Ashoka #163 10 episode

Sementara itu, di ruangannya, ibu suri Helena menumpahkan rasa sedihya dengan memegang kain putih yang masih terdapat bekas darah Justin yang saat itu menempel di telapak tangannya, saat itu dia tidak ingin mencuci tangannya, ia ingin membiarkan darah Justin mengering ditangannya, Noor lah membawakan kain putih itu dan menempelkan telapak tangannya yang berlumur darah ke kain itu.

Ibu suri Helena membawa kain itu ke dadanya, kemudian menempelkan tangan kanannya ke bekas darah yang ada dikain itu, menangis, “kalau apa yang dikatakan Ashoka pada Ahankara ternyata benar, maka sumpahku selama ini tidak akan terpenuhi. Seperti tanganku yang sudah berlumuran darah putraku sendiri, sama seperti itu, tangan Bindusara secepatnya pasti akan berlumuran darah dari istri dan dari anaknya. Besok Bindusara akan merasakan hal yang sama, sama seperti yang kurasakan ketika ingin menyelamatkan Justin”, terisyak dengan wajah penuh dendam.

Noor melangkah masuk, mendekati tempat Helena duduk. Noor melihat ke kain yang dipegang Helena. Helena kembali membawa kain itu ke dadanya dengan penuh kesedihan. Noor bersuara, “apa yang kau pikirkan ketika memenuhi permintaan terakhir Justin”. Wajah Helena yang menangis, melirik Noor, kemudian wajah sedihnya perlahan mengeras, terbayang pertemuannya dengan Justin dulu yang tidak mau ia selamatkan dengan alasan, ‘coba pikir Mitira, cucumu, putraku akan duduk disinggasana, dia akan memakai mahkota Kerajaan Magadh. Dialah yang akan memenuhi impianmu dan juga impianku’. Mata ibu suri Helena mengerjap.

Ashoka #163 11 episode

Noor dengan wajah sedih berkata, “kau telah berjanji pada Justin bahwa kau akan memberi singgasana pada Siyamak. Kau sudah memastikan bahwa siapapun yang menduduki tahta kerajaan setelah Bindusara, itu pasti putraku Siyamak. Tapi, kalau sampai besok Yang Mulia mengumumkan bahwa Sushimalah sebagai penguasa, lalu apa yang bisa aku lakukan?!”.

Helena menjawab kegelisahan Noor dengan tenang, “mengumumkan jadi pewaris dan menjadi pewaris adalah hal yang sangat berbeda. Besok, pada hari ulang tahunnya Bindusara, kita akan hadirkan permaisuri kesayangannya, yaitu Dharma dan putranya pengkhianat itu dalam bentuk sebuah hadiah untuknya. Dengan mendapatkan itu, Bindusara akan merasa sangat terguncang, sampai dia kehilangan kesadarannya, dia akan merasakan kehilangan keseimbangan mental. Aku benar-benar tidak tega melihat putraku dalam keadaan seperti itu, dan karena itulah, dengan menjalankan kewajiban seorang ibu, aku akan mengambil alih semua urusan kerajaan”. Noor mendengar dengan wajah serius.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :