Cinta Elif Kara Para Ask #19 44 episode

Dipinggir kolam rumah keluarga Denizer, Nilufer mondar mandir dengan gelisah, ia mengambil ponsel yang tergeletak di meja, menelfon dengan wajah tegang, tapi tak terhubung ‘nomor yang anda tuju sedang tidak aktif’. Nilufer kembali menaroh ponselnya, duduk dan browsing di tablet miliknya, kembali mengambil ponsel setelah menemukan apa yang ia cari di internet, ia menelfon kembali, terdengar jawaban, “selamat siang, rumah sakit”.

Nilufer pun menjelaskan maksudnya menelfon, “o, selamat siang, aku ingin mencari data tentng salah seorang pasien, namanya Fatih, dia jatuh ke laut, apa aku bisa mendapatkan nomer telfonnya, aku harus menghubunginya”. Pihak rumah sakit tidak bisa memenuhi keinginan Nilufer, “mohon ma’af nona, kami tidak bisa memberikan data pasien kepada siapapun juga”.

Nilufer coba bernegosiasi, “tapi ini sangat penting, aku harus menghubunginya secepatnya, apa kau tidak bisa membuat pengecualian untukku?”. Pihak rumah sakit keukeuh dengan aturan, “tapi ma’af nona, pembicaraan kita di rekam, aku tidak mungkin melanggar aturan rumah sakit”. Nilufer tak punya alasan lain, “baiklah”, kemudian menutup telfon dan menarohnya kembali di meja, ia mulai gelisah lagi.

Di ruang kerja Tayyar, Taner mulai di interogasi, Huseyin mengajukan pertanyaan, “kau pergi ke toko mas dengan berlian ditanganmu maka otomatis kau bisa dituduh bersalah, kau tau itu kan”. Taner membela diri, “aku tidak melakukan apa-apa”. Huseyin tetap mengajukan pertanyaan, “pada saat malam pembunuhan, kau ada dimana”. Di balik ruangan yang terlihat seperti almari dari ruang interogasi yang terletak di belakang Taner duduk di interogasi, Tayyar membukanya, kemudian menggeser dinding almari tersebut, ia dapat dengan jelas mendengar semua interogasi itu tanpa ketahuan. Terdengar suara Taner, “aku sudah menjelaskan, aku pergi ke pesta, lalu aku pulang dan tidur”.

Cinta Elif Kara Para Ask #19 45 episode

Huseyin minta penjelasan Taner, “kenapa berliannya bisa ada padamu”. Taner mengakui, “iya”. Tayyar menguping dengan serius di dalam almari. Huseyin meminta pada Taner, “kau harus menyerahkannya pada kami”. Taner merogoh kantong jasnya, menaroh bungkusan berlian. Huseyin memeriksa bungkusan tersebut, mengeluarkannya ke meja, melirik Arda. Tayyar serius semakin serius menguping di dalam almari.

Huseyin mencari tau, “kau baru saja mau menjual ini, apakah milik keluarga?”. Taner mengatakan yang sebenarnya, “tidak, aku tidak tau, aku menemukannya diantara pakaian Asli”. Huseyin saling bertukar pandang dengan Arda dan Pelin, ia kemudian minta kepastian Taner, “kapan”. Taner memberitau, “pada hari kami pergi ke kantor polisi aku menemukannya”. Arda menyampaikan kejanggalan yang dirasakannya, “tapi pada saat kami menyelidiki nona Asli, kami mencari ke ruangannya, kami tidak menemukan apa-apa”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :