yang aneh, namanya selalu berputar-putar dalam otakku. Aku ingin tau dia sedang apa. Senyumannya membuatku damai. Kalau dia sedih, hatiku turut ikut hancur”. Elif jadi mengawang berdiri di belakang pintu menguping pembicaraan Omer tentang perasaan terdalam yang disembunyikannya. Hadirnya Cinta Elif telah menyapa hati Omer.

Cinta Elif Kara Para Ask #19 81 episode

Omer bertanya pada Arda, “apa itu namanya cinta?”. Arda menjawab, “tidak Omer”. Arda bangkit dari kursinya, “kalau menurutku, itu namanya cinta mati. Bukan aku yang mengatakannya, tapi Elaine Fox, aku pernah membaca bukunya saat remaja dulu. Omer, kau benar-benar sudah jatuh cinta padanya. Aku yakin sekali, ini perasaan cinta. Baiklah, aku mengerti kau tidak ingin menodai kenangan tentang sibel, tapi sejak awal sudah ada sesuatu diantara kalian, yaa, mungkin ini namanya takdir atau, mungkin kebetulan yang buruk. Mungkin semua ini terjadi agar kalian berdua bertemu”. Omer membenarkan pendapat sahabatnya, “mungkin saja”. Elif kehilangan kata-kata, ia seakan berada diawang-awang, masalahnya dia dalam posisi menguping.

Kisah drama Turki Cinta Elif (Kara Para Ask) episode selanjutnya, Bahar datang ke kantor polisi, ia melihat Omer sudh dalam pakaian rapi untuk memenuhi kencan makan malam dengan Elif. Bahar menyindir Omer, “ada yang ingin ku bicarakan tentang Elif. Aku rasa kalian berdua perlu diingatkan sekali lagi”. Omer tak paham ucapan sahabat Elif itu, “apa hubungannya aku tidak mengerti”. Bahar tanpa perasaan memberitau, “anggap saja kesenjangan kasta. Yang ingin ku katakan adalah, kalian adalah manusia dari dunia yang berbeda. Aku tidak ingin kalian memulai petualangan yang akan berakhir pahit”. Omer menahan diri mendengar hinaan Bahar itu.

Bahar menatap rendah penampilan Omer, “sepertinya kau punya janji yaa. Kemungkinan kalian akan pergi ke tempat mahal seharga gajimu sebulan. Tapi kau tenang saja, ELif tidak akan membuatmu sedih, ia bisa menyelesaikannya, sebaiknya kau jangan terlambat”. Omer kesal mendengar oecahan Bahar, “dengar, kau sama sekali tidak usah memikirkan aku, aku tidak akan membiarkan itu terjadi, mengerti, dan aku tidak akan menjadi mainan orang sepertimu”. Bahar hanya tersenyum sinis menatap Omer.