Ashoka: Dharma Mengadu Pada Chanakya, Takut Putranya Mengetahui Kebenaran. Chankya Meyusun Rencana


Ashoka yang mendengar penjelasan Chanakya dengan serius, menarik nafas dalam, “sejak bertahun-tahun ibuku lari gara-gara Mir Khorasan. Sekarang giliran Mir untuk lari, apa yang sudah dialami oleh ibuku, Mir Khorasan, harus mengalami lebih dari itu”. Chanakya menatap dengan tatap sangat percaya akan kemampuan Ashoka melaksanakan semua tekad yang diucapkannya itu.

Ashoka #152 09 episode

Hari sudah berganti, Dharma sudah bekerja di tempat hukuman tambahannya, kali ini dia membersihkan lantai di sekitar penggilingan dengan mendorong kotorannya dengan sapu. Dharma jongkok kelelahan, mengusap wajahnya yang berkeringat dengan selendangnya. Pengawas yang bertubuh gemuk langsung mendekat, “ayo, ayo, ayo kerja! Tidak boleh malas!”.

Dharma menunduk, mulai menyapu lagi, tapi lengannya yang memegang sapu terasa pegal, ia meringis sambil memegang lengan itu dengan tangan kirinya, kendi yang tergantung tepat diatas kepala Dharma yang sedang jongkok menyapu, talinya sudah sangat aus, Dharma tak menyadarinya, ia tetap menyapu. Saat tali yang mengikat kendi putus, ada tangan yang langsung menangkap kendi tersebut. Dharma mendongak dengan kaget, kendi yang hampir mengenai kepalanya itu ada yang menangkap, ia melihat ke samping, rupanya pemilik tangan itu adalah Ahankara yang tersenyum menatap Dharma.

Dharma berdiri, “putri?! Kau?”. Si pengawas gemuk langsung mendekat, “putri! Anda?”. Ahankara tersenyum ke arah si pengawas, “aku datang untuk membantunya”. Si pengawas berkomentar, “seorang putri tidak pantas membantu seorang pelayan seperti dia”.

Ashoka #152 10 episode

Ahankara menjawab dengan sifat aslinya yang bisa jutek, “kau juga tidak pantas untuk menasehati seorang putri, apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak. Kau pergilah dari sini!”. Si pengawas tanpa membantah lagi, langsung membalikkan badan.

Ahankara menatap Dharma, kemudian menaroh kendi yang ditangkapnya ke atas tumpukan karung. Dharma yang berdiri dengan cemas, berkata, “seharusnya kau tidak melakuan ini, yang dia katakan benar, kau adalah seorang putri”. Ahankara merespon dengan tenang, “kalau aku bukan putri, apa kau tidak akan melindungi ku dari pangeran Sushima? Kalau aku beritau Yang Mulia, yang salah itu bukan kau, tapi Sushima, seharusnya Sushima yang ada di tempat ini, bukan kau. Ini berarti, kau mendapatkan hukuman karena melindungiku, dan karena itu kau diam”.

Dharma menjelaskan pada Ahankara, “aku tidak menganggap ini sebagai hukuman putri, aku anggap ini sebagai pekerjaanku, dan aku senang bekerja”. Ahankara tersenyum, “kalau begitu, kenapa aku harus menjauhkan diri dari kesenangan ini”. Dharma memperhatikan Ahankara dengan wajah mengernyit. Ahankara hanya tersenyum, kemudian memperhatikan apa yang bisa dilakukannya. Ahankara melihat di dekat tiang ada ember berisi air dan sapu.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan

Satu respons untuk “Ashoka: Dharma Mengadu Pada Chanakya, Takut Putranya Mengetahui Kebenaran. Chankya Meyusun Rencana

Tinggalkan Tanda Kehadiran Mu Kawans? :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.