Ashoka: Dharma Mengadu Pada Chanakya, Takut Putranya Mengetahui Kebenaran. Chankya Meyusun Rencana


Sembari Dharma bicara, Chanakya mengeluarkan racun ular yang dipegangnya ke wadah kaca. Setelah selesai, tiba-tiba ular itu mematuk punggung tangannya, Chankya terkejut, Dharma kaget, “Acharya! Kau baik-baik saja?”. Chanakya menatap Dharma yang sangat cemas, “kenapa kau takut Dewi. Sebelum ular ini mencelakai aku, aku sudah keluarkan racun dari ular ini”. Chanakya memegang ular ditangannya agak kuat, Dharma semakin tercengang. Chanakya menjelaskan maksud dari tindakannya, “sama seperti ini, hal inilah yang akan aku lakukan pada musuh-musuh Magadh ini Dewi”. Dharma menatap Chanakya tak mengerti.

Chanakya menjelaskan, “sebelum mereka menyerang Ashoka, atau menyerang dirimu Dewi, aku akan membuat mereka tidak berdaya lagi”, sambil mengembalikan ular yang dipegangnya ke dalam wadah. Dharma menjelaskan kecemasannya, “hari ini pertama kalinya, aku melihat keresahan dimata Ashoka, aku melihat, sebuah masalah, tapi bersama dengan itu, aku juga melihat sebuah tekad yang kuat. Dia akan menyatukan bumi dan langit untuk mencari putra Yang Mulia! Lalu lihatlah keanehan ini, bahwa yang sedang dia cari, putranya Yang Mulia adalah dirinya sendiri”.

Chanakya mengingatkan Dharma, “bukankah ini aturan dunia. Bahwa kita pergi mencari kebenaran dan kebenaran menampakkan dirinya secara otomatis Dewi”. Dharma menarik nafas dalam, apa yang dikatakan Chanakya, dia sudah paham benar, tapi kegelisahannya tetap membuatnya tak tenang.

Ashoka #152 04 episode

Sementara itu, disudut lain Pataliputra, Helena, Noor dan Mir Khorasan, sedang melangkah mendekat dan memperhatikan Niharika yang sedang menyulut api ke tiga tumpukan kayu, seperti sedang melakukan ritual kremasi untuk tiga orang. Noor langsung bersuara, “apa yang kau lakukan?!”. Niharika tetap diam, ia melangkah ke tumpukan kayu ketiga dan menyulutnya, api menyala besar. Niharika menatap obor penyulut yang diangkat ditangannya, kemudian berkata dengan nada dingin, “membakar jasad, atas nama kalian bertiga”.

Noor dan Khorasan saling tatap, Helena melangkah lebih dekat ke tempat Niharika berdiri, mengambil obor yang dipegang Niharika, melemparnya ke tanah. Helena kemudian menatap Niharika, “apa yang terjadi padamu, apa perlu kau bersandiwara seperti ini! Hal ini akan membuat orang semakin memperhatikan kita!”. Niharika mendelik pada Helena.

Noor ikut mendekat, “kalau ada yang melihat kita bersama disini, maka itu akan menimbulkan masalah bagi kita!”. Niharika menjawan dengan gaya angkuh, “kalian semuanya mencemaskan hal-hal yang kecil, bagaimana dengan badai yang akan menimpa kita?”. Helena, Khorasan dan Noor mengernyitkan wajah, tak mengerti apa yang dimaksud Niharika.

Niharika meneruskan ucapannya, “pada saat ibunya membawa putra Yang Mulia kehadapannya, ibunya pasti akan tau, jika dalam keadaan itu aku yang terjebak, maka aku tidak akan membiarkan kalian semua!”. Khorasan, Noor, menatap Niharika. Niharikan balas menatap kedua orang itu. Helena memberitau Niharika, “tapi Ashoka tidak tau apapun, aku sendiri yang bertanya pada Bindusara. Ashoka hanya memberitaunya, bahwa seorang pencatat memberitau dia hal ini!”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :

Iklan