Ashoka: Meminta Restu Bindusara, Yang Mulia Menerima Hadiah Dari Orang-Orang Tersayang


Bindusara kembali menatap hadiah yang sebelumnya misterius itu, kepalanya menggeleng takjub, “bagus sekali. Sungguh aku tidak menyangka kalau panglima Mir punya sifat yang sebaik ini. Sumpah aku tidak menyangka. Terima kasih”. Khorasan menunjukkan wajah pongah mendapatkan sanjungan itu. Ashoka semakin geram menatapnya. Bindusara berkata pada Khorasan, “tapi maukah kau melakukan sesuatu untukku”. Mir dengan cepat mengangguk, “tentu”. Bindusara menyuruh, “tolong kau letakkan patung ini dikamarku”. Khorasan menyanggupi, “baiklah Yang Mulia”, kemudian menoleh ke belakang, Helena tersenyum senang, memberi isyarat lewat gerakan mata. Khorasan mengangguk tipis. Niharika menarik nafas lega.

Ashoka membathin melihat ulah Khorasan sambil menahan sesak di dadanya, “kini pertarungan demi kebenaran akan memasuki tahap yang paling penting, sudah tiba saatnya membuka kebohongan Mir Khorasan, dan memberikan kembali segala kehormatan ibu yang sudah direnggut sejak dulu”, kemudian berlari dari tempat itu. Khorasan yang kebetulan menoleh ke belakang melihat Ashoka pergi. Helena yang juga mengawasi Ashoka dan melihat pergi begitu, langsung memberi isyarat. Khorasan langsung keluar.

Ashoka #164 episode 152 17

Ashoka melangkah lebar-lebar keluar ruangan. Sesampainya di dekat sebuah tiang, ia berhenti, menumpahkan rasa kesalnya dengan memukul tiang di dekatnya. Khorasan yang menguntit Ashoka menghampiri. Ashoka yang terbakar rasa marah tak menyadari kehadiran Mir.

Khorasan menegur, “Ashoka”. Ashoka langsung membalikkan badannya dengan wajah biasa lagi. Khorasan ingin tau dengan sikap Ashoka, “ada apa?”. Ashoka menjawab dengan mimik kesal, “tidak ada apa-apa, kenapa?”. Khorasan menyipitkan matanya, “kau sembunyikan sesuatu, ayo cepat, beritau aku”. Ashoka menatap Mir tajam, “yang ingin ku beritaukan, ternyata kau sudah tau duluan”. Khorasan tak mengerti, “apa maksudmu, ayolah”.

Ashoka marah pada Mir, “hal yang mana bagaimana! Yang kau dengar diam-diam ketika aku bicara dengan putri Ahankara. Kau bilang kau tidak mau menguntit diriku lagi, tetapi aku melihat, bagaimana kau diam-diam mendengar pembicaraan kami dari balik pohon. Kalau aku ingin menipumu, aku pasti segera menemui Yang Mulia, begitukan? Tapi aku tidak melakukan itu, tapi tetap saja kau tidak percaya padaku. Kalau begitu, kita temui saja Yang Mulia dan katakan padanya bahwa aku sudah menipumu, penjarakan saja kejahatan, semuanya akan berakhir disitukan. Ayo kita pergi kesana”.

Ashoka #164 episode 152 19

Khorasan langsung menahan bahu Ashoka, “heh, Ashoka, Ashoka”. Ashoka yang memang hanya menggertak Khorasan menghentikan langkah sambil menatap Khorasan. Khorasan mencoba menunjukkan sikap tenang dan pura-pura baik, “aku yakin padamu Ashoka, kau hebat, orang yang jujur”.

Ashoka mana percaya dengan taktik Khorasan begitu saja, “lalu kenapa kau mengikuti aku”. Khorasan berfikir sebentar, kemudian memberi alasan, “aku bukan mengikutimu, sebenarnya aku sedang mengujimu”. Ashoka tetap menunjukkan sikap tak senang untuk membuat Khorasan semakin penasaan, “menguji?! Berarti, kau masih merasa curiga padaku!”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan