Taner mengangkat bahu, “aku tidak tau, mungkin dia menarohnya setelah dia pulang ke rumah”. Pelin ikut bertanya, “kenapa kau tidak membawa berlian itu pada kami”. Taner menyampaikan alasannya, “untuk melindungi Asli, aku takut ada penyelidikan ulang. Aku juga tidak tau, apakah ini asli atau palsu. Aku bersumpah pada kalian, aku tidak melakukan hal yang buruk!”. Huseyin tak menekan, “kami mengerti, sekarang hanya ini yang ingin kami tanyakan”, sambil memasukkan berlian ke plastik dengan menggunakan pinset sebagai barang bukti, “saat nanti kalau kau menemukan sesuatu, maka aku minta nanti kau menghubungi kami, kau mengerti”.

Taner megingatkan, “pak, kau tau keadaan Asli kan, keluarga kami juga tidak tau tentang berlian, jangan katakan pada mereka”. Huseyin meyakinkan Taner, “semua hasil penyelidikan adalah rahasia, jangan khawatir itu”, kemudian menyerahkan barang bukti pada Pelin, “pegang ini”, kemudian berkata lagi pada Taner, “semoga cepat sembuh”, mulai meninggalkan ruangan. Tayyar masih mendengarkan dari dalam almari dari sisi sebelah, wajahnya berfikir.

Saat mau menuju parkiran, Arda bertanya pada Huseyin, “lalu, apa yang akan kita lakukan orang itu, Omer mencurigai orang itu pak”. Huseyin menengadah ke arah rumah sakit milik Tayyar, “aku tau orang ini menyembunyikan sesuatu, tapi kita tidak punya bukti untuk membawa dia ke kantor. Arda kau pilih satu penjaga keamanan di depan pintu untuk tetap mengawasinya, karena saat ini kita tidak bisa melakukan itu sekarang”, sambil bergegas ke mobil.

Cinta Elif Kara Para Ask #19 47 episode

Di tempat yang di datanginya, Omer Elif masih berjalan-jalan. Omer kembali terkagum-kagum pada tempat yang dikunjunginya, “disini bagus”. Elif memberitau, “disana ada kolam renang yang sangat luas seperti untuk olimpiade, ada empat lapangan tenis dan jika kau menunggang kuda”. Omer berkomentar, “aa, semuanya ada”. Elif menambahkan, “hmm, pada malam hari juga menyenangkan, terasa sangat tenang”.

Saat melihat parkiran motor roda empat, Omer mengajak Elif untuk mencobanya, “ayo naik itu, kau yang berkuasa disini, pasti kau pernah naik sebelumnya”, sambil menghampiri salah satu. Di luar dugaan Omer, Elif kurang tertarik, “tapi aku lebih memilih kolam renang”. Omer menatap Elif tajam, menyelidik, Elif menghindarkan tatapan itu. Omer langsung menyimpulkan, “haaa, ha ha, kau merasa takut yaa”. Elif mengernyitkan wajahnya, “aku tidak mau”. Omer tersenyum menatap Elif yang cemas, “tapi tidak cocok dengan jagoan sepertimu. Ayo, aku naik yang ini, kau naik yang itu, kita berjalan bersama”.

Elif memberi alasan, “aku tidak terlalu suka mengendarai motor dan sebagainya. Saat SMA aku pernah menabrak pohon saat mengendarainya, kau saja yang naik. Sudahlah tidak usah memaksaku, aku tidak mau”. Omer meledek, “yaa ampun, penyihir juga punya rasa takut yaa, ha ha”, sambil naik motor yang dipilihnya. Elif tetap tak tertantang, “haaah, sepertinya kau mulai senang”. Omer tersenyum lebar. Petugas menghampiri, “hai, nona, kau juga akan naik?”. Elif memberi tau, “tidak, hanya dia yang akan naik”. Petugas menghampiri Omer yang sudah diatas moto, “baiklah, tuan, kau bisa injak yang ini, gasnya ada disini, ingat itu yaa”. Omer mengatakan kalau ia paham, “yaa, aku tau sesuatu”. Petugas meninggalkan mereka, “selamat bersenang-senang”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :