Ashoka #163 16 episode

Helena menjelaskan juga dengan serius, “tidak akan ada yang keberatan bila aku melakukan semua hal ini. Tidak akan ada yang curiga, karena semuanya menganggap kalau aku adalah wujud Dewi. Dan bila pemerintah Magadh berada ditanganku, maka semuanya akan aku permainkan sebagai boneka yang ada ditanganku. Noor, dalam hidupku, aku tidak pernah menghentikan hal seperti ini, tidak pernah”, dengan wajah mengeras.

Matahari sudah menyinari Magadh, Calata, Subrasi, Charumitra, Noor, Niharika dan Khorasan, semuanya berdiri berderet di depan ibu suri Helena yang duduk di kursi dibangkunya. Helena memberika pengarahan, “hari ini hari yang sangat penting untukku, pada hari ulang tahun putraku ini, kita semua akan memastikan agar dia bisa bahagia setiap saat”. Charumitra dan Subarsi tersenyum mendengar penjelasan Helena, sementara Noor mengernyitkan wajahnya. Calat mengangguk-angguk tersenyum.

Helena semakin bersemangat menjelaskan rencananya, “dan tidak sedetikpun, dia merasa kesepian. Hari ini aku harus menjadi yang paling dikenang di dalam kehidupan anakku”. Niharika melirik dua permaisuri yang tak tau rencana mereka. Khorasan menunjukkan wajah serius, begitu juga dengan Noor. Charumitra merespon Helena, “itulah yang akan terjadi ibu suri, katakan apa rencanamu”.

Helena tersenyum, memberi kesan seakan dia benar-benar ingin Bindusara bahagia di hari itu, “pertama-tama ketika dia bangun, kita jadikan pagi ini istimewa. Sebagai istri pertama, tentu saja kau yang akan membangunkannya, seperti sinar kemerahan yang terjadi dipagi hari”. Permaisuri Charumitra yang memakai pakaian bernuansa merah langsung tersenyum. Noor menunjukkan wajah kurang suka. Charumitra dengan wajah terus tersenyum dengan senang hati menerima tugas itu, “baik”, kemudian melangkah keluar ruangan.

Ashoka #163 12 episode

Sementara di ruangannya, Yang Mulia Bindusara sedang melakukan doa pagi, “puji Dewa Surya”. Permaisuri mendekat ke tempat berdirinya Bindusara, “aku ucapkan selamat ulang tahun Yang Mulia, semoga Yang Mulia panjang umur”. Bindusara tersenyum dan memegang bahu kanan Charumitra, “terima kasih permaisuri Charumitra”. Charumitra memberi isyarat dengan tangan kanannya agar Bindusara melanjutkan langkahnya keluar ruangan.

Dengan melangkah beriringan dengan Charumitra, Bindusara menuju pintu ruangannya, yang mana lantai di dekat tangga sudah ditaburi bunga. Bindusara berhenti, kembali tersenyum pada Charumitra, “bagus sekali”. Charumitra membiarkan Bindusara melangkah duluan melewati pintu.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :