Arda sudah menggerakkan mulutnya memberitau Pelin, bersamaan dengan munculnya seorang polisi, “apa ada Omer?”. Arda nyahut, “ada apa, dia diluar”. Si polisi memberitau, “seorang pemilik toko mas di Kapaligarsi mencarinya, orang yang menyuruh memberi informasi”. Arda bersemangat, “segera sambungkan padaku”. Si polisi setuju, “baiklah”. Pelin mengingatkan, “kau tidak bisa melakukannya dengan telfon, kau akan menjelaskannya”. Arda senyum melihat Pelin yang penasaran, “tunggu dulu sebentar, tarik nafas dulu”. Pelin mendelik menatap Arda yang menerima telfon.

Di rumah sakit, Asli sudah duduk di kursi roda yang di dorong seorang perawat pria di lorong, di temani Taner dan Zerrin serta perawat perempuan. Tayyar menghampiri dan menyalami Zerrin, “Zerrin semoga dia cepat sembuh”. Zerrin merespon, “Tayyar, terima kasih banyak Tayyar, tolong segera urus kami”. Tayyar menunjukkan sosok baiknya, “tentu saja, Asli sudah seperti anakku sendiri. Bagaimana kabarmu Asli?”. Asli hanya mendelik.

Tayyar memberi tau pada petugas rumah sakitnya, “kalian bisa membawanya”. Kursi roda Asli di dorong perawat. Di belakangnya Taner dan Zerin berjalan perlahan sambil dijelaskan Tayyar, “Zerrin, sekarang ini Asli akan dibawa ke bagian psikiater dan biologi”. Zerrin menoleh ke Taner yang berada di sebelahnya, “jangan biarkan istrimu sendirian Taner”. Taner pun meneruskkan menyusul Asli, “baik bu”.

Zerrin kemudian memegang tangan Tayyar, “dia tidak akan mendukung, tapi dia akan lebih buruk, aku mohon, sembuhkan dia Tayyar”. Tayyar ingin tau pendapat suami Asli, “apa yang Taner katakan tentang hal ini, bagaimanapun ini tetap anaknya”. Zerrin menjelaskan, “dia tidak tau, dan kita tidak akan mengatakan apapun padanya”. Tayyar mengangguk mengerti. Zerrin menyusul Asli ke tempat ruang terapinya. Tayyar memperhatikan.

Cinta Elif Kara Para Ask #19 39 episode

Omer dan Elif sudah sampai di tempat yang mereka tuju. Mereka berjalan di perkampungan itu, Omer melangkah sambil memperhatikan keadaan sekeliling, “ini bagus sekali, aku belum pernah kemari”. Elif mengingatkan, “kau belum melihat apa-apa disini”. Omer mengangkat kedua tangannya, “baiklah, hari ini aku menyerahkan semuanya padamu”. Elif tersenyum lebar.

Elif kemudian bergaya bak pemandu wisata bagi seorang Omer, “disini dikatakan bahwa Neskoi adalah jaman terbentuknya orang-orang Polania, kalau aku tidak salah ingat terbentuk pada tahun 1830-an, nama pelopornya ada disebutkan disana, kemudian nama itu diganti”. Omer memberikan pendapat, “sepertinya kau banyak tau”. Elif menjelaskan, “karena ini adalah tempat yang sangat aku sukai, makanya aku sengaja mencari tau, kau lihat saja, arsiteknya agak berbeda”.

Omer memperhatikan bangunan yang mereka lewati, “ya kau benar. Apa yang orang-orang bisa lakukan disini, apa jalan-jalan saja?”. Elif menambah penjelasannya, “disini banyak tempat penginapan yang bagus, restoran, tempat piknik, di belakang ada perkebunan yang luas, mereka juga datang untuk menunggang kuda, bermain painbowl dan biasanya mereka datang kesini akhir pekan”. Omer mendapat sedikit gambaran tempat yang sedang mereka jelajahi, “hmm, itu bagus”. Elif menguatkan, “bagus”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :