Omer menenangkan Arda, “dengar, kalau kau ingin membantuku, kita harus bisa menemukan komplotan hitam itu sekarang. Kita hanya berputar-putar di tempat yang sama sekarang, kuncinya hanya Metin saja. Sibel juga kenal dengan Metin, pasti Pelin sudah cerita”. Arda mengangguk, “jangan khawatir, memangnya siapa yang bisa lepas dari kejaran kita”. Omer mengangguk-angguk.

Arda mulai usil, “eh, ngomong-ngomong, bagaimana dengan kemarin, kau sukses?”. Omer yang habis menyeruput teh, hanya tersenyum penuh rahasia. Arda mulai mengorek perasaan yang disembunyikan Omer, “kau pasti bertemu dengan Elif, dengar, senyuman itu benar-benar menipuku”, kemudian duduk di kursi yang ada dekat Omer.

Cinta Elif Kara Para Ask #19 78 episode

Elif sudah masuk kantor polis, ia berpapasan dengan Pelin yang langsung menyapanya, “Elif, apa kabar”. Elif bertanya pada Pelin, “kebetulan, aku mencarimu, Omer ada diruangannya?”. Pelin membenarkan, “iya, mereka ada di dalam, aku juga akan kesana”. Elif senang, “baiklah sampai nanti”, kemudian melangkah ke dalam. Pelin melanjutkan pekerjaannya membawa berkas ke ruang lain.

Di dalam ruang kerjanya yang sepi, Omer bercerita pada Arda tentang hari kemarin yang dilaluinya bersama Elif, “benar-benar hari yang indah sekali, kami jalan-jalan, makan. Poleneskoi ternyata tempat yang sangat bagus”. Elif sampai dipintu ruangan Omer yang terbuka, mendengar suara Omer yang sedang bercerita dengan Arda, “kami main bersama, dia bahkan bisa mengalahkanku sampai empat kali, sungguh sesuatu yang berbeda”, tersenyum malu.

Arda mengejar Omer, “lalu”. Omer tak mengerti maksud ucapan Arda, “lalu apa lagi, hari yang indah”. Arda menjelaskan pada temannya yang masih sangat polos soal cinta, “Omer, jangan marah ya, sejak pertama kita pergi ke bar, aku sudah tau kalau kau punya rasa pada wanita itu”. Elif terseyum menguping di belakang pintu.

Cinta Elif Kara Para Ask #19 79 episode

Omer masih belum mengenali apa yang saat ini dirasakannya, “apa hubungannya, apa aku punya pikiran lain selain Sibel hari itu. Serius, saat itu aku hanya menganggapnya sebagai teman saja”. Arda terus mengejar Omer yang kebingungan dengan apa yang dirasakannya, “jadi sekarang ku sudah menganggapnya lain? Apa yang berubah, apa kau jatuh cinta padanya?”. Elif menunjukkan wajah tegang di belakang pintu menguping pembicaraan Omer Arda.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :