Ashoka: Dharma Mengadu Pada Chanakya, Takut Putranya Mengetahui Kebenaran. Chankya Meyusun Rencana


Ashoka #152 17 episode

Siyamak tersenyum mendengar kesimpulan Ashoka yang dikiranya masih sama dengan Ashoka yang dulu, yang masih mencaritau keberadaan ayahnya, “kau ini tetap bodoh Ashoka, ini adalah masalah singgasana! Singgasana orang yang terkuat di seluruh India ini”. Ashoka hanya melirik masam ke arah singgasana yang dijelaskan Siyamak, “dan kalau masalahnya singgasana, tidak ada saudara yang tidak mau mencelakai saudaranya”.

Ashoka spontan bergumam, “karena itulah aku tidak mau duduk di singgasana”, sambil melengos dari singgasana yang mereka bicarakan. Siyamak bengong menatap Ashoka. Ashoka menyadari kekeliruan spontanitasnya, ia pun menunjukkan sikap biasa pada Siyamak yang langsung menjelaskan, “bagimu mudah mengatakan ini, karena kau bukan keturunan bangsawan. Walaupun kau mau, tidak kemungkinan bagimu untuk duduk disana. Dan kalau ada kemungkinan, siapa saja akan rela melakukan apa saja untuk duduk disana. Hanya orang bangsawan yang memahami hal ini”.

Ashoka tetap dengan sifatnya, ia menjelaskan pada Siyamak dengan perumpamaan, “seperti satu jari di sebuah tangan tidak ada yang sama, sama seperti itu, tidak setiap kakak itu sama. Siapa tau, kakakmu yang baru itu memberikan perlindungan dan dukungannya agar kau yang bisa duduk di tahta”.

Siyamak tersentuh dengan ucapan Ashoka, “kalau saja kakakku yang baru itu punya sifat seperti kau meski seujung jari, aku akan rela mati demi kakak seperti itu”. Ashoka jadi terharu, yang dikira Siyamak, sebagai bentuk simpati padanya, padahal, Ashoka benar-benar seorang kakak. Ashoka memeluk Siyamak erat, air matanya menetes saat kepalanya dibahu Siyamak.

Ashoka #152 18 episode

Perasaan haru yang dirasakan Ashoka, langsung berubah jadi wajah mengernyit saat menyadari ada bayangan di pintu yang sedang mengawasinya. Ashoka menunjukkan wajah berfikir begitu memastikan kalau yang sedang mengawasinya adalah Mir Khorasan, kakeknya Siyamak, musuh ibu dan ayahnya.

Khorasan serius memperhatikan Ashoka yang sedang memeluk Siyamak. Ashoka menarik nafas dalam, melepaskan pelukannya, kemudian mengangkat ujung selendangnya. Khorasan memperhatikan dengan wajah mengernyit saat ada kertas yang jatuh dari selendang Ashoka. Ashoka dengan natural mengusap pipinya yang ada air mata dengan ujung selendang. Siyamak melihat kertas yang jatuh itu. Ashoka dengan cepat mengambilnya.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan