Ashoka: Sukses Menampilkan Drama Kisah Cinta Yang Unik di Pesta Ulang Tahun Bindusara, Memancing Khorasan Dengan Wajah Dharma


Penari latar menepi, tinggal pemeran Sati dan Shiva yang bersemedi diatas panggung. Penyanyi mengalunkan syair, “melihat Shiwa bersemedi, hatinya tertarik padanya. Shiwa juga tak dapat mengendalikan dirinya melihat Sati”. Shiwa yang sedang bersemedi membuka matanya. Dharma dengan tersenyum melirik Bindusara yang duduk di singgasana dengan wajah penuh senyum. Penyanyi terus melatunkan kisah, “beginilah ikatan tak terputuskan alam ini terjalin”.

Ashoka tersenyum menatap pertunjukan, Khorasan tetap serius. Ahankara tersenyum, Sushima juga tersenyum, Siyamak, Dhrupad juga tersenyum penuh semangat. Penyanyi dengan penuh perasaan terus melantunkan syair, “mari kita agungkan kisah cinta ini”. Penari latar sudah kembali ke panggung, mereka menaburkan bunga ke arah Sati dan Shiwa yang sedang berputar sambil berpegangan tangan dengan leher yang sudah dikalungi bunga, menandakan mereka sudah melangsungkan pernikahan.

Ashoka #166 04 episode

Ashoka melompat ke sudut kanan panggung, memberikan narasi, “kisah cinta ini terbentuk sedemikian indah, dimana doa dua orang kekasih yang mengalir dengan deras, namun tiba saatnya doa dua orang kekasih berhenti mengalir, Shiwa marah pada Sati”, kemudian berputar menyingkir keluar dari panggung ke tempat ia berdiri memperhatikan pertunjukan.

Pemeran Sati membungkuk di depan Shiwa, penyanyi melantunkan syair, “setelah hubungan terjalin, Shiwa pergi bertapa”. Wajah Bindusara mulai terlihat sedih di singgasananya, begitu juga dengan Dharma di tempat ia menonton. Pemeran Shiwa melepaskan pegangan tangan Sati dari tangannya, penyanyi melantunkan dalam syair, “berjanji pada Sati akan kembali lagi”.

Melihat adegan pertunjukan sendratari di panggung, tatapan Yang Mulia Bindusara seperti melamun, ingatannya kembali ke masa disaat ia berpamitan dan berjanji pada Dharma, serta menyerahkan sebuah cincin. Ashoka melirik ke tempat ibunya berdiri menonton pertunjukan, ia bisa melihat dengan jelas, betapa ibunya yang menyembunyikan dirinya sebagai Dewi Dharma larut dalam cerita yang ditampilkan. Dharma yang agak tergagap, melirik ke arah Bindusara yang wajahnya juga tak kalah sedihnya.

Dharma menahan tangis menonton pertunjukan sendratari yang sedang ditampilkan, di pelupuk matanya malah ada bayangan saat dulu dia yang sedang hamil besar, berdiri di depan pagar sambil menatap cincin yang dipegangnya, penyair melantunkan, “Sati mengenang Shiwa setiap saat. Shiwa yang bersemedi melupakan segalanya”. Dharma yang menahan tangis menonton pertunjukan, kembali melirik ke arah Bindusara, yang sedang memperhatikan pemeran Shiwa yang bertapa dengan tatap sedih. Ashoka terus memperhatikan suasana hati lewat ekspresi wajah mereka. Ahankara yang menonton serius juga menatap panggung dengan sedih.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan