Sementara itu, jauh dari lokasi mercusuar, di rumah keluarga Denizer, Asli, putri tertua menggoyangkan sepatunya dengan wajah kaku. Zerrin, ibunya, menunjukkan wajah sedih bercampur kesal. Nilufer, putri bungsu keluarga, menahan rasa terguncang yang dirasakannya. Pengacara membalik-balik berkas yng dipegangnya. Tanner, si menantu, yang berdiri tak jauh, dekat kaca pembatas ke taman, mengusap kepalanya dengan wajah bingung, kemudian duduk dislaah satu kursi, bergabung dengan yang lain.

Zerrin bicara, “bagaimana bisa, bagaimana bisa perusahaan sebesar ini tiba-tiba bangkrut, aku tidak mengerti”. Asli nyahut dengan kesal, “kalau dia berbuat salah, ya salah. Lihat yang dia lakukan pada kita sebelum dia pergi”. Nilufer memastikan pada pengacara keluarganya itu, “o, Segmen, saat kau bilang bangkrut, rumah dan mobil tetap milik kami kan? Hanya perusahaan saja yang diambilkan?”. Segmen menjelaskan, “sayangnya tidak, semuanya akan disita, kami akan mengajukan penundaan kebangkrutan”. Taner juga bertanya, “apa tidak ada jalan hukum yang bisa ditempuh”. Segmen menggeleng.

Cinta Elif Kara Para Ask #1 86

Taner bergumam, “jadi semuanya sudah berakhir”. Zerrin meniup mulutnya. Nilufer mencari tau lagi, “bagaimana dengan perusahaan Elif”. Segmen menjawab datar, “itu juga sama”. Zerrin semakin tak mengerti, “tapi apa salah Elif. Sistem macam apa ini”. Asli memijat-mijat lehernya.

Elif muncul di ruangan. Nilufer langsung menyambutnya dengan tangisan dan memeluknya, “Elif, kita bangkrut”. Elif mengusap rambut adiknya itu, “aku tau sayang, aku baru tau hari ini. Andai aku tau sebelumnya, mungkin aku bisa melakukan sesuatu”. Ia menatap ibunya, “ma’afkan aku”. Zerrin merespon, “kenapa kau meminta ma’af Elif, ini bukan salahmu, seharusnya ayahmu menceritakan ini sejak lama”.

Elif melepaskan pelukannya pada Nilufer, menghampiri pengacara, “selamat datang Segmen”. Segmen bangkit, memeluk Elif, “terima kasih”. Asli memperhatikan. Elif membuka baju hangatnya, duduk diantara Zerrin dan Asli, memeluk Zerrin, “ibu”. Asli bertanya pada pengacara, “bagaimana dengan properti yang ditinggalkan ayah untuk ibu, itu masih adakan?”. Zerrin yang menjawab, “aku sudah pindahkan semuanya, aku rasa semuanya sudah dijual”. Segmen membenarkan. Asli menunjukkan wajah semakin kecewa terhadap ayahnya.

Zerrin berkata, “semua yang dihasilkan selama puluhan tahun dia jual dan dihabiskan dalam waktu satu hari”. Asli meniup nafas. Taner memijat jari-jarinya. Elif memastikan kondisi Zerrin, “ibu baik-baik saja?”. Zerrin mengangguk.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :