Sushima bicara dengan kesal, “aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan! Ada kau yang memintaku untuk duduk berpangku tangan! Dan ada ibu kandungku yang menamparku karena tidak berbuat apapun. Katakan padaku apa yang harus ku lakukan!”. Calata menjawab dengan tenang, “hanya menunggu saat yang tepat pangeran. Supaya kita bisa melangkah ke arah yang benar”. Sushima masih menunjukkan wajah kesal. Charumitra tetap menunjukkan sikap tidak salah dengan apa yang sudah dilakukannya pada Sushima sebelumnya.

Ashoka #151 19 episode

Sementara itu, Ashoka sedang berdiri memegang separuh patung wajah Dewi Dharma dengan wajah menunjukkan sedang berfikir, sambil menunggu seseorang. Terdengar suara Ahankara, “aku membuatmu menunggu terlalu lamakan”. Ashoka memutar posisi berdirinya ke arah Ahankara sambil menyembunyikan potongan patung yang dipegangnya di belakan tubuhnya.

Ahankara menjelaskan keterlambatannya pada Ashoka, “tadi, adikku itu, entah kenapa dia menangis, menangis terus, aku, harus menenangkannya dulu, makanya aku terlambat”. Ashoka mengangguk mengerti. Ahankara memperhatikan sikap Ashoka yang menyembunyikan sesuatu, ia penasaran, “apa yang kau sembunyikan?”.

Perlahan, Ashoka mengeluarkan potongan patung Dewi Dharma, menunjukkannya ke Ahankara. Ahankara memperhatikan patung wajah yang hanya separoh itu, wajahnya berfikir, “aku, aku merasa seperti pernah melihat dia?”. Ashoka menjelaskan, “ini permaisuri Dharma”. Ahankara menatap Ashoka agak lama. Ashoka jadi bertanya dengan sikap Ahankara yang tertegun itu, “ada apa?”. Ahankara tersenyum, “tidak ada apa-apa”. Ashoka mencoba menebak, “atau masalah pangeran Sushima?”.

Ashoka #151 20 episode

Ahankara kembali tersenyum, “tidak, sudahlah. Tidak usah dibicarakan. Hari ini, setelah sekian lama aku bisa melewatkan waktu bersamamu, dan aku tidak mau buang-buang waktu dengan membicarakan orang lain”. Ashoka tersenyum tipis, memaklumi maksud Ahankara. Ahankara mengalihkan topik pembicaraan, “baiklah, ceritakan padaku tentang putra baru Yang Mulia itu. Sejak aku tau Yang Mulia punya seorang putra yang lain, sejak itu aku berfikir, bagaimana sifatnya, dan bagaimana wajahnya. Apa dia baik seperti Yang Mulia, atau jahat seperti Suhima?”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :