Cinta Elif Kara Para Ask #19 48 episode

Omer menoleh ke Elif yang menunjukkan wajah tak berminat. Omer menggoda, “kau akan menyesal”. Elif meyakinkan, “tidak, aku baik-baik saja. Sudah, kau saja yang jalan, aku tunggu disekitar sini”. Omer tak mau meninggalkan Elif, “Elif, ayo naik, kita jalan sama-sama”. Elif mencoba menolak, “Omer, aku serius”. Omer membujuk, “setidaknya menghilangkan rasa takutmu. Percayalah padaku”, sambil mengulurkan tangan kanannya, “haa”. Elif agak ragu, matanya berpindah dari telapak tangan dan mata Omer.

Tangan kanan Elif menggenggam tangan Omer, naik ke boncengan di belakang Omer, berpegangan ke besi pembatas belakang. Omer menjalankan motor, Elif kaget. Omer menghentikan motor kembali, meyakinkan Elif. Elif memilih melingkarkan tangannya di pinggang Omer. Omer melirik Elif yang wajahnya sangat dekat dengan bahu belakangnya, untuk sesaat keduanya menikmati getaran perasaan yang mereka rasakan.

Cinta Elif Kara Para Ask #19 49 episode

Omer kemudian menjalankan motor roda empat itu, ELif berpegangan erat ke pinggangnya, mereka mengelilingi tempat menarik itu sambil berbincang. Elif menikmati perjalanan naik motor yang sebelumnya di tolak, ia tak melepaskan pelukannya di pinggang Omer, sekali-sekali merebahkan kepalaya ke pundak Omer. Omer menghentikan motor dipinggir danau buatan yang terlihat alami, ia melempar batu ke tengah danau sehingga membuat beberapa pantulan. Elif duduk memperhatikan sambil tersenyum. Omer kemudian duduk di sebelah Elif, mereka tersenyum bersama, kemudian saling tatap.

Elif Omer pindah dengan permainan lain yang ada disitu. Duduk saling berhadapan dan memainkan permainan. Elif tertawa senang bisa mengalahkan Omer. Mereka menyudahi permainan, kemudian makan siang, memilih meja di pinggir sungai. Elif menanyakan komentar Omer tentang makanan yang sedang mereka nikmati, “apa kau suka dagingnya?”. Omer menjawab jujur, “yaa, mmm, tidak ada cara lain selain menyukai harganya”. Elif mendelik pada Omer yang menjawab pertanyaan seriusnya dengan candaan satir. Omer mengalah, tersenyum, “baiklah, enak sekali”. Elif tersenyum.

Omer pun menjelaskan hari tak terduga yang dialaminya, “mana ku tau, saat kau mengajakku jalan-jalan, aku tidak akan menyangka akan seperti ini”. Elif bercerita, “pertama kali ayahku mengajakku kesini, usiaku 9 tahun, aku dan Asli sangat suka datang kesini dan Nilufer masih bayi. Ketika disini Asli langsung menunggang kuda dan aku langsung berenang, sepanjang hari aku tidak mau keluar dari kolam renang, disini pertama kali aku belajar”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :